| Home | Indonesian Papist | Renungan Pagi| Doa Umat Misa Harian | Privacy Policy | Support Lumen Christi |



Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

November 04, 2026

Kamis, 05 November 2026 Hari Biasa Pekan XXXI


Bacaan I: Flp 3:3-8a "Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap merugikan karena Kristus." 
 
Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-3.4-5.6-7 "Biarlah bersuka hati orang-orang yang mencari Tuhan."
 
Bait Pengantar Injil:  Mat 11:28 "Datanglah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepada kalian."

Bacaan  Injil: Luk 15:1-10 "Akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat."
 
warna liturgi hijau

 Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
 
Ada banyak pendapat mengenai ayat atau frasa mana yang paling penting dalam Kitab Suci. Salah satu kandidat utamanya adalah Yohanes 3:16-17, yang diikuti oleh berbagai ayat dan bagian Kitab Suci lainnya yang sangat mendalam. Bab15 dalam Injil menurut Santo Lukas mungkin terdengar biasa saja, dan bacaan Injil hari ini mungkin tampak hanya berisi perumpamaan-perumpamaan. Namun, bacaan Injil hari ini sesungguhnya mencerminkan pesan inti dari Kitab Suci, yakni menggambarkan dengan tegas kasih Allah yang tak terbatas dan tak terlukiskan—kasih yang bertujuan menyelamatkan setiap pria dan wanita yang telah Ia ciptakan menurut rupa dan citra-Nya.

Dalam bab 15 Injil Lukas, terdapat tiga perumpamaan: perumpamaan tentang domba yang hilang, uang logam yang hilang, dan anak yang hilang (anak yang boros). Para ahli Taurat dan orang Farisi mengkritik Yesus karena Ia selalu bergaul dengan orang-orang berdosa, orang-orang yang dianggap najis secara ritual, serta mereka yang dicap sebagai pergaulan yang buruk. 
   
Akan tetapi, Yesus senantiasa menaruh belas kasih yang mendalam terhadap orang-orang yang disebut sebagai pendosa ini. Ia bahkan menegaskan bahwa bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit. Sisi dari diri Yesus ini pun sering kali tidak dipahami oleh kita, para murid-Nya. Sebab, kita pun memiliki kecenderungan untuk mengkritik dan menghakimi sesama berdasarkan standar atau keyakinan kita sendiri. Tentu saja, hal ini bukanlah sesuatu yang baru.

Kita mungkin mampu mengutip ayat-ayat yang mendalam dan mengingat bagian-bagian penting dalam Kitab Suci. Semoga kita juga senantiasa ingat untuk mewujudkan pesan inti Kitab Suci—yaitu kasih—ke dalam kehidupan kita sebagai murid-murid Yesus.

Jadilah Pelita Kasih Bersama Kami

Terima kasih sudah menyediakan waktu sejenak untuk merenungkan kebaikan Tuhan bersama lumenchristi.id. Apabila sapaan Sabda Tuhan hari ini memberkati dan meneguhkan hati Anda, kami mengundang Anda untuk ikut serta mendukung pelayanan ini.

Setiap persembahan kasih yang Anda salurkan melalui QRIS akan menjadi pelita yang mencerahkan langkah kami untuk menjangkau lebih banyak jiwa, mendekatkan mereka pada Kristus dan Gereja-Nya.

Doa kami senantiasa menyertai Anda dan keluarga. Tuhan Yesus memberkati.






 


November 03, 2026

Rabu, 04 November 2026 Peringatan Wajib St. Karolus Borromeus, Uskup

Bacaan I: Flp 2:12-18 "Kerjakanlah keselamatanmu, Allahlah yang mengerjakan dalam dirimu, baik kemauan maupun pelaksanaan."
       
Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1.4.13-14 "Tuhan adalah terang dan keselamatanku."

Bait Pengantar Injil: 1 Ptr 4:14  "Berbahagialah kalian, bila dinista karena nama Kristus, sebab Roh Allah ada padamu."
 
Bacaan Injil: Luk 14:25-33 "Yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi milik-Ku."
 
warna liturgi putih 
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
Karya: thanasus/istock.com
 

Bayangkan seorang maestro lukis yang sangat terkenal. Setiap kali ia mengadakan pameran, ribuan orang berbondong-bondong datang untuk mengagumi karyanya. Mereka memuji, mengambil foto, dan dengan bangga menyebut diri mereka sebagai penggemar berat sang maestro. Namun, di antara ribuan penggemar itu, hanya ada satu atau dua orang yang rela datang ke studionya setiap hari sejak subuh, tangannya kotor oleh cat, dan bersedia menerima didikan yang keras demi belajar melukis langsung dari sang guru. Para penggemar hanya ingin menikmati hasil karyanya dan berada di dekat kepopulerannya, tetapi seorang murid magang menyerahkan hidup dan waktunya untuk dibentuk oleh sang maestro. Perbedaan kontras antara penggemar dan murid ini membawa kita pada sebuah perenungan yang sama tentang panggilan Yesus: Apa perbedaan antara sekadar menjadi pengikut dan menjadi seorang murid?

