| Home | Indonesian Papist | Renungan Pagi| Doa Umat Misa Harian | Privacy Policy | Support Lumen Christi |



Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

November 05, 2026

Jumat, 06 November 2026 Hari Biasa Pekan XXXI


Bacaan I: Flp 3:17-4:1 "Kita menantikan Sang Penyelamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia."
         
Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5 "Mari kita pergi ke rumah Tuhan dengan sukacita."

Bait Pengantar Injil: 1Yoh 2:5 "Sempurnalah kasih Allah dalam hati orang yang mendengarkan Sabda Kristus."

Bacaan Injil: Luk 16:1-8 "Anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang."
 
warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
Siouxfall Diocese
 Sering kali, gagasan terbaik dan langkah paling berani justru lahir ketika kita terdesak oleh situasi yang sulit. Diperlukan sebuah keadaan darurat atau urgensi tertentu untuk memaksa kita mencoba jalan keluar yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Hal inilah yang tergambar dengan sangat jelas dalam kisah bendahara yang tidak jujur pada bacaan Injil hari ini. Dalam keputusasaannya menghadapi ancaman terhadap kelangsungan hidupnya, ia dipaksa untuk bertindak cepat dan menemukan kecerdikan luar biasa demi mengamankan masa depannya.

Meskipun perumpamaan tersebut kerap terasa membingungkan, pesan utama yang ingin disampaikan Yesus sebenarnya sangat tajam dan mendalam. Ia sengaja menyoroti betapa gigih dan mendesaknya upaya seorang anak dunia dalam menyelamatkan nasib sementaranya, seraya menantang kita sebagai anak-anak terang untuk memiliki semangat serta urgensi yang sama dalam memperjuangkan masa depan kekal kita. Tanpa kesadaran yang mendesak ini, kita berisiko jatuh pada teguran yang diungkapkan dalam bacaan pertama, di mana manusia perlahan-lahan menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya, membanggakan hal-hal yang seharusnya memalukan, dan menganggap bahwa urusan fana adalah satu-satunya hal yang penting di dunia ini.

Menghadapi kecenderungan duniawi tersebut, Rasul Paulus mengingatkan kita untuk tidak menyerah dan tetap berpegang teguh pada kesetiaan kepada Tuhan. Menariknya, urgensi spiritual yang ditekankan di sini bukanlah sebuah kepanikan atau kesibukan yang hiruk-pikuk demi menyongsong surga. Sebaliknya, urgensi itu justru mewujud dan teruji di tengah rutinitas keseharian yang tampak biasa bahkan monoton. Ketika kita mampu mempertahankan kesetiaan kepada Tuhan dalam hal-hal kecil, serta terus memusatkan hati kepada-Nya di balik kebosanan rutinitas hidup, pada titik itulah kita sejatinya sedang mempersiapkan yang terbaik untuk memasuki kehidupan yang kekal.

November 04, 2026

Kamis, 05 November 2026 Hari Biasa Pekan XXXI


Bacaan I: Flp 3:3-8a "Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap merugikan karena Kristus." 
 
Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-3.4-5.6-7 "Biarlah bersuka hati orang-orang yang mencari Tuhan."
 
Bait Pengantar Injil:  Mat 11:28 "Datanglah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepada kalian."

Bacaan  Injil: Luk 15:1-10 "Akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat."
 
warna liturgi hijau

 Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
 
Ada banyak pendapat mengenai ayat atau frasa mana yang paling penting dalam Kitab Suci. Salah satu kandidat utamanya adalah Yohanes 3:16-17, yang diikuti oleh berbagai ayat dan bagian Kitab Suci lainnya yang sangat mendalam. Bab15 dalam Injil menurut Santo Lukas mungkin terdengar biasa saja, dan bacaan Injil hari ini mungkin tampak hanya berisi perumpamaan-perumpamaan. Namun, bacaan Injil hari ini sesungguhnya mencerminkan pesan inti dari Kitab Suci, yakni menggambarkan dengan tegas kasih Allah yang tak terbatas dan tak terlukiskan—kasih yang bertujuan menyelamatkan setiap pria dan wanita yang telah Ia ciptakan menurut rupa dan citra-Nya.

Dalam bab 15 Injil Lukas, terdapat tiga perumpamaan: perumpamaan tentang domba yang hilang, uang logam yang hilang, dan anak yang hilang (anak yang boros). Para ahli Taurat dan orang Farisi mengkritik Yesus karena Ia selalu bergaul dengan orang-orang berdosa, orang-orang yang dianggap najis secara ritual, serta mereka yang dicap sebagai pergaulan yang buruk. 
   
Akan tetapi, Yesus senantiasa menaruh belas kasih yang mendalam terhadap orang-orang yang disebut sebagai pendosa ini. Ia bahkan menegaskan bahwa bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit. Sisi dari diri Yesus ini pun sering kali tidak dipahami oleh kita, para murid-Nya. Sebab, kita pun memiliki kecenderungan untuk mengkritik dan menghakimi sesama berdasarkan standar atau keyakinan kita sendiri. Tentu saja, hal ini bukanlah sesuatu yang baru.

