| Home | Indonesian Papist | Renungan Pagi| Doa Umat Misa Harian | Privacy Policy | Support Lumen Christi |



Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Oktober 13, 2026

Rabu, 14 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXVIII


Bacaan I: Gal 5:18-25 "Barangsiapa menjadi milik Kristus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya."
       

Mazmur Tanggapan: Mzm 1-2.3.4.6; R: Mzm 40:5a "Yang mengikuti Engkau, ya Tuhan, hidup dalam cahaya."

Bait Pengantar Injil: Yoh 10:27 "Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan; Aku mengenal mereka, dan mereka mengenal Aku."

Bacaan Injil: Luk 11:42-46 "Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi! Celakalah kamu, hai ahli-ahli kitab."
   
     warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau
klik tautan ini
 
Tidak ada seorang pun yang suka dikritik atau diberi tahu mengenai kesalahan dan kekurangan mereka. Secara naluriah, kita akan bersikap defensif dan balik mengkritik orang lain. Biasanya, hal itulah yang membuat hubungan menjadi retak, bahkan bisa berujung pada kekerasan.

Dalam Injil, Yesus menunjukkan kesalahan dan kekurangan orang-orang Farisi, dan seorang ahli Taurat bereaksi dengan mengatakan bahwa Yesus juga menghina mereka. Kita tentu tidak suka dihina, baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun, mari kita sejenak mencermati reaksi naluriah kita. Ketika kita merasa terusik atau marah saat orang lain mengkritik kita, bisa jadi mereka sedang menunjukkan sesuatu tentang diri kita yang sebenarnya enggan kita akui. Bisa jadi orang lain melihat asapnya, namun kita tidak ingin mereka melihat apinya. 
 
Akan tetapi, sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama, jika kita dipimpin oleh Roh, kita akan memiliki kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan hati, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Saat menghadapi kritik dan komentar negatif, marilah kita memohon kasih karunia penguasaan diri dari Roh Kudus. Semoga Roh Kudus membimbing kita untuk melihat kesalahan dan kekurangan kita, agar kita dapat bangkit menuju kehidupan dalam Roh.

Oktober 12, 2026

Selasa, 13 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXVIII


Bacaan I: Gal 4:31b-5:6 "Sunat tidak berarti sama sekali; yang berarti hanyalah iman yang bekerja melalui cinta kasih."

Mazmur Tanggapan: Mzm 119:41.43-45.47.48 "Semoga kasih setia-Mu mendatangi aku, ya Tuhan."

Bait Pengantar Injil: Ibr 4:12 "Sabda Allah itu hidup dan penuh daya, menguji segala pikiran dan maksud hati."

Bacaan Injil: Luk 11:37-41 "Berikanlah sedekah dan semuanya menjadi bersih."
        
     warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini



 
   
Seringkali kita merasa aman dan nyaman saat hidup berjalan sesuai dengan aturan dan petunjuk yang ada, sebab ketaatan semacam itu seakan menjanjikan kebebasan dari kesalahan maupun masalah. Kenyamanan ini bahkan kerap membuat kita terbuai hingga mudah merasa gelisah, kesal, atau bersikap defensif ketika melihat ada orang lain yang mengabaikan atau mempertanyakan aturan tersebut. Kecenderungan manusiawi yang terpaku pada aturan luar inilah yang tergambar jelas ketika seorang Farisi merasa terheran-heran melihat Yesus tidak mencuci tangan sebelum makan. Dalam hal ini, Yesus sama sekali tidak bermaksud meremehkan kebiasaan baik tersebut, melainkan Ia ingin mengajak kita menyelami makna yang lebih esensial. Ia mengingatkan bahwa rutinitas menjaga kebersihan lahiriah seharusnya menjadi cermin yang memantulkan kerinduan kita akan kebersihan batin dan kemurnian rohani. 
   
Kesadaran akan pentingnya batin yang murni ini beresonansi dengan sangat indah melalui pesan Rasul Paulus, yang menegaskan bahwa inti dari segalanya adalah iman yang bekerja melalui kasih. Apabila hati kita sungguh-sungguh bersih, iman kita tidak akan sekadar berhenti pada ketaatan yang kaku, melainkan akan memancar keluar secara alami melalui tindakan-tindakan nyata yang penuh kasih. Pada akhirnya, kasih itulah yang akan memurnikan niat kita dalam mengikuti petunjuk kehidupan dengan tulus, sekaligus memampukan kita untuk membimbing sesama dengan penuh kelembutan, bukan dengan penghakiman.

Oktober 11, 2026

Senin, 12 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXVIII

 

Bacaan I: Gal 4:22-24.26-27.31-5:1 "Kita ini bukanlah anak dari wanita hamba, melainkan dari wanita merdeka."

Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-2.3-4.5a.6-7 "Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan, sekarang dan selama-lamanya."

Bait Pengantar Injil: Mzm 95:8ab "Hari ini dengarkanlah suara Tuhan, dan janganlah bertegar hati."

Bacaan Injil: Luk 11:29-32 "Angkatan ini tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus.
 
 warna liturgi hijau

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
 


Kehidupan ini sejatinya adalah sebuah rangkaian penyelesaian masalah yang tidak pernah benar-benar usai; ketika satu rintangan berhasil dilampaui, rintangan lain sudah menanti di tikungan berikutnya. Kenyataan ini seharusnya tidak lagi mengejutkan kita, namun yang pantas menjadi bahan introspeksi terdalam adalah sumber dari masalah-masalah tersebut. Jika kita bersedia jujur menilik ke dalam diri, kita akan menyadari bahwa sebagian besar kemelut yang kita hadapi sering kali adalah buah dari kelalaian dan keengganan kita sendiri. Kehidupan jarang sekali mendatangkan badai tanpa memberikan tanda-tanda awal berupa awan mendung. Sayangnya, kita kerap terjebak dalam rasa nyaman atau penyangkalan, mengabaikan percikan-percikan kecil tersebut hingga akhirnya ia meledak menjadi kobaran api yang menghanguskan. Pepatah lama yang mengatakan bahwa tidak akan ada asap tanpa api sangatlah tepat—kita sering kali sudah mencium bau asapnya, merasakannya, namun memilih untuk berpura-pura tidak tahu dan menunda bertindak sampai api benar-benar membakar kedamaian kita.

Jadilah Pelita Kasih Bersama Kami

Terima kasih sudah menyediakan waktu sejenak untuk merenungkan kebaikan Tuhan bersama lumenchristi.id. Apabila sapaan Sabda Tuhan hari ini memberkati dan meneguhkan hati Anda, kami mengundang Anda untuk ikut serta mendukung pelayanan ini.

Setiap persembahan kasih yang Anda salurkan melalui QRIS akan menjadi pelita yang mencerahkan langkah kami untuk menjangkau lebih banyak jiwa, mendekatkan mereka pada Kristus dan Gereja-Nya.

Doa kami senantiasa menyertai Anda dan keluarga. Tuhan Yesus memberkati.






 


Oktober 09, 2026

Minggu, 11 Oktober 2026 Hari Minggu Biasa XXVIII

 
Bacaan I: Yes 25:6-10a "Tuhan akan menghidangkan suatu jamuan, dan menghapus air mata dari wajah semua orang."

Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6; Ul:lh.6cd "Aku akan tinggal di rumah Tuhan sepanjang usia hidupku."

Bacaan II: Flp 4:12-14.19-20 "Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."
        
Bait Pengantar Injil: Ef 1:17-18 "Bapa Tuhan kita Yesus Kristus kiranya menerangi mata hatimu agar kamu mengerti pengharapan apa yang terkandung dalam panggilan kita."

Bacaan Injil: Mat 22:1-14 "Undanglah setiap orang yang kalian jumpai ke pesta nikah ini"

warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
Diocese of SiouxFall
 
 
Kita mungkin berpikir bahwa hidup akan sangat menyenangkan jika kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan. Kita senang memiliki kebebasan dan tidak ingin dibatasi oleh tugas serta tanggung jawab. Jadi, kita mungkin beranggapan bahwa dengan bebas dari segala kewajiban, kita akan hidup tanpa kekhawatiran dan masalah. Ya, kita ingin benar-benar bebas menjalani hidup sesuai keinginan kita. Kita ingin bersantai, tidur sepuasnya, dan bangun kapan pun kita mau. Namun, apakah kita benar-benar akan bahagia dengan kehidupan seperti itu? Apa yang sebenarnya kita tunjukkan tentang diri kita ketika kita tidak mau peduli pada apa pun atau siapa pun selain diri sendiri? Apa maknanya ketika kita menolak tugas dan tanggung jawab, serta enggan memenuhi kewajiban dan komitmen?

Dalam perumpamaan Injil, dikisahkan seorang raja yang mengadakan pesta pernikahan untuk putranya. Ia mengutus para pelayannya untuk memanggil orang-orang yang telah diundang. Entah karena alasan apa, para tamu undangan itu tidak mau datang. Tampaknya mereka tidak tertarik, bahkan mereka memperlakukan pelayan raja dengan sikap bermusuhan dan kekerasan. Sang raja menjadi murka dan mengerahkan pasukannya; mereka membinasakan para pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sungguh akhir yang menyedihkan dan tragis bagi para tamu undangan tersebut. Seandainya saja mereka menunjukkan rasa hormat yang pantas kepada sang raja. Bagaimanapun juga, sosok yang mengundang mereka adalah seorang raja. Kita mungkin menganggap perumpamaan itu agak tidak masuk akal, namun hal yang tidak masuk akal sering kali menyingkapkan suatu kenyataan. Kenyataannya adalah, ketika rasa hormat tidak diberikan, maka konsekuensinya adalah ketegangan. Bagi para tamu undangan dalam perumpamaan Injil tersebut, konsekuensinya adalah hukuman. Kita bahkan bisa mengatakan bahwa perilaku para tamu undangan itu konyol dan tidak dapat diterima, sehingga mereka memang pantas dihukum. Para tamu undangan itu melakukan apa pun yang mereka inginkan, dan mereka harus menanggung akibat yang berat serta tragis karenanya.

Oktober 08, 2026

Sabtu, 10 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXVII

  

Bacaan I: Gal 3:22-29 "Kalian adalah anak-anak berkat iman."

Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-3.4-5.6-7 "Tuhan akan selalu ingat akan perjanjian-Nya."

Bait Pengantar Injil: Luk 11:28 "Berbahagialah yang mendengarkan sabda Tuhan dan memeliharanya."

Bacaan Injil: Luk 11:27-28 "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau!"
        
warna liturgi hijau
 
   Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
  Berbicara mengenai naluri keibuan, hal pertama yang terlintas di benak kita adalah kasih sayang dan perlindungan seorang ibu terhadap anak-anaknya. Naluri keibuan itu begitu luar biasa hingga seorang ibu rela mengorbankan nyawanya demi anak-anaknya. Dan jika seorang ibu hanya memiliki satu anak, tentu saja seluruh perhatian dan energinya akan dicurahkan kepada anak tersebut.

Bunda Maria mengasihi dan merawat Yesus sebagai satu-satunya anaknya. Ia juga menyadari bahwa Allah telah memercayakan Putra tunggal-Nya kepadanya. Ketika tiba saatnya bagi Yesus untuk menjalankan misi-Nya, Bunda Maria harus merelakan-Nya pergi karena ia tahu bahwa hal itu merupakan kehendak Allah. Namun, Yesus tetaplah Putranya, darah dagingnya sendiri; dan seperti ibu pada umumnya, ia tentu mendambakan kehadiran Yesus di sisinya. Saat Yesus menderita dan wafat di kayu salib, rasa pedih yang dirasakan Bunda Maria sungguh tak terlukiskan, sebab tiada kata-kata yang mampu mengungkapkan kepedihan hati orang tua yang kehilangan anaknya. Akan tetapi, melampaui naluri keibuannya, Bunda Maria menyerahkan diri sepenuhnya pada kehendak Allah.

Bunda Maria adalah teladan iman karena ia melakukan apa yang dikehendaki Allah, bukan apa yang menjadi keinginan atau kehendaknya sendiri. Yesus menyerahkan Maria untuk menjadi ibu kita saat Ia sedang sekarat di kayu salib. Marilah kita menghormati serta mengasihi Bunda Maria, dan belajar darinya untuk melakukan kehendak Allah.

Jumat, 09 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXVII


Bacaan I: Gal 3:7-14 "Mereka yang hidup dari iman akan diberkati bersama Abraham yang beriman."
 
Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2.3-4.5-6 "Tuhan selalu ingat akan perjanjian-Nya."

Bait Pengantar Injil: Yoh 12:32 "Sekarang penguasa dunia ini dibuang ke luar, sabda Tuhan; dan bila Aku telah ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang kepada-Ku."
 
Bacaan Injil: Luk 11:15-26 "Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka Kerajaan Allah sudah datang kepadamu."        

warna liturgi hijau 
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini

Dalam hidup, akan ada orang yang menyukai kita, dan ada pula orang yang tidak menyukai kita. Kita mungkin penasaran mengapa orang menyukai kita, dan mungkin lebih penasaran lagi mengapa ada orang yang tidak menyukai kita. Mengenai mereka yang tidak menyukai kita, ada dua pilihan yang bisa kita pertimbangkan. Kita bisa berusaha menyenangkan hati mereka agar mereka menyukai kita, atau kita bisa memilih untuk mengabaikan mereka saja.

Dalam Injil, ketika Yesus mengusir setan, ada orang-orang yang melontarkan komentar yang meremehkan tentang Dia. Jelas sekali, orang-orang itu tidak menyukai Yesus karena alasan tertentu, padahal apa yang dilakukan-Nya adalah hal baik dan tidak membahayakan ataupun menyinggung perasaan siapa pun. Meski demikian, Yesus tidak menaruh dendam kepada mereka; Dia bahkan memberikan pengajaran untuk membantu mereka melihat kebenaran, jika mereka bersedia menerimanya. Kita sendiri mengenal siapa Yesus, dan bersama Dia, kita ingin merangkul mereka yang berkeinginan untuk mengenal-Nya. Bagi mereka yang tidak menyukai Yesus karena alasan tertentu, marilah kita mendoakan mereka. Mungkin suatu hari nanti, kita akan dipanggil untuk merangkul mereka dan menuntun mereka kepada Yesus.

