Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1ac.2ac.3a.6-7; R: Gal 5:13 "Kamu dipanggil untuk kemerdekaan; maka abdilah satu sama lain dalam cinta kasih."
Bacaan II: 1Ptr 2:13-17 "Berlakulah sebagai orang yang merdeka. "
Bait Pengantar Injil: Luk 20:25 "Berikanlah kepada kaisar yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah yang menjadi hak Allah."
Bacaan Injil: Mat 22:15-21 "Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
![]() |
| Foto oleh David Dibert dari Pexels |
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, pada hari ini kita diajak untuk merenungkan kembali kedalaman Sabda Tuhan. Kita menyadari bahwa Allah telah memanggil dan memilih kita dari antara bangsa-bangsa untuk menjadi murid-Nya. Namun, dalam peziarahan hidup ini, sering kali kita enggan untuk melangkah sepenuhnya mengikuti Dia karena keraguan dan kurangnya iman yang mengakar di hati kita.
Dalam bacaan Injil hari ini, kita disadarkan akan keagungan hikmat Kristus melalui kisah pertemuan-Nya dengan orang-orang Farisi. Mereka datang bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk menjebak Yesus melalui perkataan-Nya sendiri. Mereka mengajukan pertanyaan yang sarat akan dilema politik dan agama: "Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar Romawi atau tidak?"
Mereka berharap Yesus masuk ke dalam salah satu dari dua jurang yang telah mereka siapkan:
Jika Yesus menjawab "Tidak", orang Farisi akan segera melaporkan-Nya kepada penguasa Romawi sebagai pemberontak negara, karena pajak adalah urat nadi kekaisaran pada masa itu.
Jika Yesus menjawab "Ya", mereka akan menghasut rakyat Yahudi untuk membenci-Nya, mengingat pajak Romawi dianggap sebagai simbol penindasan dan para pemungut pajak dicerca sebagai pengkhianat bangsa.
Apapun jawaban-Nya, seolah-olah Yesus akan menghadapi bahaya besar. Namun, Tuhan Yesus yang Maha Tahu tidak dapat diperdaya oleh kelicikan manusia. Dengan tenang, Ia meminta sekeping uang dinar dan menunjuk pada gambar Kaisar yang tertera di sana. Ia memberikan jawaban yang melampaui zaman: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
Pernyataan ini adalah kebenaran mutlak yang membungkam orang-orang Farisi. Upaya mereka untuk memeras dan menjatuhkan Tuhan gagal total karena niat mereka didorong oleh kepentingan egois, bukan oleh ketaatan pada kehendak Allah.
Lantas, apa makna sabda ini bagi kita sekarang? Rasul Petrus memberikan panduan yang sangat jelas: "Tunduklah, demi Tuhan, kepada segala lembaga manusia... Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!" (1 Petrus 2:13, 17). Nasihat ini menegaskan bahwa kasih kepada sesama, penghormatan terhadap otoritas yang sah, serta partisipasi aktif dalam membangun masyarakat yang damai dan harmonis, adalah bentuk nyata dari pelayanan kita kepada Allah.
Menjawab Tantangan Zaman Kita: Sebagai warga negara, kita patut bersyukur atas berbagai kemajuan yang telah dicapai oleh bangsa kita. Namun, sebagai umat beriman yang melek akan realitas, kita tidak boleh menutup mata terhadap berbagai keprihatinan yang masih mengiris hati:
Ketidakadilan Sosial dan Ekonomi: Kesenjangan ekonomi semakin melebar. Masih banyak saudara kita yang kesulitan mengakses pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal yang layak. Praktik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pelemahan supremasi hukum, pembungkaman masyarakat sipil, hingga perdagangan manusia masih menjadi luka dalam kehidupan bersama.
Retaknya Persaudaraan dan Kerusakan Alam: Tali persaudaraan kita sering kali diuji oleh sentimen agama, etnis, dan politik, yang diperparah oleh sikap merasa paling benar, penyebaran berita bohong (hoaks), serta ujaran kebencian. Di saat yang sama, Ibu Pertiwi pun menangis, bumi berguncang. Hutan digunduli, sungai tercemar limbah, menumpuknya sampah, hingga eksploitasi tambang demi keuntungan ekonomi semata, kini mengancam masa depan generasi mendatang.
Tantangan Etika Teknologi: Kemajuan teknologi dan Kecerdasan Buatan (AI) memang membawa manfaat luar biasa. Namun, jika tidak diwaspadai, hal ini rentan merendahkan martabat manusia. Sebagaimana ditegaskan oleh Paus Leo XIV dalam ensiklik Magnifica Humanitas (15 Mei 2026), teknologi harus senantiasa ditempatkan untuk melayani manusia dan mewujudkan kebaikan bersama (bonum commune). Teknologi tidak boleh mengambil alih kendali, menggantikan esensi relasi, atau mendegradasi nilai kemanusiaan kita.
Mereka merampas hak orang lain, hak negara, dan hak rakyat jelata. Tindakan ini menciptakan sebuah ketimpangan yang menyayat hati: mereka yang merampas hidup dalam kelimpahan semu di atas penderitaan sesamanya, sementara mereka yang dirampas haknya—sering kali adalah masyarakat kecil dan rentan—harus menjadi korban. Rakyat kecil inilah yang pada akhirnya harus menanggung beban kemiskinan, hidup berkekurangan, dan kehilangan kesempatan untuk sejahtera.
Oleh karena itu, memberikan "kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah" juga berarti kita menghormati hak-hak sesama yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya. Keadilan sosial tidak akan pernah terwujud selama kita masih menoleransi keserakahan yang merampas hak orang lain.
Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk menjadi teladan integritas: bekerja dengan jujur, menunaikan tanggung jawab kita dengan setia, dan merasa cukup dengan apa yang menjadi hak kita. Dengan cara inilah, kita tidak hanya menjadi warga negara yang taat, tetapi juga menjadi perpanjangan tangan Allah dalam menghadirkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh ciptaan.




