| Home | Indonesian Papist | Renungan Pagi| Doa Umat Misa Harian | Privacy Policy | Support Lumen Christi |



Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Agustus 13, 2026

Jumat, 14 Agustus 2026 Peringatan Wajib St. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam – Martir


Bacaan I: Yeh 16:59-63 "Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan dikau, dan engkau akan merasa malu."
   

Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-3.4bcd.5-6 "Engkau telah berbalik dari kemarahan-Mu."

Bait Pengantar Injil: lih. 1Tes 2:13 "Sambutlah pewartaan ini sebagai sabda Allah, bukan sebagai perkataan manusia."

Bacaan Injil: Mat 19:3-12 "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kalian menceraikan isterimu, tetapi semula tidaklah demikian."

warna liturgi merah

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini




Saat mencari solusi, kita cenderung memilih cara yang paling mudah. Misalnya, ketika hendak menggantung sesuatu di dinding, kita lebih memilih memaku dinding daripada mengebor lubang dan memasang kait dengan sekrup. Kedua cara itu memang bisa berhasil, namun kita tahu bahwa paku tidak sekuat kait yang dipasang dengan sekrup pada dinding. Sudah menjadi kecenderungan manusia untuk memilih solusi termudah dan jalan yang paling ringan hambatannya.

Ketika orang-orang Farisi hendak menguji Yesus mengenai masalah perceraian, mereka ingin memancing-Nya agar mengatakan bahwa perceraian itu diperbolehkan. Namun, Yesus justru membawa mereka kembali pada awal penciptaan dan maksud Allah mengenai pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Pernikahan pasti akan menghadapi tantangan dan kesulitan; menjaga kasih dalam pernikahan adalah perjalanan panjang dan berliku yang menuju pada pintu yang sempit.

Dalam bacaan pertama, Allah sebenarnya bisa saja dengan mudah meninggalkan umat-Nya saat mereka tidak setia, tidak tahu berterima kasih, dan tidak taat kepada-Nya. Akan tetapi, Allah menunjukkan bahwa Ia mengampuni umat-Nya, bahkan ketika mereka tidak layak menerimanya. Mengampuni adalah pilihan yang sulit, terutama jika kita merasa pihak lain tidak pantas mendapatkannya atau tidak menghargainya. Namun, saat kita mengambil keputusan sulit untuk mengasihi dan mengampuni, Allah akan memberkati kita karenanya. Ya, Allah akan memberkati mereka yang ingin meneladani-Nya dalam hal mengasihi dan mengampuni.

Agustus 12, 2026

Kamis, 13 Agustus 2026 Hari Biasa Pekan XIX

 

Bacaan I: Yeh 12:1-2 "Berjalanlah seperti orang buangan di depan mereka pada siang hari."
      
Mazmur Tanggapan: Mzm 78:56-57.58-59.61-62 "Janganlah kita melupakan karya-karya Allah."

Bait Pengantar Injil: Mzm 119:135 "Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku."

Bacaan Injil: Mat 18:21 - 19:1 "Aku berkata kepadamu, 'Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali kalian harus mengampuni."
 
warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 

Saudara-saudari terkasih, jika kita menyadari betapa besarnya kasih Allah, hidup kita seharusnya dipenuhi dengan rasa syukur yang mendalam. Hari ini, melalui sabda-Nya, kita diundang untuk merenungkan sebuah pertanyaan mendasar: Sudahkah kita menghargai belas kasih Tuhan?

Allah selalu membuka tangan-Nya, menawarkan pengampunan dan hidup baru yang bebas dari dosa. Namun, menerima pengampunan itu berarti kita juga harus berani menolak godaan duniawi yang menjauhkan kita dari identitas kita sebagai anak-anak Allah yang terkasih.

Dalam bacaan pertama, Nabi Yehezkiel membawa pesan pedih bagi para buangan di Babel tentang nasib Yehuda dan Yerusalem. Kehancuran yang mereka alami bukanlah karena Tuhan kejam, melainkan buah dari pilihan mereka sendiri. Mereka mengandalkan kekuatan dunia, menyembah berhala, dan menulikan telinga dari panggilan Tuhan. Padahal, Allah begitu sabar. Ia senantiasa memelihara mereka, mengutus hamba-hamba-Nya untuk menuntun mereka kembali, namun cinta itu bertepuk sebelah tangan.

Agustus 11, 2026

Rabu, 12 Agustus 2026 Hari Biasa Pekan XIX

 
Bacaan I: Yeh 9:1-7.10:18-22 "Tulislah huruf T pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah karena segala perbuatan keji di Yerusalem."
 
Mazmur Tanggapan:  Mzm 113:1-2.3-4.5-6 "Kemuliaan Tuhan mengatasi langit."

Bait Pengantar Injil: 2Kor 5:19 "Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam diri Kristus dan mempercayakan warta perdamaian kepada kita." 