Oktober 07, 2026

Kamis, 08 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXVII


Bacaan I: Gal 3:1-5 "Adakah kalian menerima Roh karena melakukan hukum atau karena percaya akan pewartaan Injil?"

Kidung Tanggapan: Luk 1:69-70.71-72.73-75 "Terpujilah Tuhan Allah Israel, sebab Ia mengunjungi umat-Nya."

Bait Pengantar Injil: Kis 16:14b "Tuhan, bukalah hati kami, supaya kami memperhatikan sabda Anak-Mu."

Bacaan Injil: Luk 11:5-13 "Mintalah, maka kalian akan diberi."

warna liturgi hijau 
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 


 

Menarik untuk disadari bahwa secara fisik, dibutuhkan lebih banyak regangan otot mulut untuk mengucapkan kata "ya" dibandingkan dengan kata "tidak", yang bisa kita gumamkan nyaris tanpa membuka bibir. Kesederhanaan gerak fisik ini seolah mencerminkan respons naluriah kita saat dihadapkan pada permintaan tolong dari orang lain; menolak sering kali terasa jauh lebih mudah, otomatis, dan minim usaha. Terlebih lagi, permintaan tersebut acap kali tidak menawarkan keuntungan apa pun bagi kita, bahkan tak jarang berpotensi merepotkan dan mengganggu kenyamanan hidup kita.

Dalam Injil, Yesus menyentuh realitas manusiawi ini melalui perumpamaan-Nya, mengajak kita merenungkan kembali bagaimana sikap hati kita saat ada seseorang yang benar-benar membutuhkan uluran tangan. Sebelum pikiran kita sibuk mengalkulasi seberapa besar waktu dan tenaga yang akan terkuras, ada baiknya kita berhenti sejenak dan memutar memori pada saat-saat di mana kita sendiri merasa tak berdaya dan berseru memohon pertolongan Tuhan. Yesus mengingatkan bahwa Allah yang penuh kasih tak pernah berhitung saat melimpahkan kebaikan-Nya; Ia selalu rindu menolong dan memberikan yang terbaik bagi hidup kita.

Kesadaran akan cinta kasih dan doa-doa kita yang telah dijawab inilah yang seharusnya menjadi penuntun langkah kita. Ketika kita sungguh menyadari betapa melimpahnya berkat yang telah Tuhan karuniakan saat kita berada di titik terendah, keinginan untuk membagikan kebaikan itu kepada sesama akan bertumbuh dengan sendirinya. Pada akhirnya, ingatan akan kebaikan Tuhan itulah yang akan melembutkan hati kita, mengubah respons naluriah "tidak" yang mudah diucapkan bibir, menjadi sebuah tindakan "ya" yang meregangkan ego kita dan menghadirkan kasih bagi mereka yang membutuhkan.

Oktober 06, 2026

Rabu, 07 Oktober 2026 Peringatan Wajib Santa Perawan Maria, Ratu Rosario

Bacaan I: Gal 2:1-2.7-14 "Mereka melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku."

Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1bc.2 "Pergi ke seluruh dunia, wartakanlah Injil!"

Bait Pengantar Injil: Rm 8:15 "Kalian akan menerima roh pengangkatan menjadi anak; dalam roh itu kita akan berseru, 'Abba, ya Bapa.'"

Bacaan Injil:  Luk 11:1-4 "Tuhan, ajarilah kami berdoa."
 
warna liturgi putih
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini


Sebagai ungkapan syukur atas kemenangan di Lepanto melawan pasukan Ottoman, Paus Santo Pius V menetapkan perayaan tahunan untuk menghormati Santa Maria dari Kemenangan pada tahun 1571. Dua tahun kemudian, Paus Gregorius XIII mengubah gelar tersebut menjadi Santa Maria Ratu Rosario.

Setiap umat Katolik tentu sangat mengenal dan menghafal doa "Bapa Kami", satu-satunya doa yang diajarkan langsung oleh Yesus kepada para pengikut-Nya. Doa ini senantiasa menemani kita dalam setiap perayaan Ekaristi, dalam untaian rosario, serta di berbagai momen kehidupan, baik suka maupun duka. Namun, mungkin jarang kita sadari bahwa Injil mencatat doa ini dalam dua konteks yang berbeda. Santo Lukas menuliskannya dalam versi yang lebih singkat, seolah Yesus sedang meletakkan dasar-dasar yang paling esensial bagi para murid-Nya sesaat setelah Ia sendiri selesai berdoa. Sementara itu, Santo Matius mencatat versi yang lebih lengkap di tengah penyampaian Khotbah di Bukit. Perbedaan versi ini bukanlah sebuah pertentangan, melainkan cara Tuhan menekankan poin-poin dasar yang sama tentang bagaimana kita seharusnya menyapa Allah. 

Tuhan Yesus mengundang kita untuk memanggil Allah Yang Mahatinggi dengan sebutan "Bapa", sebuah sapaan yang sangat intim dan penuh kehangatan, layaknya seorang anak yang meringkuk aman dalam pelukan lengan ayah yang selalu siap sedia menopang segala kelemahannya. Di balik kesederhanaan kata-katanya, doa Bapa Kami menyimpan kedalaman makna yang luar biasa, merangkum tujuh permohonan yang melambangkan kesempurnaan. Paus Santo Yohanes Paulus II pernah mengungkapkan bahwa segala hal yang dapat dan harus kita sampaikan kepada Bapa telah terkandung di dalamnya. Doa ini begitu sederhana sehingga mudah dipelajari oleh seorang anak kecil, namun begitu dalam hingga para orang kudus—seperti Santo Fransiskus, Santa Teresa dari Avila, dan Santo Agustinus—bisa menghabiskan seluruh hidup mereka untuk merenungkannya. Santo Thomas Aquinas menyebutnya sebagai doa yang sempurna, dan Tertullian memandangnya sebagai ringkasan dari seluruh Injil. Sesungguhnya, setiap wujud doa yang kita sampaikan dengan kata-kata kita sendiri pasti akan bermuara pada salah satu dari ketujuh permohonan ini.

Oktober 05, 2026

Selasa, 06 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXVII

 

Bacaan I: Gal 1:13-24 "Allah berkenan menyatakan Anak-Nya dalam diriku agar aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa."

Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3.13-14ab.14c-15; R:13b

Bait Pengantar Injil: Lk 11:28 "Berbahagialah yang mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya."

Bacaan Injil: Luk 10:38-42 "Marta menerima Yesus di rumahnya. Maria telah memilih bagian yang terbaik."
 
warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini


 
 

Kekristenan memiliki aspek yang sangat unik: Allah sendirilah yang menyatakan diri-Nya kepada kita. Dialah yang selalu memulai segalanya dan menggerakkan segala sesuatu. Sejak penciptaan dunia hingga saat manusia jatuh ke dalam dosa, inisiatif penyelamatan selalu datang dari-Nya. Ia mengutus Putra tunggal-Nya, Yesus Kristus, untuk menjadi Juruselamat, dan karya penyataan ini terus berlanjut melalui Kitab Suci dan Gereja-Nya.

