Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-4.5-6.27-28.39-40 "Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan."
Bait Pengantar Injil: Yoh 8:12 "Aku ini cahaya dunia, sabda Tuhan. Yang mengikuti Aku, hidup dalam cahaya."
Bacaan Injil: Luk 5:33-39 "Apabila mempelai diambil, barulah sahabat-sahabat mempelai akan berpuasa."
Hidup senantiasa memiliki cara tersendiri untuk menempatkan bobotnya pada hal-hal yang esensial, sebuah beban kewajiban yang akan terus menindih batin sampai kita sungguh-sungguh memberinya perhatian. Sebagaimana diingatkan oleh Santo Paulus, kita adalah pelayan Kristus sekaligus pengelola yang dipercaya untuk menjaga rahasia-rahasia Allah, terutama anugerah kasih-Nya yang tak ternilai. Kasih inilah yang harus kita nyatakan dan hayati melalui panggilan hidup kita masing-masing, entah itu di dalam ikatan pernikahan, peran sebagai orang tua, maupun panggilan khusus sebagai imam dan kaum religius. Ketika kita memilih untuk abai dan berhenti mengasihi, ketidaksetiaan itu menjelma menjadi beban yang mencekik hati dan membuat langkah hidup terasa berat. Sebaliknya, kesetiaan dalam menjalankan tugas kasih akan membuat jiwa kita terasa ringan, bebas, dan terus terdorong untuk membagikan kebaikan.
Namun, untuk dapat mengemban anugerah kasih tersebut secara otentik, kita membutuhkan lebih dari sekadar rutinitas lahiriah semata. Di sinilah Yesus memanggil kita pada pembaruan yang mendalam melalui perumpamaan kantong anggur dan kain baru, sebuah undangan untuk mengalami pertobatan hati, pikiran, dan jiwa yang seutuhnya. Saat menanggapi kritik orang Farisi mengenai tradisi puasa, Yesus menegaskan bahwa kehadiran-Nya membawa kebenaran dan sukacita baru yang tidak bisa diwadahi oleh praktik keagamaan yang munafik, egois, atau sekadar mencari pujian duniawi. Rahasia Allah dan kasih yang dipercayakan kepada kita tidak akan bisa ditampung dalam hati yang masih melekat pada kesombongan masa lalu.
Oleh karena itu, menjadi pengikut Kristus yang sejati menuntut kita untuk berani menjadi "kantong anggur yang baru." Kita diajak untuk melepaskan kebiasaan-kebiasaan lama yang berorientasi pada dunia dan berhenti mengukur kesalehan dari apa yang tampak di permukaan. Kesalehan yang sesungguhnya lahir dari kesediaan kita untuk diubahkan dari dalam, menyelaraskan hidup dengan kehendak Tuhan, dan bertobat secara penuh di setiap waktu. Semoga rahmat Tuhan senantiasa membimbing dan memampukan kita untuk terus memperbarui diri, sehingga kita dapat melangkah dengan setia dan ringan dalam setiap tindakan kasih di hidup kita sehari-hari. Amin.







