Bacaan I: Ef 3:2-12 "Rahasia Kristus kini telah diwahyukan dan para bangsa menjadi pewaris perjanjian."
Kidung Tanggapan: Yes 12:2-3.4bcd.5-6 "Kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan."
Bait Pengantar Injil: Mat 24:44 "Berjaga-jaga dan bersiap-siaplah, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga."
Bacaan Injil: Luk 12:39-48 "Barangsiapa diberi banyak, banyak pula yang dituntut darinya."
Bayangkan seorang kaya raya yang berada di penghujung usianya berniat menyerahkan seluruh harta warisannya kepada Anda. Ia tidak meminta imbalan yang rumit, melainkan hanya satu syarat sederhana: setiap bulan pada tanggal yang telah ditentukan, Anda cukup berkunjung ke makamnya dan meletakkan seikat karangan bunga. Di awal, syarat tersebut tentu terasa sangat ringan jika dibandingkan dengan kelimpahan kekayaan yang diterima secara cuma-cuma. Siapa yang tidak sanggup menjalankan tugas sepele itu demi hidup yang serba terjamin? Namun, seiring berjalannya waktu, ketika kenyamanan hidup sudah menggenggam erat dan tidak ada satu orang pun yang datang menuntut pertanggungjawaban, ujian kesetiaan yang sesungguhnya baru dimulai. Berbagai kesibukan, kecenderungan menunda, dan godaan untuk meremehkan janji perlahan muncul, membuat kita mulai mencari-cari alasan untuk mengabaikan komitmen sederhana tersebut.
Kisah ini menjadi cermin jernih bagi kehidupan spiritual kita bersama Allah. Dalam Injil ditegaskan bahwa kepada orang yang telah menerima banyak hal, banyak pula yang akan dituntut darinya, dan kepada mereka yang telah dipercayakan banyak hal, akan diharapkan lebih banyak lagi. Ketika kita merenungi betapa melimpahnya berkat, rahmat, dan pemeliharaan yang telah dikaruniakan Allah, kita dipanggil untuk tidak sekadar menikmati semua itu dalam zona nyaman. Tanggung jawab atas berkat tidak boleh luntur hanya karena kita merasa hidup sudah aman dan tidak ada teguran langsung yang membayangi.
Mengucap syukur yang sejati menuntut kesetiaan yang terus dirawat dari hari ke hari. Allah menghendaki agar berkat yang kita terima tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan mengalir keluar dalam bentuk kasih yang nyata, kebaikan yang tulus, kesabaran, pengertian, serta pengampunan bagi sesama. Ketika kita tetap setia menjaga rasa syukur dan mewujudkannya dalam tindakan nyata di tengah segala gangguan duniawi, Allah yang Maharahim akan senantiasa melimpahkan berkat demi berkat dalam perjalanan hidup kita.
Kisah ini menjadi cermin jernih bagi kehidupan spiritual kita bersama Allah. Dalam Injil ditegaskan bahwa kepada orang yang telah menerima banyak hal, banyak pula yang akan dituntut darinya, dan kepada mereka yang telah dipercayakan banyak hal, akan diharapkan lebih banyak lagi. Ketika kita merenungi betapa melimpahnya berkat, rahmat, dan pemeliharaan yang telah dikaruniakan Allah, kita dipanggil untuk tidak sekadar menikmati semua itu dalam zona nyaman. Tanggung jawab atas berkat tidak boleh luntur hanya karena kita merasa hidup sudah aman dan tidak ada teguran langsung yang membayangi.
Mengucap syukur yang sejati menuntut kesetiaan yang terus dirawat dari hari ke hari. Allah menghendaki agar berkat yang kita terima tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan mengalir keluar dalam bentuk kasih yang nyata, kebaikan yang tulus, kesabaran, pengertian, serta pengampunan bagi sesama. Ketika kita tetap setia menjaga rasa syukur dan mewujudkannya dalam tindakan nyata di tengah segala gangguan duniawi, Allah yang Maharahim akan senantiasa melimpahkan berkat demi berkat dalam perjalanan hidup kita.