Rasul  Paulus menyadari penyataan ini secara sangat pribadi. Ia menyadari bahwa Allah telah memilihnya secara khusus, bahkan sejak ia masih berada di dalam kandungan ibunya. Panggilan itu murni karena kasih karunia. Allah memilih untuk menyatakan Putra-Nya di dalam diri Paulus agar ia dapat mewartakan Kabar Baik kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Ada misi dan tujuan spesifik yang Tuhan percayakan kepadanya.

Dalam Injil, kita melihat bagaimana sebuah panggilan ditanggapi. Yesus menegaskan bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik. Ini berarti Maria menanggapi panggilan Allah untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya pada saat itu: duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkan Dia. Di saat yang sama, Yesus juga menyadarkan Marta bahwa Allah memiliki rencana-Nya sendiri. Sama seperti Paulus, Maria, dan Marta, Allah juga memiliki rencana dan misi khusus bagi kita.

Oktober 04, 2026

Senin, 05 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXVII


Bacaan I: Gal 1:6-12 "Jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kalian terima, terkutuklah dia."

Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2.7-8.9.10c "Tuhan selalu ingat akan perjanjian-Nya."

Bait Pengantar Injil: Yoh 13:34 "Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan; yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu."

Bacaan Injil: Luk 10:25-37 "Siapakah sesamaku?"
   
   warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
   

Kita tahu bahwa Kitab Suci adalah Sabda Allah. Untuk benar-benar memahami Sabda Allah, kita perlu mempelajari Kitab Suci agar mengetahui cara menafsirkan makna dari apa yang tertulis di dalamnya. Terdapat banyak sumber yang tersedia yang memuat tafsiran atau ulasan mengenai Firman Allah. Meskipun sebagian besar tafsiran tersebut merupakan penafsiran yang benar atas Firman Allah, ada kemungkinan bahwa beberapa di antaranya memiliki penafsiran yang patut dipertanyakan.

Dalam bacaan pertama, Santo Paulus memperingatkan jemaat Galatia bahwa ada pihak-pihak pengacau di antara mereka yang ingin mengubah Kabar Baik tentang Kristus. Pada intinya, Kabar Baik itu berbicara tentang keselamatan serta kasih kepada Allah dan sesama. Segala penyimpangan dari pesan pokok Kabar Baik tersebut patut dipertanyakan.

Dalam Injil, seorang ahli Taurat—demi membenarkan dirinya sendiri—bertanya kepada Yesus tentang siapa sesamanya, dan Yesus menjawabnya dengan perumpamaan tentang "Orang Samaria yang baik hati". Lalu Yesus mengajukan pertanyaan ini kepadanya: Menurut pendapatmu, siapakah di antara ketiga orang ini yang telah menunjukkan dirinya sebagai sesama bagi orang yang jatuh ke tangan para perampok itu?

Pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri sendiri adalah: Siapakah yang kita anggap sebagai sesama kita? Namun, pertanyaan yang lebih mendalam untuk kita renungkan adalah: Siapakah yang diutus Allah kepada kita agar kita dapat menjadi sesama bagi mereka Ketika kita menyadari bahwa sesama kita bukanlah orang-orang yang kita inginkan, melainkan orang-orang yang diutus Allah kepada kita, barulah kita akan memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan Allah kepada kita melalui Kitab Suci.  

Oktober 03, 2026

Minggu, 04 Oktober 2026 Hari Minggu Biasa XXVII

 
Bacaan I: Yes 5:1-7 "Kebun anggur Tuhan semesta alam ialah kaum Israel."

Mazmur Tanggapan: Mzm 80:9+12.13-14.15-16.19-20; Ul: Yes 5:7 "Kebun anggur Tuhan ialah umat Israel"

Bacaan II: Flp 4:6-9 "Lakukanlah semua yang telah kamu lihat padaku, maka Allah, sumber damai sejahtera, akan menyertai kamu."

Bait Pengantar Inji: Yoh 15:16 "Aku telah memilih kamu dari dunia, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah,  dan buahmu itu tetap, sabda Tuhan."

Bacaan Injil: Mat 21:33-43 "Kebun anggur itu akan ia sewakan kepada penggarap-penggarap lain."
           

warna liturgi hijau

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
 
Kebun anggur Tuhan adalah umat Israel. Kita mengetahui rencana indah Allah dari Perjanjian Lama, yang menunjukkan betapa Yerusalem merupakan tempat yang sangat berharga bagi-Nya. Tempat itu menjadi gambaran awal tentang seperti apa surga kelak. Kita semua akan bersama Allah di surga. Allah menghendaki hal-hal yang luar biasa bagi bangsa Israel. Namun, sebagaimana kita dengar dalam bacaan tadi, jika bangsa Israel tidak menghasilkan buah, Allah akan membiarkan terjadinya kehancuran besar di tengah masyarakat mereka. Bahkan Yerusalem pun—seperti yang kita ketahui—mengalami kehancuran Bait Allah yang megah, dan bangunan itu tidak pernah dibangun kembali. Bayangkan segala ketegangan yang ada di sana, baik ketegangan agama maupun politik. Ketika Yesus datang, Ia membuka pintu lebar-lebar—bukan hanya bagi bangsa Israel, melainkan bagi kita semua—untuk menjadi murid-murid-Nya, serta membiarkan Perjanjian Lama digenapi melalui kedatangan Yesus yang mengajarkan kita cara hidup dan cara mengasihi. Dengan demikian, hati kita dapat terbuka terhadap karunia-karunia indah yang ingin Allah berikan agar kita menghasilkan buah. Namun, jika kita tidak menghasilkan buah, kehancuran dan kemerosotan akan terus terjadi, bahkan di tempat tinggal kita sendiri. Seperti yang banyak dari kita ketahui, bertahun-tahun yang lalu. Kita juga tahu bahwa budaya telah mengalami kompromi dan tantangan selama bertahun-tahun. Jadi pertanyaannya adalah, apa yang akan terjadi di masa depan kita? Saya berani mengatakan bahwa hal itu sangat bergantung pada bagaimana kita membuka hati terhadap rahmat Allah dan menghasilkan buah—bukan hanya dalam cara-cara yang sudah kita jalani, tetapi juga dalam segala hal yang Ia siapkan bagi kita di masa depan. Kita perlu membiarkan rahmat Allah mengalir melalui diri kita dengan cara yang indah dan mendalam—sesuatu yang hanya dapat  dilakukan oleh Allah dengan memberikan rahmat yang kita butuhkan.

Oktober 02, 2026

Sabtu, 03 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXVI

 

Bacaan I:  Ayb 42:1-3.5-6.12-17 "Sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Maka aku mencabut perkataanku."
 
Mazmur Tanggapan: Mzm 119:66.71.75.91.125.130 "Sinarilah hamba-Mu, ya Tuhan, dengan wajah-Mu."

Bait Pengantar Injil: Mat 11:25 "Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan kaunyatakan kepada orang kecil."
 
