| Home | Indonesian Papist | Renungan Pagi| Doa Umat Misa Harian | Privacy Policy | Support Lumen Christi |



Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

November 06, 2026

Sabtu, 07 November 2026 Hari Biasa Pekan XXXI


Bacaan I: Flp 4:10-19 "Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."

Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2.5-6.8a.9 "Berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan."

Bait Pengantar Injil: 2Kor 8:9 "Yesus Kristus telah menjadi miskin, meskipun Ia kaya, agar kalian menjadi kaya berkat kemiskinan-Nya."

Bacaan Injil: Luk 16:9-15 "Jika kalian tidak setia mengurus mamon durhaka, siapakah yang mau mempercayakan harta sejati kepadamu?"
     
warna liturgi hijau 
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
 
 
Sungguh mencengangkan, bahkan mungkin menggelitik, saat kita merenungkan hal-hal yang menjadi penyebab orang bertengkar atau bahkan berkelahi satu sama lain. Salah satu hal yang sering memicu pertengkaran adalah uang. Hal ini bisa terjadi dalam pembagian warisan, perdebatan mengenai siapa yang harus membayar tagihan, atau rasa tidak puas karena menerima bayaran yang terlalu kecil, dan sebagainya.

Namun, dalam Injil, Yesus justru mengajak kita untuk menggunakan uang—meskipun uang itu sendiri tidak luput dari noda duniawi—sebagai sarana untuk menjalin persahabatan. Secara praktis, ini berarti jika suatu masalah dapat diselesaikan dengan uang, maka gunakanlah uang tersebut untuk menyelesaikannya, alih-alih bertengkar atau berkelahi karenanya. Tentu saja, muncul pertanyaan mendasar: mengapa harus kita yang mengeluarkan uang tersebut, bukankah seharusnya semua pihak ikut menanggungnya secara adil dan setara?

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus menyajikan pandangan yang luhur mengenai penggunaan uang, baik untuk menyelesaikan masalah maupun untuk membantu sesama. Ia mengungkapkan kepada jemaat di Filipi bahwa hanya merekalah yang membantunya dengan memberikan sumbangan berupa uang. Namun, yang terpenting bukanlah nilai atau jumlah uang yang diberikan, melainkan kemurahan hati mereka—sesuatu yang diterima oleh Allah dan berkenan di hati-Nya. Oleh karena itu, baik saat kita menggunakan uang untuk menyelesaikan masalah maupun untuk membantu orang lain, marilah kita memandangnya sebagai persembahan kepada Allah, yang pada gilirannya akan melimpahkan berkat-Nya kepada kita.

November 05, 2026

Jumat, 06 November 2026 Hari Biasa Pekan XXXI


Bacaan I: Flp 3:17-4:1 "Kita menantikan Sang Penyelamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia."
         
Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5 "Mari kita pergi ke rumah Tuhan dengan sukacita."

Bait Pengantar Injil: 1Yoh 2:5 "Sempurnalah kasih Allah dalam hati orang yang mendengarkan Sabda Kristus."

Bacaan Injil: Luk 16:1-8 "Anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang."
 
warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
Siouxfall Diocese
 Sering kali, gagasan terbaik dan langkah paling berani justru lahir ketika kita terdesak oleh situasi yang sulit. Diperlukan sebuah keadaan darurat atau urgensi tertentu untuk memaksa kita mencoba jalan keluar yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Hal inilah yang tergambar dengan sangat jelas dalam kisah bendahara yang tidak jujur pada bacaan Injil hari ini. Dalam keputusasaannya menghadapi ancaman terhadap kelangsungan hidupnya, ia dipaksa untuk bertindak cepat dan menemukan kecerdikan luar biasa demi mengamankan masa depannya.

Meskipun perumpamaan tersebut kerap terasa membingungkan, pesan utama yang ingin disampaikan Yesus sebenarnya sangat tajam dan mendalam. Ia sengaja menyoroti betapa gigih dan mendesaknya upaya seorang anak dunia dalam menyelamatkan nasib sementaranya, seraya menantang kita sebagai anak-anak terang untuk memiliki semangat serta urgensi yang sama dalam memperjuangkan masa depan kekal kita. Tanpa kesadaran yang mendesak ini, kita berisiko jatuh pada teguran yang diungkapkan dalam bacaan pertama, di mana manusia perlahan-lahan menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya, membanggakan hal-hal yang seharusnya memalukan, dan menganggap bahwa urusan fana adalah satu-satunya hal yang penting di dunia ini.

