| Home | Indonesian Papist | Renungan Pagi| Doa Umat Misa Harian | Privacy Policy | Support Lumen Christi |



Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

September 25, 2026

Sabtu, 26 September 2026 Hari Biasa Pekan XXV


Bacaan I: Pkh 11:9-12:8 "Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum debu kembali menjadi tanah seperti semula, dan roh kembali kepada Allah."
      

Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-4.5-6.12-13.14.17; R:1 "Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun."

Bait Pengantar Injil: 2Tim 1:10b "Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil."

Bacaan Injil: Luk 9:43b-45 "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya."
       
warna liturgi hijau  

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
St. Michael & St. Mary Stillwater, MN Catholic Church     
    
    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, dalam Mazmur 90:10 mengatakan bahwa masa hidup kita adalah tujuh puluh tahun, dan delapan puluh tahun bagi mereka yang kuat. Berkat layanan kesehatan modern dan suplemen, rata-rata usia harapan hidup bahkan bisa melampaui delapan puluh tahun. Namun, panjangnya usia tidak selalu berarti kualitas hidup yang baik atau kebahagiaan hidup. Masa muda mungkin dipenuhi dengan semangat dan petualangan, yang kemudian diikuti oleh masa-masa penuh pencapaian dan kepuasan. Akan tetapi, keceriaan dan rasa percaya diri itu tidak bertahan seumur hidup.
 
Bacaan pertama memberikan pengingat yang serius: Masa muda—masa saat rambut masih hitam—adalah kesia-siaan. Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum datangnya masa-masa sulit dan tahun-tahun di mana engkau berkata, "Aku tidak lagi menikmatinya." Ini adalah pengingat yang nyata tentang kenyataan hidup: sebagaimana matahari terbit di pagi hari dan segalanya tampak cerah serta segar, matahari pun akan terbenam dan kegelapan malam akan tiba. 
 
Dan dalam Injil, ketika semua orang kagum akan segala perbuatan-Nya, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya tentang penderitaan yang menanti-Nya. Sebagaimana kehidupan di dunia ini memiliki permulaan, kehidupan pun akan memiliki akhir. Yang terpenting bukanlah berapa lama kita hidup, melainkan seberapa bermakna hidup yang kita jalani dalam tahun-tahun tersebut. Bersama Yesus, kita tahu bahwa kita akan memperoleh kehidupan—baik di dunia ini maupun di kehidupan yang akan datang.

September 24, 2026

Support lumenchristi.id

Terima kasih sudah menyediakan waktu sejenak untuk merenungkan kebaikan Tuhan bersama lumenchristi.id. Apabila sapaan Sabda Tuhan hari ini memberkati dan meneguhkan hati Anda, kami mengundang Anda untuk ikut serta mendukung pelayanan ini.

Setiap persembahan kasih yang Anda salurkan melalui QRIS akan menjadi pelita yang mencerahkan langkah kami untuk menjangkau lebih banyak jiwa, mendekatkan mereka pada Kristus dan Gereja-Nya.

Doa kami senantiasa menyertai Anda dan keluarga. Tuhan Yesus memberkati.






 


Jumat, 25 September 2026 Hari Biasa Pekan XXV


Bacaan I: Pkh 3:1-11 "Untuk segala sesuatu di bawah langit ada waktunya."
    

Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-2.3-4 "Terpujilah Tuhan gunung batuku."

Bait Pengantar Injil: Mrk 10:45 "Anak Manusia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang."

Bacaan Injil: Luk 9:18-22 "Engkaulah Kristus dari Allah. Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan."
 
warna liturgi hijau
   
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
Siouxfall Diocese
 


  Pada awal Ibadat Malam Paskah, lilin Paskah ditandai dengan tanda Salib. Setelah itu, huruf Yunani Alfa dan Omega juga ditorehkan di bagian atas dan bawah Salib tersebut. Kemudian, empat angka tahun yang sedang berjalan dicantumkan di antara lengan-lengan Salib itu. Saat hal-hal tersebut dilakukan, imam mengucapkan: Kristus dahulu dan sekarang, Awal dan Akhir, Alfa dan Omega; milik-Nyalah segala masa dan segala abad. Bagi-Nyalah kemuliaan dan kuasa sepanjang segala abad dan untuk selama-lamanya. Amin.

Setiap kali kita memikirkan tentang waktu, kita melihat jam dan berkata "tidak punya waktu", atau merasa waktu berlalu begitu cepat maupun begitu lambat. Namun, tanda-tanda pada lilin Paskah itu mengingatkan kita bahwa Yesus adalah Tuhan atas segala waktu. Segala sesuatu terjadi menurut waktu-Nya. 
 
Sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama: Segala yang dilakukan-Nya tepat pada waktunya. Segala sesuatu terjadi menurut waktu Allah, dan Dia menyatakan rencana serta kehendak-Nya bagi kita dalam perjalanan hidup kita. Kiranya kita menanggapi dorongan Allah ketika tiba saatnya bagi kita untuk melakukan apa yang Dia kehendaki dari kita.

September 23, 2026

Kamis, 24 September 2026 Hari Biasa Pekan XXV

Bacaan I: Pkh 1:2-11 "Tiada sesuatu yang baru di bawah matahari."

Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-4.5-6.12-13.14.17; R:1 "Ya Tuhan, Engkaulah tempat kami berlindung turun-temurun."

Bait Pengantar Injil: Yoh 14:6 "Akulah jalan, kebenaran dan hidup, sabda Tuhan. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Bacaan Injil: Luk 9:7-9 "Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal besar itu?"
 
warna liturgi hijau 
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini

Kehadiran Sang Sabda Kekal, Yesus Kristus, membawa pembaruan yang sejati ke dalam dunia. Melalui inkarnasi-Nya—penyatuan diri-Nya dengan kodrat manusiawi—sejarah dunia diubah sepenuhnya, hingga kita membagi waktu menjadi sebelum dan sesudah Kristus. Namun, sebelum pembaruan ini nyata, umat manusia sering kali bergumul dengan kefanaan, seperti yang disuarakan oleh penulis Kitab Pengkhotbah (Kohelet). Ia memandang dunia sebagai siklus yang terus berulang, di mana segala jerih payah di bawah matahari terasa seperti sebuah kesia-siaan. Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan untuk kesia-siaan ini adalah hevel, yang bermakna uap atau kabut. Masalah utamanya bukanlah bahwa hidup ini tanpa makna, melainkan berlalu begitu cepat dan tidak bisa digenggam. Seperti yang diungkapkan dalam Mazmur, hari-hari manusia bagaikan bayang-bayang yang melintas; sebuah kabut yang tak bisa kita rangkul dengan kedua tangan.

Di sinilah letak keindahan kasih Tuhan: Allah Sang Anak melangkah keluar dari kekekalan dan menjadi manusia agar Dia yang tak terlihat kini dapat kita lihat, sentuh, dan peluk. Kitab Pengkhotbah mengingatkan bahwa karena hidup kita hanyalah sehelai napas, kita harus menyadari kehadiran Allah selagi masih hidup, menjaga hati, dan mengingat bahwa hidup ini berujung pada-Nya. Kesadaran akan kefanaan inilah yang memaksa kita untuk mencari sesuatu yang lebih abadi.

lumenchristi.id 2026 - Situs ini menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan menggunakan situs ini, Anda telah menyetujui penggunaan cookies dari Kami.