Juli 03, 2022

Senin, 04 Juli 2022 Hari Biasa Pekan XIV

Bacaan I: Hos 2:13.14b-15.18-19 "Aku akan menjadikan dikau istriku untuk selama-lamanya."
 
Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3.4-5.6-7.8-9 "Tuhan itu pengasih dan penyayang."

Bait Pengantar Injil: 2Tim 1:10b "Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil."

Bacaan Injil: Mat 9:18-26 "Anakku baru saja meninggal; tetapi datanglah, maka ia akan hidup."
 
warna liturgi hijau  

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini

Seorang perempuan muda, yang menderita selama bertahun-tahun, muncul di belakang Yesus dan menyentuh rumbai di jubahnya. Yesus melihatnya, dan berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anakku, imanmu telah menyelamatkan dikau.” Paus Leo Agung pernah berkata, “Kebajikan tidak ada artinya tanpa cobaan atau godaan karena tidak ada konflik tanpa musuh dan tidak ada kemenangan tanpa perselisihan.”

Musuh terbesar iman adalah ketakutan kita. Ketakutan yang tercipta dari imajinasi kita dan/atau dari pengalaman masa lalu. Tuhan meminta kita untuk menjadi seperti anak kecil karena suatu alasan. Anak-anak tidak memiliki sejarah panjang kekecewaan, dibohongi, disakiti oleh orang lain. Anak-anak percaya pada kebaikan. Itulah yang membuat mereka begitu mudah untuk percaya kepada Tuhan. Apakah Anda percaya pada kebaikan Tuhan atau apakah pengalaman masa lalu menciptakan keraguan besar?

Seorang kepala rumah ibadat maju ke depan, berlutut di hadapan Tuhan dan berkata, “Anakku perempuan baru saja meninggal; tetapi datanglah, letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka Ia akan hidup.” Apakah kepala rumah ibadat ini benar-benar percaya kepada Yesus? Atau apakah itu satu upaya putus asa terakhir dari seorang ayah yang putus asa?

Saat kita merenungkan ayat-ayat ini, kita harus ingat bahwa perempuan dan kepala rumah ibadat itu menunjukkan iman yang besar! Mereka berdua memiliki banyak kerugian. Kepala rumah ibadat mempertaruhkan reputasinya; perempuan itu mempertaruhkan hidupnya! Iman, tanpa pencobaan, bukanlah kebajikan. Ya, mereka putus asa. Tetapi keputusasaan tidak selalu mengarah ke jalan yang benar. Mereka dituntun berlutut dan berdiri di hadapan Tuhan. Apakah Tuhan itu baik? Tanggapannya adalah jawaban kita.

Satu-satunya alasan mengapa Bapa mengutus Putra-Nya adalah karena itu adalah satu upaya putus asa terakhir, dari seorang Bapa yang putus asa, untuk menyelamatkan anak-anak-Nya yang sekarat. Tidak ada yang berhasil. Tidak ada orang lain yang berhasil. Orang-orang yang Dia utus diabaikan atau dibunuh. Dibutuhkan banyak darah – pendarahan – keringat, air mata dan kematian untuk membuat kita berlutut dan menyembah Tuhan. Apakah Tuhan itu baik? Dia lebih dari baik! Dia adalah Bapa kita! Dia adalah saudara kita! Dia adalah penolong kita! “Datanglah kepada-Ku kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, dan Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” Dia akan memberimu istirahat karena Dia akan memikul salibmu!

Iman kepada Tuhan berarti percaya pada kebaikan Tuhan. Iman adalah yang menyelamatkan karena iman membawa kita kepada Tuhan. Hal ini memungkinkan kita untuk melampaui indera dan kecerdasan kita; untuk melihat melampaui pandangan kita, dan meraih rumbai jubah-Nya yang tak berarti.

"Dan berita ini menyebar ke seluruh negeri itu!"

Semoga kita menyebarkan kabar baik hari ini kepada semua orang yang menderita dan sedang mengalami ujian - pencobaan. Dan jika kita sendiri mengalami kesulitan seperti itu, semoga kita menghampiri Tuhan dengan iman dan kasih. Tuhan memberkati.

Ingat, percaya kepada Kristus berarti menerima Dia. Menerima Dia berarti mengikuti Dia. Mengikuti Dia berarti meneladani Dia.