| Home | Indonesian Papist | Renungan Pagi| Doa Umat Misa Harian | Privacy Policy | Support Lumen Christi |



Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Oktober 24, 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 Hari Minggu Biasa XXX

 

Bacaan I: Kel 22:21-27 "Jika kamu menindas seorang janda atau anak yatim, maka murka-Ku akan bangkit, dan Aku akan membunuh kamu."

Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-3a.3bc.47.51ab; Ul: 2 "Aku mengasihi Engkau, ya Allah, kekuatanku."

Bacaan II: 1Tes 1:5c-10 "Kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk mengabdi kepada Allah dan menantikan kedatangan Anak-Nya."

Bait Pengantar Injil: Yoh 14:23 "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan mentaati sabda-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya."

Bacaan Injil: Mat 22:34-40 "Kasihilah Tuhan Allahmu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

warna liturgi hijau
 
 Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
 
 
 
  
 
Banyak hal di dunia ini hanya dapat berfungsi jika memiliki unsur esensial di dalamnya. Layaknya sebuah mobil yang membutuhkan bensin atau perangkat elektronik yang bergantung pada aliran listrik, kondisi prima dari komponen lainnya menjadi tidak berarti tanpa kehadiran penggerak utamanya. Sebaliknya, meski ada bagian yang aus atau sedikit rusak, suatu hal tetap bisa beroperasi selama unsur mendasarnya masih utuh. Oleh karena itu, mengenali apa yang benar-benar penting dan esensial dalam hidup menjadi sebuah langkah yang krusial, baik melalui hal-hal yang tampak jelas di depan mata maupun yang membutuhkan perenungan lebih dalam.

Pencarian akan hal yang esensial ini tercermin dengan sangat indah dalam Injil, tepatnya ketika seorang Farisi bertanya kepada Yesus tentang hukum yang terutama dalam Taurat. Pertanyaan ini mungkin terasa janggal, mengingat jawabannya sudah sangat jelas bagi mereka yang mempelajari hukum, sehingga niat di baliknya cenderung sekadar untuk mengusik atau menjebak. Kelompok Farisi sebenarnya bisa belajar dari peristiwa sebelumnya, di mana Yesus membungkam kelompok Saduki yang mencoba menjebak-Nya dengan isu pajak melalui jawaban yang sangat menggugah pikiran. Namun, justru dari pertanyaan yang didasari niat kurang bijak ini, kita dianugerahi hikmat untuk memahami fondasi paling mendasar dari kehidupan rohani kita.

Oktober 23, 2026

Sabtu, 24 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXIX


Bacaan  I: Ef 4:7-16 "Kristuslah kepada tubuh, dan daripadanya seluruh tubuh menerima pertumbuhannya."

Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-2.3-4a.4b-5 "Aku bersukacita, ketika orang berkata kepadaku, "Mari kita pergi ke rumah Tuhan."

Bait Pengantar Injil: Yeh 33:11 "Tuhan telah berfirman, "Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan kepada pertobatannya supaya ia hidup."   

Bacaan Injil: Luk 13:1-9 "Jikalau kalian semua tidak bertobat, kalian pun akan binasa dengan cara demikian."
         
warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
   
 
Karya: 279photo/istock.com
 
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, sering kali kita menyadari bahwa kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mendengar pesan yang belum siap mereka terima. Namun pada saat yang sama, kita tidak boleh meremehkan kuasa dari menanam benih. Benih tersebut adalah Kabar Baik, Injil, sebuah pesan keselamatan yang luar biasa dan realitas penuh kuasa yang mewujud dalam diri Yesus Kristus, Sang Juruselamat. Ia datang ke dunia untuk mewartakan kasih Allah yang menyelamatkan, menyentuh kehidupan manusia secara utuh, baik melalui perkataan maupun perbuatan-Nya.

Karya keselamatan ini diawali oleh Tuhan Yesus dengan sebuah panggilan yang mendasar, yakni seruan akan perlunya pertobatan sebagai jalan pembuka agar hati seseorang dimampukan untuk menerima Kabar Baik. Di lembaran-lembaran Injil, seruan pertobatan ini terus ditekankan dan diulang kembali, meskipun kita tahu bahwa ajakan ini bukanlah pesan yang mudah atau nyaman untuk didengar. Pertobatan menuntut kerendahan hati kita untuk menanggalkan kesombongan diri dan mengakui realitas bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang sangat bergantung pada belas kasih Allah. Dalam pewartaannya, tentu ada hati yang akan menanggapi seruan tersebut, sementara yang lain mungkin belum tersentuh, namun apa pun tanggapannya, benih kebenaran itu telah tertanam.

