Jumat, 14 Mei 2021

Sabtu, 15 Mei 2021 Hari Biasa Pekan VI Paskah

 NOVENA ROH KUDUS HARI KEDUA

 Bacaan I: Kis 18:23-28 "Apolos membuktikan dari Kitab Suci, bahwa Yesus adalah Mesias."

 Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3.8-9.10; R: 6 "Allah adalah Raja seluruh bumi."

 Bait Pengantar Injil: Yoh 16:28 "Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; kini Aku meninggalkan dunia lagi dan pergi kepada Bapa."

 Bacaan Injil: Yoh 16:23b-28 "Bapa mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya."

warna liturgi putih 

  Pernahkah Anda memerhatikan murid TK belajar mewarnai gambar? Umumnya, anak-anak itu menghadapi dua macam kesulitan. Pertama, mereka sulit mencari warna yang cocok dengan gambarnya. Kedua, mereka mencoret-coretkan pensil atau spidol berwarna keluar dari garis batas gambar yang ada. Hasilnya tidak bagus untuk dilihat.

Tetapi ketika usia anak-anak itu bertambah dan kemampuan mereka juga makin berkembang, mereka dapat memilih warna yang cocok. Hasil karyanya tidak lagi keluar dari garis batas yang ada pada gambar itu. Dengan demikian kita akan melihat hasil karya yang bagus dan memuaskan.

Doa yang baik itu tidak langsung jadi. Doa itu mengalami proses dalam hidup manusia. Awalnya doa kita masih banyak salah. Doa kita masih seperti ungkapan hati anak-anak. Lambat laun doa kita menjadi doa yang baik dan lebih berkenan kepada Tuhan. Doa kita menjadi lebih bermakna.
   
Banyak orang salah menafsirkan janji yang dibuat Yesus dalam Injil Yohanes 16: 23b "Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.". Mereka memegang keyakinan yang belum dewasa bahwa Tuhan akan memberi mereka apa pun yang mereka inginkan, saat mereka menginginkannya. Saya suka menyebut pandangan ini berdoa kepada dewa ATM; Anda menyelipkan kartu doa ke dalam kios iman dan menarik uang bantuan ilahi secara otomatis. Sayangnya, pandangan seperti itu mereduksi Tuhan menjadi prinsip atau kekuatan yang dapat kita manipulasi. Ini bukanlah Bapa dari Tuhan kita Yesus Kristus.

  Bacalah dalam konteksnya, Yesus menjanjikan keintiman dan, bersama dengan kedekatan seperti itu, nikmat ilahi yang bergantung pada kehendak Bapa. Klausa terakhir ini adalah peringatan, karena menuntut jawaban atas pertanyaan, "Apa kehendak Tuhan untuk hidup saya?" Apakah kita mencari kehendak-Nya atau kepentingan diri sendiri?"Jika kita mencari apa yang Tuhan inginkan, bukan yang kita inginkan, Yesus berjanji Dia akan berbicara kepada kita dengan jelas, karena Dia berdoa kepada Bapa atas nama kita.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang kehendak Tuhan turun ke pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kita mencintai Tuhan lebih dari diri kita sendiri? Jika kita melakukannya, kita akan percaya bahwa Yesus berasal dari Bapa dan akan menikmati cinta Tritunggal. Apakah itu lebih berharga daripada "barang" yang bisa diinginkan oleh hati kita yang egois?  
 
 
Foto: pexels-vanderlei-longo-2081128 / CC0