Bacaan Injil:  Luk 10:17-24 "Bersukacitalah karena nama-Mu terdaftar di surga." 
   
warna liturgi hijau  
  
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau
klik tautan ini   


 
 
 

Lectio (Membaca) Kita dihadapkan pada dua kisah tentang akhir dari sebuah perjalanan. Dalam bacaan pertama, Kitab Ayub ditutup dengan pemulihan nasib Ayub yang hidup penuh berkat di usia lanjut. Meskipun ia tidak pernah menemukan alasan pasti mengapa tragedi dan penderitaan menimpanya, ia mencapai puncak pengenalan akan Allah: "tetapi sekarang mataku sendiri melihat Engkau." Dalam bacaan Injil, ketujuh puluh dua murid kembali kepada Yesus dengan penuh sukacita karena roh-roh jahat takluk di bawah nama-Nya. Namun, Yesus mengarahkan pandangan mereka pada akhir bahagia yang lebih sejati: bersukacita karena nama mereka tercatat di surga, yang akan memampukan mereka menghadapi penganiayaan dan penderitaan di masa depan dengan rela hati.

Meditatio (Merenungkan) Secara manusiawi, kita selalu mengharapkan akhir yang bahagia dalam setiap proyek, tugas, atau babak kehidupan kita—sering kali berupa kesuksesan, pengakuan, dan kebebasan dari rasa sakit. Namun, kebahagiaan sejati menurut kacamata iman tidak selalu berarti hidup yang mulus tanpa hambatan. Ayub mencapai kedamaian bukan karena mendapat jawaban logis atas penderitaannya, melainkan karena ia menyadari kehadiran dan kedaulatan Allah. Rencana-Nya selalu untuk kebaikan, meski sering tak terselami. Para murid diajak untuk tidak terpaku pada kemenangan-kemenangan kecil di dunia, melainkan pada tujuan akhir kekal mereka. Apakah selama ini aku terlalu menuntut Tuhan untuk memberikan "akhir bahagia" versi diriku sendiri? Mampukah aku tetap percaya bahwa segala sesuatu terjadi di bawah pengawasan-Nya demi kebaikanku?

Oratio (Berdoa) Allah Bapa yang Maha Pengasih, aku bersyukur karena rencana-Mu senantiasa mendatangkan kebaikan bagiku. Ampunilah aku ketika aku meragukan kasih-Mu saat badai kehidupan dan penderitaan datang menghampiri. Lepaskanlah aku dari keterikatan pada pencapaian dan pengakuan duniawi. Bukalah mata batinku seperti Engkau membuka mata Ayub, agar dalam setiap penderitaan aku tetap dapat berkata, "Mataku sendiri melihat Engkau." Berikanlah aku keberanian para murid, agar aku bersedia memikul kesulitan hidup dengan rela hati, menyadari bahwa penderitaan saat ini tidak sebanding dengan kemuliaan kelak.

Contemplatio (Kontemplasi) Heninglah sejenak. Lepaskan segala tuntutan agar hidup berjalan tepat seperti yang kamu inginkan. Bayangkan dirimu berada di hadapan Allah yang memegang kendali penuh atas hidupmu. Hadirkan segala kekhawatiran dan rasa sakitmu yang belum terjawab, lalu serahkan ke dalam tangan-Nya. Resapkan sabda Yesus ke dalam batinmu: "Bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga." Biarkan kepastian akan surga ini memberikan kedamaian yang mengalahkan segala ketakutan duniawimu.

Actio (Tindakan) Hari ini, aku akan belajar menerima satu ketidaknyamanan atau kesulitan yang datang tanpa mengeluh. Saat menghadapi situasi yang tidak berjalan sesuai harapan, aku akan mengarahkan hatiku kepada Allah, menyadari kehadiran-Nya, dan mengingatkan diriku sendiri bahwa kebahagiaan sejatiku adalah memiliki nama yang tercatat di surga.

 

Doa Umat
 
Saudara-saudari terkasih, Allah telah menyingkapkan rahasia Kerajaan Surga kepada orang-orang kecil dan sederhana. Ia mengutus kita ke tengah dunia dan memanggil kita untuk bersukacita, bukan semata karena keberhasilan kita, melainkan karena nama kita terdaftar di surga. Dengan hati yang penuh syukur dan rendah hati, marilah kita panjatkan doa-doa permohonan kita kepada-Nya:

Semoga Bapa Suci dan semua imam dipenuhi dengan karunia kebijaksanaan dan keberanian. Marilah kita berdoa:
Tuhan, dengarkanlah umat-Mu. 
 
Semoga pasangan suami istri dalam kehidupan sehari-hari mereka dapat menjadi saksi kasih Kristus bagi Gereja-Nya. Marilah kita berdoa:
Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
 
Semoga semua umat Katolik yang tidak menjalankan iman mereka dipenuhi dengan kerinduan akan kasih Kristus dalam sakramen-sakramen. Marilah kita berdoa: 
Tuhan, dengarkanlah umat-Mu. 

 Ya Allah, Engkaulah sumber segala sukacita kami. Dengarkanlah doa-doa umat-Mu ini dan jauhkanlah kami dari kesombongan rohani. Karuniakanlah kami kebijaksanaan untuk senantiasa menyadari bahwa segala kuasa dan keberhasilan kami berasal dari-Mu. Bimbinglah langkah kami agar senantiasa setia menjadi saksi Injil-Mu, hingga kelak kami boleh memandang kemuliaan-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. 
Amin.  

Oktober 01, 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 Peringatan Wajib Para Malaikat Pelindung

  

 Bacaan I: Kel 23:20-23a "Malaikat-Ku akan berjalan di depanmu."

Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-2.3-4.5-6.10-11 "Malaikat-malaikat akan diperintahkan-Nya untuk menjaga engkau di segala jalanmu."

Bait Pengantar Injil: Mzm 103:21 "Pujilah Tuhan, hai segala tentara-Nya, muliakanlah Dia, hai para hamba yang melakukan kehendak-Nya."

Bacaan Injil: Mat 18:1-5.10 "Malaikat mereka di surga selalu memandang wajah Bapa-Ku di surga."
 
warna liturgi putih 

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau
klik tautan ini
 
Fr Lawrence Lew, O.P. | Flickr CC BY-NC-ND 2.0

 
 
Kita sangat akrab dengan dunia material, dunia yang dialami oleh indera kita dan dipahami oleh pengetahuan dan akal budi kita. Namun sebagai umat Katolik, kita mengakui dalam satu bagian Syahadat Nikea-Konstantinopel:  "segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan."

Ada keberadaan yang tak terlihat, dunia spiritual, dan di dunia spiritual inilah kita merenungkan tentang malaikat-malaikat pelindung. Secara umum, malaikat dipahami sebagai utusan Tuhan. Peran lainnya termasuk melindungi dan membimbing manusia serta melaksanakan tugas-tugas Tuhan.

Malaikat pelindung adalah malaikat yang ditugaskan untuk melindungi dan membimbing orang tertentu. Keyakinannya adalah bahwa malaikat pelindung bertugas untuk melindungi siapa pun yang Tuhan tugaskan, dan memanjatkan doa kepada Tuhan atas nama orang tersebut.

Kita sampai pada keyakinan ini dari apa yang Yesus katakan dalam Injil bahwa bahkan anak-anak pun memiliki malaikat pelindung yang selalu berada di hadirat Tuhan. Bacaan pertama juga menegaskan bahwa Allah mengutus para malaikat-Nya untuk menjaga kita dan membawa kita ke tempat yang telah Ia persiapkan bagi kita, yaitu untuk bersama Allah di surga selamanya.
  