Pada akhirnya, menjadi sebuah doa dan harapan agar seruan untuk bertobat ini tidak berhenti di telinga, melainkan sungguh-sungguh menghasilkan buah pertobatan yang sejati di dalam diri kita. Melalui buah pertobatan itulah kita pada akhirnya dimampukan untuk melangkah keluar sebagai saksi-saksi-Nya yang hidup, meneruskan seruan pertobatan sekaligus membawa Kabar Baik keselamatan bagi sesama, memancarkan kasih-Nya melalui setiap perkataan dan perbuatan kita sehari-hari.

Jadilah Pelita Kasih Bersama Kami

Terima kasih sudah menyediakan waktu sejenak untuk merenungkan kebaikan Tuhan bersama lumenchristi.id. Apabila sapaan Sabda Tuhan hari ini memberkati dan meneguhkan hati Anda, kami mengundang Anda untuk ikut serta mendukung pelayanan ini.

Setiap persembahan kasih yang Anda salurkan melalui QRIS akan menjadi pelita yang mencerahkan langkah kami untuk menjangkau lebih banyak jiwa, mendekatkan mereka pada Kristus dan Gereja-Nya.

Doa kami senantiasa menyertai Anda dan keluarga. Tuhan Yesus memberkati.






 


Oktober 22, 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXIX

Bacaan I: Ef 4:1-6 "Satu tubuh, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan."

Mazmur Tanggapan: Mzm. 24:1-2.3-4ab.5-6 "Itulah angkatan orang-orang yang mencari wajah-Mu, ya Tuhan."

Bait Pengantar Injil: Mat 11:25 "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan Kaunyatakan kepada orang kecil."

Bacaan Injil: Luk 12:54-59 "Kalian tahu menilai gelagat bumi dan langit, tetapi mengapa tidak dapat menilai zaman ini?"
 
warna liturgi hijau  
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 





 Setiap potensi bahaya maupun kecelakaan di sekitar kita sejatinya selalu didahului oleh tanda-tanda peringatan, namun pertanyaannya adalah sejauh mana kita sungguh-sungguh menaruh perhatian dan mengambil langkah pencegahan. Dalam keseharian, tanda-tanda ini hadir dalam berbagai bentuk yang menuntut respons sadar kita; entah itu bunyi gemeretak janggal dari mesin mobil yang mengisyaratkan perlunya perbaikan ke bengkel, aroma tidak wajar yang menandakan sesuatu mulai membusuk atau terbakar, hingga rasa nyeri berulang pada tubuh yang menjadi alarm untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Sayangnya, manusia kerap terjebak dalam sikap acuh tak acuh dan memilih mengabaikan sinyal-sinyal peringatan tersebut. Kelalaian semacam ini pada akhirnya hanya akan membukakan jalan bagi masalah yang jauh lebih fatal, dan ketika malapetaka itu benar-benar terjadi, hal yang tersisa sering kali hanyalah penyesalan mendalam dan kecenderungan untuk saling menyalahkan.
 
​Ironi tentang ketidakpekaan ini sesungguhnya telah ditegur oleh Tuhan Yesus dalam Injil, ketika Ia mengingatkan orang banyak betapa pandainya mereka membaca pertanda alam, namun justru tumpul dalam menafsirkan tanda-tanda zaman yang berasal dari Allah. Kebutaan spiritual ini hanya dapat diurai melalui keintiman dalam doa, ruang di mana kasih karunia Allah bekerja melembutkan hati yang keras dan mengasah kembali kepekaan batin kita. Ketika jiwa kita terhubung erat dengan-Nya, kita tidak lagi melihat berbagai peristiwa di sekitar kita secara dangkal, melainkan mampu membaca dan menafsirkannya sebagai rambu-rambu Ilahi. Pada akhirnya, kepekaan rohani inilah yang akan memampukan kita untuk menyadari secara utuh apa yang sedang Allah tunjukkan, sekaligus menggerakkan langkah kita untuk berbuat selaras dengan kehendak-Nya di tengah dunia.

lumenchristi.id 2026 - Situs ini menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan menggunakan situs ini, Anda telah menyetujui penggunaan cookies dari Kami.