| Home | Indonesian Papist | Renungan Pagi| Doa Umat Misa Harian | Privacy Policy | Support Lumen Christi |



Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Oktober 26, 2026

Selasa, 27 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXX


Bacaan I: Ef 5:21-33 "Rahasia ini sungguh besar! Yang kumaksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat."

Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-2.3.4-5; R:1 "Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan."

Bait Pengantar Injil: Mat 11:25 "Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan Kaunyatakan kepada orang sederhana."

Bacaan Injil: Luk 13:18-21 "Biji itu tumbuh dan menjadi pohon."
 
warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
 
Bernhard Plockhorst | Public Domain
    Tekad, kekuatan kehendak, dan komitmen manusia tentu merupakan hal yang mulia dan inspiratif. Namun, kita juga tahu bahwa manusia itu lemah dan rentan terhadap kegagalan. Berdasarkan pengalaman pribadi, kita pun menyadari bahwa kita sendiri pernah gagal dalam menjaga tekad, kekuatan kehendak, dan komitmen kita.

Dalam bacaan pertama Rasul Paulus merenungkan tentang komitmen pernikahan antara suami dan istri. Meskipun tekad dan komitmen sangat diperlukan agar pernikahan tetap kuat, Santo Paulus juga menghadirkan faktor lain. Ia menyertakan faktor Allah dalam pernikahan. Ketika pasangan suami-istri memahami pentingnya kehadiran Kristus dalam pernikahan mereka, maka pernikahan tersebut akan diberkati dengan kasih Allah. Kasih Allah inilah yang akan menguatkan tekad dan komitmen manusia, sekaligus menuntun pasangan suami-istri—dan umat manusia pada umumnya—untuk memahami kehendak serta rencana Allah.

Perumpamaan-perumpamaan dalam Injil menunjukkan kuasa Allah dalam menumbuhkan alam semesta. Kasih Allah pula yang memampukan alam untuk menghasilkan buah demi kemuliaan-Nya dan demi kebaikan umat manusia. Kuasa dan kasih Allah inilah yang akan memampukan kita untuk mewujudkan tekad, kekuatan kehendak, dan komitmen kita dalam memenuhi kehendak serta rencana-Nya.

Oktober 25, 2026

Senin, 26 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXX

 

Bacaan I: Ef 4:32-5:8 "Hiduplah dalam cinta kasih seperti Kristus."

Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-2.3.4.6; R: 40:5a "Jadilah penurut Allah sebagai anak-anak kesayangan."

Bait Pengantar Injil: Yoh 17:17b.a "Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran; kuduskanlah kami dalam kebenaran."

Bacaan Injil: Luk 13:10-17 "Bukankah wanita keturunan Abraham ini harus dilepaskan dari ikatannya sekalipun pada hari Sabat?"

   warna liturgi hijau

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
Credit:TPopova/istock.com

Melalui sabda Tuhan hari ini, kita dipanggil untuk hidup kudus dan meninggalkan cara hidup lama yang sarat akan keburukan duniawi. Sebagai anak-anak Allah, kita diingatkan melalui pesan Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus agar senantiasa setia menempuh jalan kebajikan yang telah ditetapkan-Nya, serta tidak membiarkan diri kita terbuai oleh godaan kemuliaan fana. Kita menyadari bahwa kita tidak mungkin bisa mengabdi kepada Allah sekaligus menjadi hamba bagi dunia, sehingga diperlukan ketegasan dan ketulusan hati untuk terus menghadirkan kemuliaan Tuhan dalam setiap perkataan dan perbuatan kita.

Panggilan hidup kudus tersebut diwujudkan secara nyata melalui teladan Yesus dalam bacaan Injil, saat Ia menyembuhkan seorang wanita lumpuh pada hari Sabat. Peristiwa ini membuka mata kita terhadap hakikat sejati dari iman; bahwa Allah lebih menghendaki kasih, belas kasih, dan pengampunan daripada ketaatan buta pada aturan yang justru melahirkan kesombongan rohani. Berbeda dengan para pemimpin rumah ibadat yang merasa paling benar sendiri dan mengabaikan penderitaan sesama demi adat istiadat, Yesus menunjukkan bahwa tindakan nyata untuk menolong dan mengasihi orang yang menderita adalah manifestasi tertinggi dari hukum Allah.

Oleh karena itu, Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk membuang jauh-jauh ego, rasa lebih unggul dari orang lain, serta prasangka buruk yang dapat membutakan hati nurani. Karena Allah pada hakikatnya adalah kasih, sudah sepantasnya kita menjadikan cinta kasih-Nya yang tak bersyarat sebagai landasan dalam bersikap kepada semua orang di sekitar kita. Dengan senantiasa memancarkan kebaikan dan kemurahan hati, semoga hidup kita dapat menjadi teladan yang menginspirasi dan mendekatkan sesama kepada Tuhan, sekaligus menjadikan kita sebagai bagian dari Tubuh Kristus yang sungguh tulus dalam menghidupi Sabda-Nya.