Pada masa pelayanan-Nya, banyak orang mengikuti Yesus karena terpukau oleh mukjizat atau sekadar mencari berkat dan kesembuhan. Namun, Yesus tidak pernah terbuai oleh seberapa besar kerumunan yang mengikuti-Nya. Ia jauh lebih tertarik pada siapa yang sungguh-sungguh bersedia memikul salib dan menjadi murid-Nya. Menjadi murid Yesus berarti melangkah lebih jauh dari sekadar berada di dalam keramaian; itu berarti bersedia belajar dari-Nya, menyerahkan segala kenyamanan, dan menjadikan-Nya sebagai pusat sekaligus satu-satunya Tuhan atas hidup kita.

Tuntutan penyerahan diri ini begitu serius sehingga Yesus menggunakan bahasa yang sangat tegas, bahkan mensyaratkan seseorang untuk "membenci" keluarganya jika ingin mengikut Dia. Kata "membenci" di sini tentu tidak boleh ditafsirkan secara emosional atau relasional sebagai dorongan untuk bermusuhan. Sebaliknya, Tuhan Yesus sedang berbicara murni dalam konteks prioritas dan kesetiaan mutlak. Dalam gaya bahasa budaya saat itu, "membenci" dipahami sebagai mengasihi dengan kadar yang jauh lebih rendah. Tuhan Yesus sama sekali tidak bermaksud agar kita memusuhi orang tua atau anggota keluarga kita, melainkan menegaskan bahwa kasih dan ketaatan kita kepada-Nya harus berada di tempat yang paling tinggi, melampaui ikatan apa pun di dunia ini.

Pada akhirnya, ketika kita menempatkan Tuhan Yesus sebagai prioritas yang tertinggi, hal itu justru akan menyempurnakan cara kita berhubungan dengan orang lain. Kasih kita yang utuh kepada Tuhan akan tercermin dalam kasih kita kepada sesama—sebuah kasih yang murni, yang tidak melukai, tidak mencelakai, dan tidak menyimpan kebencian. Itulah kasih yang penuh pengorbanan, yang menjadi tanda pengenal utama dari seorang murid Yesus yang sejati. Oleh karena itu, harga untuk mengikut Dia harus dipertimbangkan dengan saksama. Panggilan ini menuntut segalanya dari kita, sebab untuk menjadi seorang murid, pilihannya tidak bisa setengah-setengah.

November 02, 2026

Selasa, 03 November 2026 Hari Biasa Pekan XXXI


Bacaan I: Flp 2:5-11 “Yesus telah merendahkan diri, maka Ia diagungkan oleh Allah.”
       
Mazmur Tanggapan: Mzm 22:26b-27.28-30a.31-32 "Aku melambungkan puji-pujian di tengah jemaat yang besar, ya Tuhan."

Bait Pengantar Injil: Mat 11:28 "Datanglah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepada kalian."

Bacaan Injil: Luk 14:15-24 "Pergilah ke semua jalan dan persimpangan dan paksalah orang-orang yang ada di situ masuk, karena rumahku harus penuh."
 
warna liturgi hijau  
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
 
SiouxFall Diocese
 
  Kebahagiaan dan kesedihan adalah dua emosi yang tampaknya mendominasi hidup kita. Kita mendambakan kebahagiaan, dan kita memang merasakannya saat hal-hal baik datang dalam hidup kita. Namun, kita juga tahu bahwa kebahagiaan itu datang dan pergi; bisa saja pada saat berikutnya terjadi sesuatu yang buruk, sehingga kita terperosok ke dalam kesedihan dan kekecewaan. Akan tetapi, kita perlu ingat bahwa kesedihan dan kekecewaan pun akan datang dan pergi; perasaan tersebut tidak akan menetap untuk waktu yang lama.

Dalam Injil, seseorang berkata kepada Yesus bahwa berbahagialah orang yang akan hadir dalam perjamuan di Kerajaan Allah. Kemudian, Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan tentang seorang pria yang mengadakan perjamuan besar dan mengundang banyak tamu. Namun, sungguh mengejutkan, orang-orang yang diundang justru menolak undangan untuk peristiwa yang begitu membahagiakan itu. Hal ini menunjukkan bahwa mungkin kita belum benar-benar memahami apa itu kebahagiaan sejati.

Bacaan pertama mengungkapkan bahwa meskipun Yesus adalah Allah, Ia mengosongkan diri-Nya, menjadi manusia, menjalani kehidupan sebagai manusia, bahkan menerima kematian yang menyakitkan. Namun, karena ketaatan-Nya, Allah meninggikan Dia, dan segala ciptaan harus berlutut di hadapan nama-Nya. Baik dalam kebahagiaan maupun kesedihan, marilah kita meneladani Yesus, yang telah menunjukkan kepada kita cara untuk taat kepada Allah. Dengan demikian, kita akan memahami apa itu kebahagiaan sejati, dan di tengah kesedihan, Allah akan menjadi penghibur serta penopang bagi kita.

lumenchristi.id 2026 - Situs ini menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan menggunakan situs ini, Anda telah menyetujui penggunaan cookies dari Kami.