Menghadapi kecenderungan duniawi tersebut, Rasul Paulus mengingatkan kita untuk tidak menyerah dan tetap berpegang teguh pada kesetiaan kepada Tuhan. Menariknya, urgensi spiritual yang ditekankan di sini bukanlah sebuah kepanikan atau kesibukan yang hiruk-pikuk demi menyongsong surga. Sebaliknya, urgensi itu justru mewujud dan teruji di tengah rutinitas keseharian yang tampak biasa bahkan monoton. Ketika kita mampu mempertahankan kesetiaan kepada Tuhan dalam hal-hal kecil, serta terus memusatkan hati kepada-Nya di balik kebosanan rutinitas hidup, pada titik itulah kita sejatinya sedang mempersiapkan yang terbaik untuk memasuki kehidupan yang kekal.

November 04, 2026

Kamis, 05 November 2026 Hari Biasa Pekan XXXI


Bacaan I: Flp 3:3-8a "Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap merugikan karena Kristus." 
 
Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-3.4-5.6-7 "Biarlah bersuka hati orang-orang yang mencari Tuhan."
 
Bait Pengantar Injil:  Mat 11:28 "Datanglah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepada kalian."

Bacaan  Injil: Luk 15:1-10 "Akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat."
 
warna liturgi hijau

 Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
 
Ada banyak pendapat mengenai ayat atau frasa mana yang paling penting dalam Kitab Suci. Salah satu kandidat utamanya adalah Yohanes 3:16-17, yang diikuti oleh berbagai ayat dan bagian Kitab Suci lainnya yang sangat mendalam. Bab15 dalam Injil menurut Santo Lukas mungkin terdengar biasa saja, dan bacaan Injil hari ini mungkin tampak hanya berisi perumpamaan-perumpamaan. Namun, bacaan Injil hari ini sesungguhnya mencerminkan pesan inti dari Kitab Suci, yakni menggambarkan dengan tegas kasih Allah yang tak terbatas dan tak terlukiskan—kasih yang bertujuan menyelamatkan setiap pria dan wanita yang telah Ia ciptakan menurut rupa dan citra-Nya.

Dalam bab 15 Injil Lukas, terdapat tiga perumpamaan: perumpamaan tentang domba yang hilang, uang logam yang hilang, dan anak yang hilang (anak yang boros). Para ahli Taurat dan orang Farisi mengkritik Yesus karena Ia selalu bergaul dengan orang-orang berdosa, orang-orang yang dianggap najis secara ritual, serta mereka yang dicap sebagai pergaulan yang buruk. 
   
Akan tetapi, Yesus senantiasa menaruh belas kasih yang mendalam terhadap orang-orang yang disebut sebagai pendosa ini. Ia bahkan menegaskan bahwa bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit. Sisi dari diri Yesus ini pun sering kali tidak dipahami oleh kita, para murid-Nya. Sebab, kita pun memiliki kecenderungan untuk mengkritik dan menghakimi sesama berdasarkan standar atau keyakinan kita sendiri. Tentu saja, hal ini bukanlah sesuatu yang baru.

Kita mungkin mampu mengutip ayat-ayat yang mendalam dan mengingat bagian-bagian penting dalam Kitab Suci. Semoga kita juga senantiasa ingat untuk mewujudkan pesan inti Kitab Suci—yaitu kasih—ke dalam kehidupan kita sebagai murid-murid Yesus.

Jadilah Pelita Kasih Bersama Kami

Terima kasih sudah menyediakan waktu sejenak untuk merenungkan kebaikan Tuhan bersama lumenchristi.id. Apabila sapaan Sabda Tuhan hari ini memberkati dan meneguhkan hati Anda, kami mengundang Anda untuk ikut serta mendukung pelayanan ini.

Setiap persembahan kasih yang Anda salurkan melalui QRIS akan menjadi pelita yang mencerahkan langkah kami untuk menjangkau lebih banyak jiwa, mendekatkan mereka pada Kristus dan Gereja-Nya.

Doa kami senantiasa menyertai Anda dan keluarga. Tuhan Yesus memberkati.






 


lumenchristi.id 2026 - Situs ini menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan menggunakan situs ini, Anda telah menyetujui penggunaan cookies dari Kami.