Bacaan Injil: Mat 18:15-20 "Jika saudaramu yang berbuat dosa mendengarkan teguranmu, engkau telah mendapatnya kembali."
 
warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
 

 
 

Kitab Suci tidak hanya menyajikan ayat-ayat yang menginspirasi dan menghangatkan hati, tetapi juga dengan jujur memotret realitas kehidupan manusia yang paling kelam. Salah satu kenyataan terbesar yang diangkat adalah keberdosaan manusia serta konsekuensi dari dosa tersebut, yakni penghakiman dan hukuman ilahi. 

Melalui penglihatan Nabi Yehezkiel pada bacaan pertama, kita dihadapkan pada dua sisi keadilan Allah:

  • Hukuman bagi yang Menolak Bertobat: Ada konsekuensi nyata bagi mereka yang bersikeras hidup dalam dosa tanpa adanya keinginan untuk berbalik kepada Allah.

  • Keselamatan bagi yang Setia: Sebaliknya, mereka yang setia, serta secara sadar menolak dan membenci kenistaan dosa, akan diluputkan. Mereka ditandai dengan tanda salib di dahi sebagai umat yang diselamatkan. 

Bagi kita yang berupaya hidup di jalan keselamatan, Yesus memberikan sebuah amanat penting dalam Injil. Kita dipanggil untuk tidak bersikap acuh tak acuh terhadap sesama:

  • Tanggung Jawab Persaudaraan: Jika ada saudara yang jatuh ke dalam dosa, menjadi tugas dan kewajiban kita untuk menegur serta membimbingnya kembali ke kebenaran. Kita semua memikul tanggung jawab untuk saling menjaga dan menuntun.

  • Batas Ketegaran Hati: Namun, Tuhan juga realistis. Jika teguran kasih ini ditolak dengan keras kepala, orang tersebut harus menanggung akibat dari penolakannya terhadap Allah. Sejarah bangsa Israel dan Yehuda yang hancur akibat terus mengabaikan utusan Tuhan menjadi peringatan keras bahwa ketidaktaatan berujung pada penderitaan dan keterpisahan dari Allah. 

Agustus 09, 2026

Selasa, 11 Agustus 2026 Peringatan Wajib St. Klara, Perawan

 

Bacaan I: Yeh 2:8 – 3:4 "Diberikan-Nya gulungan kitab itu untuk kumakan, dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku."

Mazmur Tanggapan: Mzm 119:14.24.72.103.111.131 "Betapa manis janji Tuhan bagi langit-langitku."

Bait Pengantar Injil: Mat 1:29ab "Terimalah beban-Ku dan belajarlah dari pada-Ku, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati."

Bacaan Injil: Mat 18:1-5.10.12-14 "Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak ini."
  
warna liturgi putih
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 


Seringkali kita menyadari perbedaan nada suara dan pilihan kata saat kita memberi semangat kepada seseorang dibandingkan saat kita mengoreksi atau mendisiplinkan mereka. Kata-kata penyemangat cenderung lembut dan penuh kasih, sementara kata-kata koreksi, meskipun bertujuan baik, sering kali terasa tajam dan menusuk hati demi menyampaikan pesan yang penting.

Gambaran ini tercermin dalam pengalaman nabi Yehezkiel. Dalam bacaan pertama, ia diperlihatkan sebuah gulungan kitab yang penuh dengan kata-kata: “ratapan, tangisan, dan rintihan.” Kata-kata ini menggambarkan penderitaan, kesengsaraan, dan bahkan hukuman yang akan datang. Tuhan memerintahkan Yehezkiel untuk memakan gulungan itu, dan yang sangat mengejutkan, meskipun isinya begitu berat, gulungan itu terasa manis seperti madu di mulutnya.

Ini memberi kita pemahaman yang mendalam. Yehezkiel dipanggil untuk menyampaikan pesan tentang penderitaan dan hukuman, tetapi pesan itu sendiri terasa manis di mulutnya karena ia mengetahui bahwa seruan untuk bertobat dan berubah adalah pesan yang 'manis'. Mengapa? Karena mereka yang mengindahkan panggilan pertobatan akan mengalami kemanisan pengampunan dan penyembuhan dari Allah. Penderitaan hanyalah akibat sementara dari dosa, sementara rasa manis pertobatan adalah pintu menuju kehidupan yang pulih.
  
Ajaran tentang kerendahan hati seperti anak kecil seperti dalam Injil hari ini, tentang kasih yang rela berkorban, dan tentang pengampunan tanpa henti—semuanya mungkin terasa berat dan menuntut pada awalnya. Namun, pesan-pesan ini pada akhirnya adalah pesan yang menggembirakan dan menguatkan bagi mereka yang bersedia mendengarkan. Mereka yang memperhatikan pesan tersebut dan menerapkannya dalam hidup mereka, niscaya akan mengalami manisnya kasih Allah yang mengalir dan mengubah segalanya.

lumenchristi.id 2026 - Situs ini menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan menggunakan situs ini, Anda telah menyetujui penggunaan cookies dari Kami.