Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12.16 Ul:10d "Di sebelah kananmu berdiri permaisuri, berpakaian emas dari Ofir."
Bacaan II: 1Kor 15:20-26 "Kristus sebagai buah sulung, sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya."
Bait Pengantar Injil: Maria diangkat ke surga, para malaikat bergembira.
Bacaan Injil: Luk 1:39-56 "Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan meninggikan orang-orang yang rendah."
Pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga—yakni peristiwa diangkatnya Bunda kita yang terberkati ke surga—pada tanggal 15 Agustus ini. Ada dua poin yang akan kita renungkan pada pagi hari ini.
1. Menjadi Teladan Allah
Mari kita renungkan ungkapan berikut ini:
"Aku akan menjadikanmu teladan."
Kalimat ini bisa diucapkan dengan dua makna yang bertolak belakang. Pertama, orang mungkin melontarkannya sebagai sebuah ancaman, sering kali dengan nada geram: "Aku akan menjadikanmu teladan!" Artinya, Anda baru saja melakukan kesalahan, dan saya akan menjadikan Anda contoh agar orang lain melihat akibat dari perbuatan buruk tersebut. Ini adalah makna yang mengancam dan menghukum.
Namun, ada makna kedua yang sangat indah: "Aku akan menjadikanmu teladan." Artinya, Anda begitu luar biasa, begitu kudus, dan sungguh mencerminkan kehendak Allah, sehingga Ia menjadikan Anda teladan agar orang lain dapat mengikuti jejak langkah Anda.
Inilah tepatnya cara Allah Bapa memandang Maria, ibu dari Putra Tunggal-Nya, Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Allah begitu mengasihi, menghormati, dan memilih Bunda Maria. Hari ini, tanggal 15 Agustus, kita merayakan salah satu cara Allah menjadikan Bunda kita sebagai teladan.
Ketika masa hidup Bunda Maria di dunia telah usai, Allah segera mengangkatnya—baik tubuh maupun jiwanya—ke surga. Hal ini bukan sekadar ganjaran bagi Maria, melainkan teladan bagi kita. Allah seolah berfirman, "Lihatlah, inilah yang kelak ingin Aku lakukan bagi kalian semua. Pada akhir zaman, Aku ingin kalian semua berada di sini bersama Yesus dan Maria, utuh dalam tubuh dan jiwa."
Saat kita meninggal, tubuh fana kita akan dikuburkan dan hancur, menunggu hingga penghakiman terakhir untuk bersatu kembali dengan jiwa kita. Namun, tidak demikian halnya dengan Bunda kita yang terberkati. Betapa luar biasa teladan yang ia tunjukkan tentang keyakinan akan janji Allah bagi kita semua.
2. Kualitas yang Membuat Maria Berkenan di Hati Allah
Poin kedua, apa sebenarnya yang membuat Bunda Maria begitu istimewa di mata Allah? Jawabannya dapat kita temukan dengan menilik kembali bacaan Injil pagi ini tentang kisah agung Santa Perawan Maria mengunjungi St. Elisabet.
Bayangkan sejenak situasi Maria: ia baru saja menerima kabar sangat mengejutkan dari Malaikat Gabriel bahwa ia akan mengandung Putra Allah. Situasi ini tentu bisa memicu kebingungan dan kecemasan yang luar biasa. Terlebih lagi, sang malaikat menambahkan bahwa sepupunya yang sudah lanjut usia, Elisabet, juga sedang mengandung.
Di tengah keadaannya yang dipenuhi misteri itu, apa yang Maria lakukan? Apakah ia berdiam diri, mengurung diri, atau sekadar beristirahat? Tidak. Satu-satunya hal yang ia pikirkan adalah bergegas menemui dan melayani sepupunya yang sedang mengalami kehamilan yang sulit. Dari peristiwa singkat ini, kita melihat lima kualitas yang membuat Maria begitu memikat hati Allah:
Semangat Kasih: Di tengah krisis dan kebingungan pribadinya, kasih tetap menjadi yang utama. Ia menempuh perjalanan jauh melintasi perbukitan dari Nazaret ke Ein Karem untuk melayani sesama, mengesampingkan kepentingannya sendiri.
Kehadiran Personal: Maria datang menemui Elisabet secara langsung. Ia bisa saja menitipkan pesan, tetapi ia tahu bahwa tidak ada yang menandingi kekuatan kasih yang nyata melalui kunjungan pribadi. Ini mengingatkan kita bahwa karena kasih-Nya yang begitu besar, Allah Bapa mengutus Putra-Nya secara pribadi untuk menebus kita, bukan sekadar mengirimkan pesan dari kejauhan.
Jiwa Misionaris: Membawa Sang Mesias di rahimnya, Maria menyadari, "Aku tidak bisa menyimpan kabar sukacita ini untuk diriku sendiri." Ia segera menjadi misionaris dan pewarta Injil yang pertama saat pergi menemui Elisabet.
Kerendahan Hati: Saat Elisabet memujinya, Maria tidak menyombongkan diri atau merasa hebat. Ia menundukkan kepala dan merendahkan hati, berkata bahwa semua ini adalah karya Tuhan: "Jiwaku memuliakan Tuhan... sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya." Itulah sikap pelayan yang sejati.
Menempatkan Allah di Atas Segalanya: Maria menyadari bahwa ini sepenuhnya adalah rencana dan kehendak Allah. Fokus utamanya hanyalah memuji, mengasihi, dan memercayai-Nya.
Inilah lima karakteristik yang Allah Mahakuasa kagumi dalam diri Maria, dan alasan mengapa Ia menjadikannya sebagai teladan agung bagi kita.
Pada akhirnya, Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga memancarkan makna ganda yang mendalam bagi kita semua.
Pertama, melalui dogma ini, kita mengimani bahwa Perawan Maria—yang begitu istimewa di atas manusia mana pun—merupakan sosok terbesar di antara semua orang kudus. Keagungan ini bersumber pada rahmat keibuannya sebagai Bunda Allah, serta keteladanannya yang luar biasa dalam kebajikan, ketaatan, dan iman yang teguh.
Kedua, dengan kehadirannya di surga, Bunda Maria kini berada di sisi kanan Putra-Nya. Di sanalah ia tidak hanya bertahta sebagai sosok kepercayaan terdekat Allah, tetapi juga menjadi pendoa syafaat dan orang kepercayaan terdekat bagi kita semua.
Saat kita merenungkan misteri agung Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, maukah kita sejenak merefleksikan perjalanan hidup kita sendiri? Beranikah kita memeriksa kembali setiap tindakan dan perbuatan kita—terutama segala hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, yang mungkin berakar pada kelemahan, keserakahan, dan keegoisan diri kita?
Menyadari segala ketidaksempurnaan itu, marilah kita berbalik dan memusatkan kembali hati kita kepada Tuhan. Jika selama ini kita masih sering menjauh, inilah saatnya untuk mulai mencurahkan seluruh hidup dan perhatian kita hanya kepada-Nya.
Akhirnya, marilah kita senantiasa memandang Maria, Bunda Tuhan kita. Sebab kita percaya, melalui doa dan perantaraannya yang tak putus-putusnya, kita selalu ditopang, ditolong, dan didampingi di setiap langkah kehidupan kita. Amin.