Kita mungkin mampu mengutip ayat-ayat yang mendalam dan mengingat bagian-bagian penting dalam Kitab Suci. Semoga kita juga senantiasa ingat untuk mewujudkan pesan inti Kitab Suci—yaitu kasih—ke dalam kehidupan kita sebagai murid-murid Yesus.

Jadilah Pelita Kasih Bersama Kami

Terima kasih sudah menyediakan waktu sejenak untuk merenungkan kebaikan Tuhan bersama lumenchristi.id. Apabila sapaan Sabda Tuhan hari ini memberkati dan meneguhkan hati Anda, kami mengundang Anda untuk ikut serta mendukung pelayanan ini.

Setiap persembahan kasih yang Anda salurkan melalui QRIS akan menjadi pelita yang mencerahkan langkah kami untuk menjangkau lebih banyak jiwa, mendekatkan mereka pada Kristus dan Gereja-Nya.

Doa kami senantiasa menyertai Anda dan keluarga. Tuhan Yesus memberkati.






 


November 03, 2026

Rabu, 04 November 2026 Peringatan Wajib St. Karolus Borromeus, Uskup

Bacaan I: Flp 2:12-18 "Kerjakanlah keselamatanmu, Allahlah yang mengerjakan dalam dirimu, baik kemauan maupun pelaksanaan."
       
Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1.4.13-14 "Tuhan adalah terang dan keselamatanku."

Bait Pengantar Injil: 1 Ptr 4:14  "Berbahagialah kalian, bila dinista karena nama Kristus, sebab Roh Allah ada padamu."
 
Bacaan Injil: Luk 14:25-33 "Yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi milik-Ku."
 
warna liturgi putih 
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
Karya: thanasus/istock.com
 

Bayangkan seorang maestro lukis yang sangat terkenal. Setiap kali ia mengadakan pameran, ribuan orang berbondong-bondong datang untuk mengagumi karyanya. Mereka memuji, mengambil foto, dan dengan bangga menyebut diri mereka sebagai penggemar berat sang maestro. Namun, di antara ribuan penggemar itu, hanya ada satu atau dua orang yang rela datang ke studionya setiap hari sejak subuh, tangannya kotor oleh cat, dan bersedia menerima didikan yang keras demi belajar melukis langsung dari sang guru. Para penggemar hanya ingin menikmati hasil karyanya dan berada di dekat kepopulerannya, tetapi seorang murid magang menyerahkan hidup dan waktunya untuk dibentuk oleh sang maestro. Perbedaan kontras antara penggemar dan murid ini membawa kita pada sebuah perenungan yang sama tentang panggilan Yesus: Apa perbedaan antara sekadar menjadi pengikut dan menjadi seorang murid?

Pada masa pelayanan-Nya, banyak orang mengikuti Yesus karena terpukau oleh mukjizat atau sekadar mencari berkat dan kesembuhan. Namun, Yesus tidak pernah terbuai oleh seberapa besar kerumunan yang mengikuti-Nya. Ia jauh lebih tertarik pada siapa yang sungguh-sungguh bersedia memikul salib dan menjadi murid-Nya. Menjadi murid Yesus berarti melangkah lebih jauh dari sekadar berada di dalam keramaian; itu berarti bersedia belajar dari-Nya, menyerahkan segala kenyamanan, dan menjadikan-Nya sebagai pusat sekaligus satu-satunya Tuhan atas hidup kita.

Tuntutan penyerahan diri ini begitu serius sehingga Yesus menggunakan bahasa yang sangat tegas, bahkan mensyaratkan seseorang untuk "membenci" keluarganya jika ingin mengikut Dia. Kata "membenci" di sini tentu tidak boleh ditafsirkan secara emosional atau relasional sebagai dorongan untuk bermusuhan. Sebaliknya, Tuhan Yesus sedang berbicara murni dalam konteks prioritas dan kesetiaan mutlak. Dalam gaya bahasa budaya saat itu, "membenci" dipahami sebagai mengasihi dengan kadar yang jauh lebih rendah. Tuhan Yesus sama sekali tidak bermaksud agar kita memusuhi orang tua atau anggota keluarga kita, melainkan menegaskan bahwa kasih dan ketaatan kita kepada-Nya harus berada di tempat yang paling tinggi, melampaui ikatan apa pun di dunia ini.

Pada akhirnya, ketika kita menempatkan Tuhan Yesus sebagai prioritas yang tertinggi, hal itu justru akan menyempurnakan cara kita berhubungan dengan orang lain. Kasih kita yang utuh kepada Tuhan akan tercermin dalam kasih kita kepada sesama—sebuah kasih yang murni, yang tidak melukai, tidak mencelakai, dan tidak menyimpan kebencian. Itulah kasih yang penuh pengorbanan, yang menjadi tanda pengenal utama dari seorang murid Yesus yang sejati. Oleh karena itu, harga untuk mengikut Dia harus dipertimbangkan dengan saksama. Panggilan ini menuntut segalanya dari kita, sebab untuk menjadi seorang murid, pilihannya tidak bisa setengah-setengah.

lumenchristi.id 2026 - Situs ini menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan menggunakan situs ini, Anda telah menyetujui penggunaan cookies dari Kami.