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan tentang malaikat sebagai berikut:
#328     Bahwa ada makhluk rohani tanpa badan, yang oleh Kitab Suci biasanya dinamakan "malaikat", adalah satu kebenaran iman. Kesaksian Kitab Suci dan kesepakatan tradisi tentang itu bersifat sama jelas.

#334 Sampai Kristus datang kembali, pertolongan para malaikat yang penuh rahasia dan kuasa itu sangat berguna bagi seluruh kehidupan Gereja Bdk. Kis 5:18-20; 8:26-29; 10:3-8; 12:6-11; 27:23-25.

#336 Sejak masa anak-anak Bdk. Mat 18:10. sampai pada kematiannya Bdk. Luk 16:22. malaikat-malaikat mengelilingi kehidupan manusia dengan perlindungan Bdk. Mzm 34:8; 91:10-13. dan doa permohonan Bdk. Ayb 33:23-24; Za 1:12; Tob 12:12.. "Seorang malaikat mendampingi setiap orang beriman sebagai pelindung dan gembala, supaya menghantarnya kepada kehidupan" (Basilius, Eun. 3, 1). Sejak di dunia ini, dalam iman, kehidupan Kristen mengambil bagian di dalam kebahagiaan persekutuan para malaikat dan manusia yang bersatu dalam Allah. 

September 30, 2026

Kamis, 01 Oktober 2026 Pesta St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus, Perawan-Pujangga Gereja, Pelindung Karya Misi

 
Author Nheyob
Bacaan I: Yes 66:10-14c "Aku mengalirkan kepadanya keselamatan dari sungai."

Atau 1Kor 12:31-13:13 "Sekarang tinggal iman, harapan, dan kasih, namun yang paling besar diantaranya adalah kasih."
 

Mazmur Tanggapan: Mzm 119:66.71.75.91.125.130 "Sinarilah hamba-Mu, ya Tuhan, dengan wajah-Mu."

Bait Pengantar Injil: Mat 11:25 "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan-Mu Kaunyatakan kepada orang kecil."

Bacaan Injil: Mat 18:1-5 "Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga."

warna liturgi putih

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini


Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus juga dikenal sebagai "Bunga Kecil Yesus".

Santa Theresia ditetapkan sebagai pelindung misi bersama Santo Fransiskus Xaverius pada tahun 1927.

Hal ini sungguh menakjubkan karena ia adalah seorang biarawati dalam komunitas Karmelit yang hidup dalam klausura (hidup tertutup) di Lisieux, Normandia, Prancis.

Berbeda dengan Santo Fransiskus Xaverius yang berkelana jauh untuk mewartakan Injil dan membaptis banyak orang, Santa Theresia menghabiskan seluruh hidup religiusnya di dalam biara yang tertutup.

Meskipun ia memiliki keinginan untuk pergi ke tanah misi, kondisi kesehatannya yang buruk menghalanginya untuk mewujudkan hal tersebut.

Namun demikian, ia senantiasa mendoakan karya misi, dan setiap tindakan kecilnya pun ia persembahkan kepada Allah dalam doa.

Dalam memoarnya, "Kisah Suatu Jiwa" (The Story of a Soul), ia mengatakan bahwa dirinya hanyalah jiwa yang sangat kecil, sehingga ia hanya dapat mempersembahkan hal-hal yang sangat sederhana kepada Allah.

Akan tetapi, ia mempersembahkan hal-hal sederhana tersebut kepada Allah dengan penuh kasih demi keselamatan jiwa-jiwa.

Itulah pula pesan yang terkandung dalam bacaan Injil hari ini: kerendahan hati seperti anak kecil adalah jalan menuju Kerajaan Allah.

Hati yang kecil, rendah hati, dan bersahaja seperti anak kecil—seperti hati Santa Theresia—itulah yang dipandang besar di mata Allah.

September 29, 2026

Rabu, 30 September 2026 Peringatan Wajib St. Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja

 

Bacaan I: Ayb 9:1-12.14-16 "Masakan manusia benar di hadapan Allah?"
 

Mazmur Tanggapan: Mzm 88:10bc-11.12-13.14-15 "Semoga doaku sampai ke hadirat-Mu, ya Tuhan."

Bait Pengantar Injil: Flp 3:8-9 "Segala sesuatu kuanggap sebagai sampah, agar aku memperoleh Kristus dan bersatu dengan-Nya."

Bacaan Injil: Luk 9:57-62 "Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi." 
 
warna liturgi putih

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
Credit: wideonet/istock.com
      Setiap kali kita berbicara tentang Allah di depan umum, kita akan berbicara dengan penuh hormat dan menggunakan bahasa yang santun, terutama dalam doa bersama. Namun, saat kita memeriksa batin, kita mungkin harus mengakui bahwa sikap kita tidak selalu demikian hormatnya. Terutama dalam ruang pribadi, kita cenderung bersikap lebih akrab dengan Allah. Dan ketika hidup dilanda kekacauan serta segala sesuatu terasa hancur berantakan, percakapan kita dengan Allah bisa menjadi tajam dan terus terang. Bisa jadi kita merasa marah kepada Allah, bahkan menuntut penjelasan dari-Nya, atau sampai pada titik menuduh Allah tidak mendengarkan dan tidak mengabulkan doa-doa kita.

Dalam bacaan pertama, saat Ayub berbicara tentang Allah di hadapan teman-temannya, ia sungguh menunjukkan rasa hormat kepada Allah dan mengakui kemahakuasaan-Nya dalam segala aspek. Ayub menyadari posisinya di hadapan Allah; ia tahu bahwa dirinya hanyalah makhluk ciptaan dan tidak memiliki dasar untuk menggugat Allah, meskipun ia mungkin tidak memahami alasan di balik penderitaannya. Demikianlah cara Ayub menggambarkan Allah di hadapan teman-temannya, dan hal itu juga mencerminkan keyakinan imannya akan Allah.

Apa yang dikatakan Ayub tentang Allah dalam bacaan pertama itu sungguh patut menjadi bahan permenungan dan refleksi bagi kita. Meskipun Allah senantiasa mengampuni kita saat kita bersikap kurang hormat atau bahkan berani menentang-Nya, marilah kita memohon kepada Tuhan Allah agar menganugerahi kita hati yang rendah hati dan penuh penyesalan. Dengan demikian, saat kita berbicara tentang Allah kepada orang lain, mereka pun akan mengetahui keyakinan iman kita akan Allah.
 

September 27, 2026

Selasa, 29 September 2026 Pesta St. Mikael, Gabriel dan Rafael, Malaikat Agung

 

 Bacaan I: Dan 7:9-10.13.14 "Pakaian-Nya putih seperti salju."  
atau Why 12:7-12a

Mazmur Tanggapan: Mzm. 138:1-2ab.2cde-3.4.5 "Di hadapan para dewata aku hendak bermazmur bagi-Mu, ya Tuhan."

Bait Pengantar Injil: Mrk 10:45 "Pujilah Tuhan, hai segala tentara-Nya, muliakanlah Dia, hai para hamba yang melakukan kehendak-Nya."

Bacaan Injil: Yoh 1:47-51 "Engkau akan melihat malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak manusia."
     
warna liturgi putih

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
 
 
Public Domain

 
Kitab Suci memuat banyak bagian yang merujuk pada malaikat, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Selain itu, Perjanjian Baru sering menyebutkan malaikat dalam berbagai peristiwa penting.