Oktober 24, 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 Hari Minggu Biasa XXX

 

Bacaan I: Kel 22:21-27 "Jika kamu menindas seorang janda atau anak yatim, maka murka-Ku akan bangkit, dan Aku akan membunuh kamu."

Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-3a.3bc.47.51ab; Ul: 2 "Aku mengasihi Engkau, ya Allah, kekuatanku."

Bacaan II: 1Tes 1:5c-10 "Kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk mengabdi kepada Allah dan menantikan kedatangan Anak-Nya."

Bait Pengantar Injil: Yoh 14:23 "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan mentaati sabda-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya."

Bacaan Injil: Mat 22:34-40 "Kasihilah Tuhan Allahmu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

warna liturgi hijau
 
 Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
 
 
 
  
 
Banyak hal di dunia ini hanya dapat berfungsi jika memiliki unsur esensial di dalamnya. Layaknya sebuah mobil yang membutuhkan bensin atau perangkat elektronik yang bergantung pada aliran listrik, kondisi prima dari komponen lainnya menjadi tidak berarti tanpa kehadiran penggerak utamanya. Sebaliknya, meski ada bagian yang aus atau sedikit rusak, suatu hal tetap bisa beroperasi selama unsur mendasarnya masih utuh. Oleh karena itu, mengenali apa yang benar-benar penting dan esensial dalam hidup menjadi sebuah langkah yang krusial, baik melalui hal-hal yang tampak jelas di depan mata maupun yang membutuhkan perenungan lebih dalam.

Pencarian akan hal yang esensial ini tercermin dengan sangat indah dalam Injil, tepatnya ketika seorang Farisi bertanya kepada Yesus tentang hukum yang terutama dalam Taurat. Pertanyaan ini mungkin terasa janggal, mengingat jawabannya sudah sangat jelas bagi mereka yang mempelajari hukum, sehingga niat di baliknya cenderung sekadar untuk mengusik atau menjebak. Kelompok Farisi sebenarnya bisa belajar dari peristiwa sebelumnya, di mana Yesus membungkam kelompok Saduki yang mencoba menjebak-Nya dengan isu pajak melalui jawaban yang sangat menggugah pikiran. Namun, justru dari pertanyaan yang didasari niat kurang bijak ini, kita dianugerahi hikmat untuk memahami fondasi paling mendasar dari kehidupan rohani kita.

Oktober 23, 2026

Sabtu, 24 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXIX


Bacaan  I: Ef 4:7-16 "Kristuslah kepada tubuh, dan daripadanya seluruh tubuh menerima pertumbuhannya."

Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-2.3-4a.4b-5 "Aku bersukacita, ketika orang berkata kepadaku, "Mari kita pergi ke rumah Tuhan."

Bait Pengantar Injil: Yeh 33:11 "Tuhan telah berfirman, "Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan kepada pertobatannya supaya ia hidup."   

Bacaan Injil: Luk 13:1-9 "Jikalau kalian semua tidak bertobat, kalian pun akan binasa dengan cara demikian."
         
warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
   
 
Karya: 279photo/istock.com
 
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, sering kali kita menyadari bahwa kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mendengar pesan yang belum siap mereka terima. Namun pada saat yang sama, kita tidak boleh meremehkan kuasa dari menanam benih. Benih tersebut adalah Kabar Baik, Injil, sebuah pesan keselamatan yang luar biasa dan realitas penuh kuasa yang mewujud dalam diri Yesus Kristus, Sang Juruselamat. Ia datang ke dunia untuk mewartakan kasih Allah yang menyelamatkan, menyentuh kehidupan manusia secara utuh, baik melalui perkataan maupun perbuatan-Nya.

Karya keselamatan ini diawali oleh Tuhan Yesus dengan sebuah panggilan yang mendasar, yakni seruan akan perlunya pertobatan sebagai jalan pembuka agar hati seseorang dimampukan untuk menerima Kabar Baik. Di lembaran-lembaran Injil, seruan pertobatan ini terus ditekankan dan diulang kembali, meskipun kita tahu bahwa ajakan ini bukanlah pesan yang mudah atau nyaman untuk didengar. Pertobatan menuntut kerendahan hati kita untuk menanggalkan kesombongan diri dan mengakui realitas bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang sangat bergantung pada belas kasih Allah. Dalam pewartaannya, tentu ada hati yang akan menanggapi seruan tersebut, sementara yang lain mungkin belum tersentuh, namun apa pun tanggapannya, benih kebenaran itu telah tertanam.

Pada akhirnya, menjadi sebuah doa dan harapan agar seruan untuk bertobat ini tidak berhenti di telinga, melainkan sungguh-sungguh menghasilkan buah pertobatan yang sejati di dalam diri kita. Melalui buah pertobatan itulah kita pada akhirnya dimampukan untuk melangkah keluar sebagai saksi-saksi-Nya yang hidup, meneruskan seruan pertobatan sekaligus membawa Kabar Baik keselamatan bagi sesama, memancarkan kasih-Nya melalui setiap perkataan dan perbuatan kita sehari-hari.

lumenchristi.id 2026 - Situs ini menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan menggunakan situs ini, Anda telah menyetujui penggunaan cookies dari Kami.