Bacaan I: 2Tim 1:1-8 "Janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita."
Atau Titus 1:1-5
Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-2a.2b-3.7-8.9-10a.c; Ul: 3 "Wartakanlah perbuatan ajaib Tuhan kepada semua bangsa."
Bait Pengantar Injil: Mzm 119:105 "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku."
Bacaan Injil: Luk 10:1-9 “Tuaian memang banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya."
Bait Pengantar Injil: Mzm 119:105 "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku."
Bacaan Injil: Luk 10:1-9 “Tuaian memang banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya."
Atau Mrk 4:26-34 "Kerajaan Surga seumpama orang yang menabur benih. Benih itu tumbuh, namun orang itu tidak tahu."
warna liturgi putih
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
Tradisi. Itu adalah kata yang luar biasa dalam kosakata Katolik kita. Tradisi. Saya tidak berbicara tentang tradisi seperti lontong Cap Go Meh pada 14 hari setelah Tahun Baru Imlek, meskipun saya sangat menyukainya. Saya berbicara tentang Tradisi dengan huruf T besar, yang sangat penting bagi kita sebagai umat Katolik. Kita melihatnya dalam perayaan hari ini.
Tradisi sederhananya berarti mewariskan. Mewariskan. Untuk mewariskan iman. Apa yang telah kita terima, kita wariskan. Jadi apa yang kita miliki? Lihat, kita memiliki Yesus yang mewariskan iman kepada seorang pria bernama Saul. Ingat kita memperingatinya itu kemarin? Pertobatan Santo Paulus. Kita memiliki Santo Paulus yang mewariskan iman kepada dua wanita. Banyak wanita, tetapi dua yang kita pikirkan hari ini. Lois dan Eunike.
Lois adalah nenek, Eunike adalah ibu dari orang-orang yang kepadanya, orang yang kepadanya mereka mewariskan iman, Santo Timotius. Jadi ada Tradisi dan orang-orang melihatnya masih berlanjut hingga hari ini. Kita terus mewariskannya. Apa yang telah kita terima, kita berikan. Itulah mengapa Gereja-gereja, saya berpikir hari ini, menurut Anda untuk apa kita memiliki sekolah-sekolah kita? Tradisi. Untuk mewariskan iman.
Para rasul mewartakan Injil dengan dua cara, yaitu secara lisan dan tertulis, dan yang lisan ini disebut Tradisi Suci. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian tentang Tradisi Suci, yang tidak terpisahkan dari Kitab Suci:
KGK 75 “Maka Kristus Tuhan, yang menjadi kepenuhan seluruh wahyu Allah yang Maha tinggi, memerintahkan kepada para Rasul, supaya Injil, yang dahulu telah dijanjikan melalui para nabi dan dipenuhi oleh-Nya serta dimaklumkan-Nya sendiri, mereka wartakan kepada semua orang, sebagai sumber segala kebenaran yang menyelamatkan serta sumber ajaran kesusilaan, dan dengan demikian dibagi-bagikan karunia-karunia ilahi kepada mereka” (DV 7).
KGJ 76 Sesuai dengan kehendak Allah terjadilah pengalihan Injil atas dua cara:
– secara lisan “oleh para Rasul, yang dalam pewartaan lisan, dengan teladan serta penetapan-penetapan meneruskan entah apa yang mereka terima dari mulut, pergaulan, dan karya Kristus sendiri, entah apa yang atas dorongan Roh Kudus telah mereka pelajari”;
– secara tertulis “oleh para Rasul dan tokoh-tokoh rasuli, yang atas ilham Roh Kudus itu juga membukukan amanat keselamatan” (DV 7).
KGK 77 “Adapun, supaya Injil senantiasa terpelihara secara utuh dan hidup di dalam Gereja, para Rasul meninggalkan Uskup-Uskup sebagai pengganti-pengganti mereka, yang ‘mereka serahi kedudukan mereka untuk mengajar'” (DV 7). Maka, “pewartaan para Rasul, yang secara istimewa diungkapkan dalam kitab-kitab yang diilhami, harus dilestarikan sampai kepenuhan zaman melalui penggantian, penggantian yang tiada putusnya” (DV 8).
KGK 78 Penerusan yang hidup ini yang berlangsung dengan bantuan Roh Kudus, dinamakan “Tradisi”, yang walaupun berbeda dengan Kitab Suci, namun sangat erat berhubungan dengannya. “Demikianlah Gereja dalam ajaran, hidup serta ibadatnya dilestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan dirinya seluruhnya, imannya yang seutuhnya” (DV 8). “Ungkapan-ungkapan para Bapa Suci memberi kesaksian akan kehadiran Tradisi ini yang menghidupkan, dan yang kekayaannya meresapi praktik serta kehidupan Gereja yang beriman dan berdoa.” (DV 8). 174, 1124, 2651.