Ada malaikat yang menyampaikan pesan kepada Maria, Yusuf, dan para gembala; malaikat yang melayani Kristus setelah pencobaan-Nya di padang gurun; malaikat yang mendatangi Kristus saat Ia bergumul hebat dalam penderitaan-Nya; malaikat di makam Kristus yang telah bangkit; serta malaikat yang membebaskan Rasul Petrus dan Paulus dari penjara.

Namun, Kitab Suci hanya menyebutkan istilah "malaikat agung" sebanyak dua kali. Penyebutan itu terdapat dalam Yudas 9, di mana Mikhael disebut sebagai malaikat agung, dan dalam 1 Tesalonika 4:16, yang menyebutkan bahwa "suara malaikat agung" akan terdengar saat kedatangan Kristus kembali.

Gereja Katolik Roma menghormati tiga malaikat agung: Mikhael, Gabriel, dan Rafael.


Dalam bahasa Ibrani, nama Mikhael berarti "Siapakah yang seperti Allah?" atau "Siapakah yang setara dengan Allah?" Sejak masa awal Kekristenan, Santo Mikhael digambarkan sebagai seorang panglima yang memegang tombak di tangan kanannya untuk menyerang Iblis, dan memegang pelepah palem hijau di tangan kirinya sebagai lambang kemenangan atas kejahatan.

Gabriel berarti "Utusan Allah" atau "Kekuatan Allah." Ia adalah pewarta misteri-misteri Allah, khususnya misteri Inkarnasi Allah dan segala misteri lain yang berkaitan dengannya. Ia digambarkan sedang memegang lentera yang menyala, melambangkan bahwa hanya Allah yang dapat menerangi misteri-misteri tersebut.

Senin, 28 September 2026 Hari Biasa Pekan XXVI

 

Bacaan I: Ayb 1:6-22 “Kesalehan Ayub dicoba.”

Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,2-3,6-7 "Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku."


Bait Pengantar Injil: Mrk 10:45 "Anak Manusia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi semua orang."

Bacaan Injil:  Luk 9:46-50 "Yang terkecil di antara kalian, dialah yang terbesar."
 
warna liturgi hijau 
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini   
     
Karya: PaulCalbar/istock.com
Jika kita memiliki foto-foto diri kita saat masih bayi atau balita, kita harus menyimpan dan menghargai foto-foto tersebut. Lebih dari sekadar kenangan atau alasan sentimental, foto-foto itu juga menjadi sarana bagi kita untuk merenung. Saat masih bayi atau anak-anak, kita bisa melihat betapa sederhananya hidup kita kala itu. Kita tidak memiliki apa pun milik kita sendiri dan bergantung sepenuhnya pada orang tua untuk segala hal. Namun, seiring kita beranjak dewasa, kita mulai belajar untuk bersaing. Kita ingin membuktikan diri dan mendapatkan pengakuan di dunia kita. Kita ingin meraih prestasi serta memiliki harta benda dan kekayaan. Dan seperti halnya apa yang diperdebatkan oleh para murid Yesus, kita pun ingin menjadi sosok yang hebat serta dipandang tinggi dan membuat orang lain iri kepada kita.

Namun, bacaan pertama mengajarkan kita bahwa hidup ini tidak dapat diprediksi dan nasib bisa berubah sewaktu-waktu. Saat Ayub menghadapi satu demi satu kemalangan hebat, ia menyadari bahwa hanya ada satu hal yang tersisa baginya. Ia masih memiliki hidupnya, dan ia tahu bahwa hidupnya berada di tangan Tuhan. Kata-kata bijaknya patut kita renungkan: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang pula aku akan kembali. Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambil kembali. Terpujilah nama Tuhan." Semoga hal ini juga menyadarkan kita akan perlunya bersikap seperti anak kecil dan menaruh kepercayaan kepada Tuhan, bahwa Dia akan senantiasa mencukupi segala kebutuhan hidup kita.
. 
 
 
 
Doa Umat   
 
Saudara-saudari sekalian, dengan penuh kepercayaan akan kasih dan kerahiman-Nya, marilah kita menghadap Bapa seraya menyampaikan segala kebutuhan dan permohonan kita. 
 
Marilah kita berdoa bagi para pemimpin Gereja: Semoga Roh Kudus menguatkan mereka dalam tugas pewartaan Injil. Marilah kita berdoa.
Tuhan, dengarkanlah doa kami.
 
Bagi penghormatan yang lebih besar terhadap kehidupan di seluruh dunia, mulai dari saat pembuahan hingga akhir hayat secara alami. Marilah kita berdoa.
Tuhan, dengarkanlah doa kami. 
 
Bagi para orang tua yang berupaya membina iman anak-anak mereka: Semoga Roh Kudus melimpahi mereka dengan rahmat dan kebijaksanaan. Marilah kita berdoa.
Tuhan, dengarkanlah doa kami. 
 
Bagi kita semua yang berkumpul di tempat kudus ini: Semoga Roh Allah menganugerahkan kepada kita karunia kesalehan dan keteguhan hati. Marilah kita berdoa.
Tuhan, dengarkanlah doa kami. 
 
Bagi mereka yang telah meninggal dalam damai Kristus: Semoga Allah menganugerahkan istirahat kekal di surga bagi mereka. Marilah kita berdoa.
Tuhan, dengarkanlah doa kami. 
 
llah sumber segala kebaikan, terimalah doa-doa yang dipanjatkan oleh anak-anak-Mu pada hari ini, dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin..

September 26, 2026

Minggu, 27 September 2026 Hari Minggu Biasa XXVI

 

Bacaan I: Yeh 18:25-28 "Kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya, ia akan menyelamatkan nyawanya."
         

Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5.6-7.8-9; Ul: lh.6a "Ingatlah segala rahmat dan kasih setia-Mu, ya Tuhan."

Bacaan II: Flp 2:1-11 "Dalam hidupmu bersama hendaknya kamu bersikap seperti Kristus Yesus."

Bait Pengantar Injil: Yoh 10:17 "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, sabda Tuhan, Aku mengenal mereka, dan mereka mengenal Aku."

Bacaan Injil: Mat 21:28-32 "Yohanes Pembaptis datang dan orang-orang berdosa percaya kepadanya."
     
warna liturgi hijau

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
Siouxfall Diocese
 
Dalam kehidupan sosial, kita sangat menyadari betapa pentingnya kesan pertama. Kesan ini sering kali melekat kuat dan bertahan lama dalam benak orang lain, sehingga wajar jika kita selalu berusaha tampil memukau saat pertama kali berinteraksi. Kita membalut diri dengan kefasihan berbicara, tata krama yang anggun, serta menderetkan pencapaian pendidikan maupun profesi agar dipandang sebagai sosok yang dapat diandalkan, jujur, dan tepercaya. Memang tidak bisa dimungkiri, di mata dunia, citra yang memikat adalah salah satu kunci utama untuk membuka pintu kesuksesan, baik dalam urusan bisnis maupun relasi sehari-hari.

