Rabu, 05 Mei 2021

Kamis, 06 Mei 2021 Hari Biasa Pekan V Paskah

Bacaan I: Kis 15:7-21 "Kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah."
 
Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-2a.2b-3; R: lih3
 
Bait Pengantar Injil: Yoh 10:27 "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, sabda Tuhan. Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku."
    
Bacaan Injil: Yohanes 5:9-11 "Allah telah menetapkan kamu supaya pergi dan menghasilkan buah." 
 
warna liturgi putih
 
   Jika kita mengasihi Yesus lebih dari apapun, kita akan menjaga diri kita bebas dari dosa demi Yesus. Jika kita mencintai Yesus, kita akan berusaha untuk memberikan diri kita sepenuhnya kepada-Nya. Ketika kita berdosa, kita menyerahkan diri kita kepada sesuatu selain Yesus atau kepada orang lain selain Yesus. 
 
 Kadang-kadang kita mendengar orang membuat pernyataan seperti, “Yesus mengerti bahwa saya manusia. Dia akan mengampuni saya. " Yesus pemaaf, kita tidak meragukan belas kasihan Yesus. Tetapi jika kita mengasihi Yesus lebih dari apapun kita akan menempatkan Yesus di atas apapun yang menggoda kita dan kita akan mencoba untuk membasmi dosa itu dari hidup kita sepenuhnya.

Oleh karena itu, mengasihi Yesus bukan hanya sesuatu yang emosional; mencintai Yesus berarti mengubah hidup kita, mereformasi hidup kita, memperbaiki kepribadian dan karakter kita, mengatasi kebiasaan berdosa, mengembangkan diri kita untuk mencintai seperti yang Yesus kasihi. Mengasihi Yesus berarti memikirkan tentang diri kita sendiri dan orang lain seperti yang Yesus pikirkan. 
 
  Jika kita mengisi pikiran kita dengan kotoran dunia bagaimana kita bisa mencintai Yesus? Itu tidak mungkin untuk menaati perintah-perintah-Nya. Marilah kita mengisi pikiran kita dengan pikiran Yesus agar kita dapat mengasihi Dia dan menaati perintah-perintah-Nya.

 Sekali lagi kata-kata Yesus adalah, "Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya." (Yohanes 15:10) Kita tidak dapat memiliki kasih murni Yesus bila dosa tinggal dalam hidup kita pada saat yang bersamaan. Seperti yang Yesus katakan dalam Mat 6:24, "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan." 
 
 Yesus yang benar-benar mengasihi menuntun kita untuk menyerahkan apa pun dalam hidup kita yang menjauhkan kita dari Yesus. Yesus yang benar-benar mengasihi menuntun kita untuk membuat perubahan dalam cara kita hidup, berpikir, dan bertindak. Dosa menempatkan Yesus di tempat kedua tetapi ketika kita mengasihi Yesus, kita menempatkan Yesus di tempat pertama sehingga kita akan menaati perintah-perintah-Nya. 
  
  Bagaimana kita tahu jika kita mencintai Yesus? Lihatlah cara kita menjalani hidup kita. Apakah kita hidup sesuai ajaran Yesus? Apakah kita hidup seperti yang diminta Yesus melalui ajaran Gereja? Jika ya, maka kita tahu bahwa kita mengasihi Yesus. Tetapi jika kita berkata bahwa kita mencintai Yesus namun terus berpikir atau bertindak dengan cara yang berlawanan dengan Yesus maka kita melihat bahwa kita tidak mengutamakan Yesus, kita tidak benar-benar mencintai Yesus karena kita tidak menaati perintah-perintah-Nya. Dan jika kita benar-benar mencintai Yesus dan tidak memahami ajaran Gereja tentang suatu masalah, kasih kita kepada Yesus akan mendorong kita untuk menyelidiki dan belajar sampai kita memahami mengapa Gereja mengajarkan apa yang Dia lakukan sehingga kita tidak akan menyakiti Yesus dengan tidak mematuhi. perintah-Nya. Jadi bagi beberapa orang, mencintai Yesus mungkin berarti dengan rendah hati berjalan di jalan kepercayaan sampai pemahaman yang lebih jelas datang.

  Ketika kita mematuhi perintah-perintah, kita tidak hanya mengasihi Yesus tetapi kita juga memiliki kasih Tuhan di dalam kita. Kapanpun kehidupan Tuhan kurang dalam diri kita, itu bukan kesalahan Tuhan, itu kesalahan kita. Bukan Tuhan yang mengirim kita ke Api Penyucian, kita mengirim diri kita ke Api Penyucian karena jika jiwa kita najis kita akan dibutakan oleh cahaya murni kasih Tuhan dan kita perlu menyucikan diri untuk dapat menikmati penglihatan Tuhan di surga. Tuhan tidak mengirim siapa pun ke neraka, siapa pun yang pergi ke neraka melakukannya karena mereka telah memilih untuk menolak cinta Tuhan sepenuhnya. 
 
 Sebagai orang beriman, hidup dalam kasih akan memberi kita kekuatan untuk tetap melakukan hal-hal yang baik dan berguna bagi diri dan orang lain. Ini yang mesti kita yakini. Ini yang mesti kita hidupi dalam perjalanan hidup sehari-hari. Dengan demikian, hidup ini memiliki makna yang di dalam. Tuhan memberkati.
 

    Di dalam perayaan Ekaristi, “…kita disatukan dengan ‘liturgi’ surgawi dan menjadi bagian dari para kudus yang jumlahnya berlaksa-laksa yang menyerukan, “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!” (Why 7:10). Ekaristi adalah sungguh sekilas surga yang nampak di dunia.” (St. Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia, 19)