KGK 79 Dengan demikian penyampaian Diri Bapa melalui Sabda-Nya dalam Roh Kudus tetap hadir di dalam Gereja dan berkarya di dalamnya: “Demikianlah Allah, yang dahulu telah bersabda, tiada henti-hentinya berwawancara dengan Mempelai Putera-Nya yang terkasih. Dan Roh Kudus, yang menyebabkan suara Injil yang hidup bergema dalam Gereja, dan melalui Gereja dalam dunia, menghantarkan Umat beriman menuju segala kebenaran, dan menyebabkan Sabda Kristus menetap dalam diri mereka secara melimpah (lih. Kol 3:16)” (DV 8).
KGK 80 “Tradisi Suci dan Kitab Suci berhubungan erat sekali dan terpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama” (DV 9). Kedua-duanya menghadirkan dan mendaya-gunakan misteri Kristus di dalam Gereja, yang menjanjikan akan tinggal bersama orang-orang-Nya “sampai akhir zaman” (Mat 28:20).
KGK 81 “Kitab Suci adalah pembicaraan Allah sejauh itu termaktub dengan ilham Roh ilahi”.”Dan Tradisi Suci, menyalurkan secara keseluruhan Sabda Allah, yang oleh Kristus Tuhan dan Roh Kudus dipercayakan kepada para Rasul. Tradisi menyalurkan Sabda Allah kepada para pengganti Rasul, supaya mereka ini dalam terang Roh kebenaran dengan pewartaan mereka, memelihara, menjelaskan, dan menyebarkannya dengan setia” (DV 9).
KGK 82 “Dengan demikian maka Gereja”, yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik Tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama” (DV 9).
KGK 83 Tradisi yang kita bicarakan di sini, berasal dari para Rasul, yang meneruskan apa yang mereka ambil dari ajaran dan contoh Yesus dan yang mereka dengar dari Roh Kudus. Generasi Kristen yang pertama ini belum mempunyai Perjanjian Baru yang tertulis, dan Perjanjian Baru itu sendiri memberi kesaksian tentang proses tradisi yang hidup itu. Tradisi-tradisi teologis, disipliner, liturgis atau religius, yang dalam gelindingan waktu terjadi di Gereja-gereja setempat, bersifat lain. Mereka merupakan ungkapan-ungkapan Tradisi besar yang disesuaikan dengan tempat dan zaman yang berbeda-beda. Dalam terang Tradisi utama dan di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, tradisi-tradisi konkret itu dapat dipertahankan, diubah, atau juga dihapus.
KGJ 76 Sesuai dengan kehendak Allah terjadilah pengalihan Injil atas dua cara:
– secara lisan “oleh para Rasul, yang dalam pewartaan lisan, dengan teladan serta penetapan-penetapan meneruskan entah apa yang mereka terima dari mulut, pergaulan, dan karya Kristus sendiri, entah apa yang atas dorongan Roh Kudus telah mereka pelajari”;
– secara tertulis “oleh para Rasul dan tokoh-tokoh rasuli, yang atas ilham Roh Kudus itu juga membukukan amanat keselamatan” (DV 7).
KGK 77 “Adapun, supaya Injil senantiasa terpelihara secara utuh dan hidup di dalam Gereja, para Rasul meninggalkan Uskup-Uskup sebagai pengganti-pengganti mereka, yang ‘mereka serahi kedudukan mereka untuk mengajar'” (DV 7). Maka, “pewartaan para Rasul, yang secara istimewa diungkapkan dalam kitab-kitab yang diilhami, harus dilestarikan sampai kepenuhan zaman melalui penggantian, penggantian yang tiada putusnya” (DV 8).
KGK 78 Penerusan yang hidup ini yang berlangsung dengan bantuan Roh Kudus, dinamakan “Tradisi”, yang walaupun berbeda dengan Kitab Suci, namun sangat erat berhubungan dengannya. “Demikianlah Gereja dalam ajaran, hidup serta ibadatnya dilestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan dirinya seluruhnya, imannya yang seutuhnya” (DV 8). “Ungkapan-ungkapan para Bapa Suci memberi kesaksian akan kehadiran Tradisi ini yang menghidupkan, dan yang kekayaannya meresapi praktik serta kehidupan Gereja yang beriman dan berdoa.” (DV 8). 174, 1124, 2651.
KGK 79 Dengan demikian penyampaian Diri Bapa melalui Sabda-Nya dalam Roh Kudus tetap hadir di dalam Gereja dan berkarya di dalamnya: “Demikianlah Allah, yang dahulu telah bersabda, tiada henti-hentinya berwawancara dengan Mempelai Putera-Nya yang terkasih. Dan Roh Kudus, yang menyebabkan suara Injil yang hidup bergema dalam Gereja, dan melalui Gereja dalam dunia, menghantarkan Umat beriman menuju segala kebenaran, dan menyebabkan Sabda Kristus menetap dalam diri mereka secara melimpah (lih. Kol 3:16)” (DV 8).
KGK 80 “Tradisi Suci dan Kitab Suci berhubungan erat sekali dan terpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama” (DV 9). Kedua-duanya menghadirkan dan mendaya-gunakan misteri Kristus di dalam Gereja, yang menjanjikan akan tinggal bersama orang-orang-Nya “sampai akhir zaman” (Mat 28:20).
