Kamis, 10 Juni 2021

Jumat, 11 Juni 2021 Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus

Bacaan I: Hos 11:1.3-4.8c-9 "Hati-Ku berbalik dari segala murka."


Mazmur Tanggapan: MT Yes 12:2-3.4bcd.5-6

Bacaan II: Ef 3:8-12.14-19 “Supaya kamu dapat memahami betapa tinggi dan dalamnya kasih Kristus."

Bait Pengantar Injil: 1Yoh 4:10b "Allah telah mengasihi kita, dan telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita."

Bacaan Injil: Yoh 19:31-37 "Lambung Yesus terbuka, dan mengalirlah darah serta air keluar."

warna liturgi putih 

Minggu lalu kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Sebuah karunia yang memahkotai semua karunia kasih Yesus bagi manusia dan di mana Yesus tinggal bersama kita selamanya. Hari ini Gereja mengundang kita untuk memberikan perhatian langsung pada kasih Hati Kudus Yesus, sumber dan penyebab semua Karunia-Nya.

“Lihatlah hati ini yang telah begitu mencintai manusia.” Sabda Yesus ini diberikan kepada Suster Margareta Maria Alacoque. Ia lahir pada 22 Juli 1647 di Perancis. Pada tahun 1671 ia memasuki biara Visitasi dan mengaku tahun berikutnya. Sejak dia berusia dua puluh tahun, dia mengalami penglihatan tentang Kristus, dan pada tanggal 27 Desember 1673, dia mulai [menerima] serangkaian wahyu yang akan berlanjut selama satu setengah tahun berikutnya. Di dalamnya Kristus memberi tahu dia bahwa dia adalah instrumen pilihan-Nya untuk menyebarkan devosi kepada Hati Kudus-Nya, menginstruksikannya dalam devosi yang dikenal sebagai Sembilan Jumat dan Jam Suci, dan meminta agar pesta Hati Kudus ditetapkan.

Gereja menunjukkan kepada kita bahwa benar-benar di dalam Hati Kristus yang terluka oleh dosa-dosa kita, Allah telah memberi kita harta kasih-Nya yang tak terbatas. “Pikiran Hati-Nya” – hati Yesus – melantunkan Antifon Misa kepada semua generasi untuk membebaskan mereka dari kematian, memberi mereka makan pada saat kelaparan dengan kasih-Nya. Demikianlah hati Yesus selalu mencari jiwa-jiwa untuk diselamatkan, dibebaskan dari jerat dosa untuk membasuh dalam darah-Nya, memberi makan dengan tubuh-Nya. Hati Yesus ini selalu hidup dalam Ekaristi untuk memuaskan rasa lapar semua orang yang merindukan Dia, untuk menyambut dan menghibur semua orang yang, frustrasi oleh tantangan hidup, berlindung di dalam Dia, mencari kedamaian dan kesegaran. Dengan Ekaristi dan dengan Hati Kudus-Nya, Yesus sendiri menjadi penopang kita di jalan sulit hidup kita.

Injil hari ini menunjukkan kepada kita Hati-Nya ditusuk dengan tombak. Dari penikaman itu keluarlah darah dan air. Darah dan air melambangkan Sakramen Gereja, sebagaimana didaraskan pada prefasi Misa Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus. Air melambangkan pembaptisan dan darah melambangkan Ekaristi. "Berkat kasih-Nya yang tak terhingga, Ia telah menyerahkan diri bagi kami ketika Ia ditinggikan di kayu salib. Ia mengalirkan darah dan air dari lambung-Nya yang ditikam; dari situlah memancar sakramen-sakramen Gereja agar semua orang, yang ditarik kepada Hati Juru Selamat yang terbuka itu, senantiasa minum dari sumber-sumber keselamatan dengan gembira." (Prefasi HR Hati Yesus Yang Mahakudus) Dua sakramen ini adalah dasar yang menghidupi setiap orang beriman agar memperoleh keselamatan.  
   
St. Paulus, dalam Surat yang indah ini, mendorong kita untuk masuk lebih dalam ke dalam Hati Yesus untuk merenungkan kekayaan-Nya yang tak terselidiki dan untuk masuk ke dalam misteri yang tersembunyi dari hidup kekal di dalam Allah. Inilah misteri kasih Ilahi yang tak terbatas yang telah mendahului kita dari segala kekekalan dan diungkapkan kepada kita oleh Sabda yang menjadi daging. Gereja menawarkan devosi kepada Hati Kudus Yesus untuk mengilhami cinta kita.

Dalam setiap pencobaan, kita harus mengarahkan hati dan pikiran kita kepada Hati Yesus. Hati Yesus adalah tempat perlindungan kita yang paling pasti, jika kita ingin lepas dari jerat Setan dan kecenderungan jahat kita sendiri, kita harus berlindung di Hati Yesus yang menaklukkan Setan. Kita harus memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan dalam Hati yang lemah lembut ini terlepas dari semua kesalahan dan ketidaksetiaan kita setiap hari. Dengan keyakinan seperti itu, kita juga harus mencari Hati Yesus sebagai tempat perlindungan yang pasti dalam semua kejatuhan kita. Kita akan sering melakukan kesalahan melalui kelemahan atau keterkejutan terlepas dari semua niat baik kita. Marilah kita kemudian merendahkan diri dan mengakui kelemahan kita dengan kerendahan hati. Tetapi kita tidak boleh membiarkan pengalaman kejatuhan kita memisahkan kita dari hati Yesus. Kita harus kembali kepada-Nya seperti anak yang hilang kepada ayahnya dan meminta pengampunan-Nya sambil mencium luka-luka suci-Nya dan memperbarui tekad kita untuk tinggal di dalam hati-Nya, yang penuh dengan kebaikan dan belas kasihan.

Dennis Jarvis from Halifax, Canada  
Creative Commons Attribution-Share Alike 2.0 Generic