Namun, di balik segala upaya keras tersebut, terselip pertanyaan mendalam yang patut kita renungkan bersama: mengapa kita begitu gigih berusaha memukau orang lain, dan siapakah diri kita yang sebenarnya di balik citra yang kita bangun? Yesus pernah memberikan gambaran yang sangat relevan mengenai dilema ini melalui perumpamaan tentang dua orang anak laki-laki yang diminta ayahnya untuk bekerja di kebun anggur. Anak pertama awalnya menolak namun pada akhirnya pergi bekerja, sedangkan anak kedua menjawab "ya" dengan penuh semangat namun nyatanya tidak pernah melangkah ke kebun tersebut. Kisah sederhana ini ibarat cermin yang memantulkan teguran halus tentang bagaimana kita sering kali menampilkan diri dan merespons dunia di sekitar kita.

September 25, 2026

Sabtu, 26 September 2026 Hari Biasa Pekan XXV


Bacaan I: Pkh 11:9-12:8 "Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum debu kembali menjadi tanah seperti semula, dan roh kembali kepada Allah."
      

Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-4.5-6.12-13.14.17; R:1 "Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun."

Bait Pengantar Injil: 2Tim 1:10b "Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil."

Bacaan Injil: Luk 9:43b-45 "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya."
       
warna liturgi hijau  

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
St. Michael & St. Mary Stillwater, MN Catholic Church     
    
    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, dalam Mazmur 90:10 mengatakan bahwa masa hidup kita adalah tujuh puluh tahun, dan delapan puluh tahun bagi mereka yang kuat. Berkat layanan kesehatan modern dan suplemen, rata-rata usia harapan hidup bahkan bisa melampaui delapan puluh tahun. Namun, panjangnya usia tidak selalu berarti kualitas hidup yang baik atau kebahagiaan hidup. Masa muda mungkin dipenuhi dengan semangat dan petualangan, yang kemudian diikuti oleh masa-masa penuh pencapaian dan kepuasan. Akan tetapi, keceriaan dan rasa percaya diri itu tidak bertahan seumur hidup.
 
Bacaan pertama memberikan pengingat yang serius: Masa muda—masa saat rambut masih hitam—adalah kesia-siaan. Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum datangnya masa-masa sulit dan tahun-tahun di mana engkau berkata, "Aku tidak lagi menikmatinya." Ini adalah pengingat yang nyata tentang kenyataan hidup: sebagaimana matahari terbit di pagi hari dan segalanya tampak cerah serta segar, matahari pun akan terbenam dan kegelapan malam akan tiba. 
 
Dan dalam Injil, ketika semua orang kagum akan segala perbuatan-Nya, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya tentang penderitaan yang menanti-Nya. Sebagaimana kehidupan di dunia ini memiliki permulaan, kehidupan pun akan memiliki akhir. Yang terpenting bukanlah berapa lama kita hidup, melainkan seberapa bermakna hidup yang kita jalani dalam tahun-tahun tersebut. Bersama Yesus, kita tahu bahwa kita akan memperoleh kehidupan—baik di dunia ini maupun di kehidupan yang akan datang.

September 24, 2026

Jumat, 25 September 2026 Hari Biasa Pekan XXV


Bacaan I: Pkh 3:1-11 "Untuk segala sesuatu di bawah langit ada waktunya."
    

Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-2.3-4 "Terpujilah Tuhan gunung batuku."

Bait Pengantar Injil: Mrk 10:45 "Anak Manusia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang."

Bacaan Injil: Luk 9:18-22 "Engkaulah Kristus dari Allah. Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan."
 
warna liturgi hijau
   
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
Siouxfall Diocese
 


  Pada awal Ibadat Malam Paskah, lilin Paskah ditandai dengan tanda Salib. Setelah itu, huruf Yunani Alfa dan Omega juga ditorehkan di bagian atas dan bawah Salib tersebut. Kemudian, empat angka tahun yang sedang berjalan dicantumkan di antara lengan-lengan Salib itu. Saat hal-hal tersebut dilakukan, imam mengucapkan: Kristus dahulu dan sekarang, Awal dan Akhir, Alfa dan Omega; milik-Nyalah segala masa dan segala abad. Bagi-Nyalah kemuliaan dan kuasa sepanjang segala abad dan untuk selama-lamanya. Amin.

Setiap kali kita memikirkan tentang waktu, kita melihat jam dan berkata "tidak punya waktu", atau merasa waktu berlalu begitu cepat maupun begitu lambat. Namun, tanda-tanda pada lilin Paskah itu mengingatkan kita bahwa Yesus adalah Tuhan atas segala waktu. Segala sesuatu terjadi menurut waktu-Nya. 
 
Sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama: Segala yang dilakukan-Nya tepat pada waktunya. Segala sesuatu terjadi menurut waktu Allah, dan Dia menyatakan rencana serta kehendak-Nya bagi kita dalam perjalanan hidup kita. Kiranya kita menanggapi dorongan Allah ketika tiba saatnya bagi kita untuk melakukan apa yang Dia kehendaki dari kita.

September 23, 2026

Kamis, 24 September 2026 Hari Biasa Pekan XXV

Bacaan I: Pkh 1:2-11 "Tiada sesuatu yang baru di bawah matahari."

Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-4.5-6.12-13.14.17; R:1 "Ya Tuhan, Engkaulah tempat kami berlindung turun-temurun."

Bait Pengantar Injil: Yoh 14:6 "Akulah jalan, kebenaran dan hidup, sabda Tuhan. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Bacaan Injil: Luk 9:7-9 "Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal besar itu?"
 
warna liturgi hijau 
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini

Kehadiran Sang Sabda Kekal, Yesus Kristus, membawa pembaruan yang sejati ke dalam dunia. Melalui inkarnasi-Nya—penyatuan diri-Nya dengan kodrat manusiawi—sejarah dunia diubah sepenuhnya, hingga kita membagi waktu menjadi sebelum dan sesudah Kristus. Namun, sebelum pembaruan ini nyata, umat manusia sering kali bergumul dengan kefanaan, seperti yang disuarakan oleh penulis Kitab Pengkhotbah (Kohelet). Ia memandang dunia sebagai siklus yang terus berulang, di mana segala jerih payah di bawah matahari terasa seperti sebuah kesia-siaan. Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan untuk kesia-siaan ini adalah hevel, yang bermakna uap atau kabut. Masalah utamanya bukanlah bahwa hidup ini tanpa makna, melainkan berlalu begitu cepat dan tidak bisa digenggam. Seperti yang diungkapkan dalam Mazmur, hari-hari manusia bagaikan bayang-bayang yang melintas; sebuah kabut yang tak bisa kita rangkul dengan kedua tangan.

Di sinilah letak keindahan kasih Tuhan: Allah Sang Anak melangkah keluar dari kekekalan dan menjadi manusia agar Dia yang tak terlihat kini dapat kita lihat, sentuh, dan peluk. Kitab Pengkhotbah mengingatkan bahwa karena hidup kita hanyalah sehelai napas, kita harus menyadari kehadiran Allah selagi masih hidup, menjaga hati, dan mengingat bahwa hidup ini berujung pada-Nya. Kesadaran akan kefanaan inilah yang memaksa kita untuk mencari sesuatu yang lebih abadi.

lumenchristi.id 2026 - Situs ini menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan menggunakan situs ini, Anda telah menyetujui penggunaan cookies dari Kami.