KGK 81 “Kitab Suci adalah pembicaraan Allah sejauh itu termaktub dengan ilham Roh ilahi”.”Dan Tradisi Suci, menyalurkan secara keseluruhan Sabda Allah, yang oleh Kristus Tuhan dan Roh Kudus dipercayakan kepada para Rasul. Tradisi menyalurkan Sabda Allah kepada para pengganti Rasul, supaya mereka ini dalam terang Roh kebenaran dengan pewartaan mereka, memelihara, menjelaskan, dan menyebarkannya dengan setia” (DV 9).
KGK 82 “Dengan demikian maka Gereja”, yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik Tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama” (DV 9).
KGK 83 Tradisi yang kita bicarakan di sini, berasal dari para Rasul, yang meneruskan apa yang mereka ambil dari ajaran dan contoh Yesus dan yang mereka dengar dari Roh Kudus. Generasi Kristen yang pertama ini belum mempunyai Perjanjian Baru yang tertulis, dan Perjanjian Baru itu sendiri memberi kesaksian tentang proses tradisi yang hidup itu. Tradisi-tradisi teologis, disipliner, liturgis atau religius, yang dalam gelindingan waktu terjadi di Gereja-gereja setempat, bersifat lain. Mereka merupakan ungkapan-ungkapan Tradisi besar yang disesuaikan dengan tempat dan zaman yang berbeda-beda. Dalam terang Tradisi utama dan di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, tradisi-tradisi konkret itu dapat dipertahankan, diubah, atau juga dihapus.
St. Timotius dan St. Titus keduanya adalah pemimpin penting Gereja perdana, sebagai mereka yang pertama kali diangkat dan dipilih menjadi pemimpin Gereja, uskup pertama. Mereka adalah orang-orang yang ditunjuk oleh para Rasul untuk membantu pengelolaan dan tata kelola Gereja, yang pada saat itu telah menyebar dengan cepat ke banyak kota besar, kecil, dan desa di seluruh kawasan Mediterania dan sekitarnya. Dengan semakin banyaknya orang yang beriman dan dibaptis, semakin besar pula kebutuhan akan lebih banyak gembala dan pembimbing dalam iman mereka. Mengapa menurut Anda kita memiliki begitu banyak calon dan katekumen yang ingin menjadi Katolik pada Malam Paskah? Kita mewariskan iman. Tradisi.
Pada masa dan zaman ini, terdapat kebutuhan yang semakin besar bagi Gereja untuk memiliki hamba-hamba Tuhan yang setia dan berdedikasi, yang melaluinya Allah dapat melakukan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib, memanggil semakin banyak umat-Nya menuju keselamatan dan penebusan dalam hidup-Nya. Kita membutuhkan lebih banyak imam dan uskup yang berbakti, mereka yang bersedia meluangkan waktu, tenaga dan perhatiannya, untuk memanggil umat Tuhan kembali kepada-Nya melalui pertobatan, dan mengabdikan diri mereka sepenuh hati kepada-Nya.
Semakin sulit menemukan orang-orang yang mau memberikan segalanya kepada Tuhan, karena godaan demi godaan, silih berganti, selalu mengintai untuk menggoda semakin banyak remaja putra yang terpanggil oleh Tuhan. Jika kita sebagai umat Katolik tidak memberikan dukungan kepada mereka, maka tidak mengherankan jika semakin banyak masalah yang dihadapi dalam pencalonan imam dan kehidupan beragama.
Semoga Tuhan memberkati dan melindungi para gembala kita semua, agar mereka dapat meneladani teladan para Rasul dan murid-murid Tuhan, khususnya St. Timotius dan St. Titus, dalam mengabdi kepada-Nya dan umat Allah. Semoga Tuhan membangkitkan dalam hati kita keinginan yang semakin kuat untuk mencintai-Nya dan mengabdikan diri kita kepada-Nya, hari demi hari. St Timotius dan St Titus, doakanlah kami. Amin.
Dan sekarang marilah kita memohon kepada Allah Bapa kita untuk membantu kita dalam segala kebutuhan kita.
Marilah kita berdoa bagi Gereja: Semoga melalui rahmat Tuhan semua orang Kristen dapat dipersatukan. Marilah kita berdoa.
Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
Bagi dunia dewasa ini, semoga Bapa mengutus para misionaris untuk membawa kabar baik keselamatan kepada semua orang. Marilah kita berdoa.
Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
Bagi mereka yang berjuang dengan tantangan kesehatan mental, semoga Bapa menguatkan mereka dan memberi mereka kesembuhan dan pemulihan. Marilah kita berdoa.
Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
Bagi semua yang hadir dalam pertemuan ini dan yang berkumpul di begitu banyak tempat, semoga rahmat Ekaristi menopang dan memperkaya iman kita. Marilah kita berdoa.
Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
Bagi jiwa-jiwa orang beriman yang telah meninggal, semoga Kristus mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka dan menerima mereka ke dalam Kerajaan Surga. Marilah kita berdoa.
Allah Bapa yang Maha Pengasih, dengarkanlah doa dan permohonan yang telah kami panjatkan dan kabulkanlah sesuai dengan kehendak-Mu yang kudus. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin. (TD/LUMEN CHRISTI)




