Mazmur Tanggapan: Mzm 107:2-3.4-5.6-7.8-9; R:1 "Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab kekal abadi kasih setia-Nya."
Bait Pengantar Injil: Mzm 25:5c "Tunjukkanlah lorong-Mu kepadaku, ya Tuhan, bimbinglah aku menurut sabda-Mu yang benar."
Memahami dan Menghidupi Kehendak Tuhan Setiap Saat
Tanpa Tuhan, kita sungguh tidak berdaya. Setiap napas, langkah, dan pencapaian kita selalu mengandaikan satu hal: "dengan rahmat Tuhan." Jika kasih dan penyertaan-Nya berhenti sejenak saja, kita tidak akan ada lagi.
Namun, di balik ketergantungan mutlak kita ini, terdapat sebuah misteri yang indah: Tuhan memilih untuk "membutuhkan" kita. Tuhan tentu saja Maha Kuasa dan tidak bergantung pada apa pun. Tetapi, dalam karya penciptaan dan penebusan-Nya, Dia tidak ingin bekerja sendiri. Dia tidak bisa memaksakan keselamatan atau cinta-Nya kepada kita, karena Dia menciptakan kita sebagai anak-anak-Nya yang merdeka, bukan sebagai budak. Kasih sejati senantiasa mengandaikan kehendak bebas. Karena itu, agar kehendak-Nya "terjadilah di bumi seperti di dalam surga," Tuhan menanti kesediaan dan partisipasi kita.
Apa Sebenarnya Kehendak Tuhan Itu?
Seringkali kita merasa terbebani karena mencoba memikirkan seluruh rancangan agung Allah di masa depan. Padahal, bukanlah tugas kita untuk mengetahui segalanya. Cukup bagi kita untuk memahami peran kita hari ini, dan memercayakan sisanya kepada-Nya.
Apakah peran kita? Yesus menjawabnya dengan sangat jelas:
"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu... dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Matius 22:37-39)
Singkatnya, kehendak Allah adalah Kasih.
Kasih di sini bukanlah sekadar emosi yang pasang surut, melainkan sebuah keputusan untuk memberi diri. Kasih berarti mempersembahkan diri kita dalam setiap detail kehidupan. Setiap detik yang dianugerahkan kepada kita adalah kesempatan untuk mencintai Tuhan dan sesama, serta mengizinkan diri kita dicintai oleh mereka. Kehendak-Nya adalah agar kita melakukan segala sesuatu dengan hati yang utuh, terarah penuh pada apa yang sedang kita jalani saat ini.
Mewujudkan Kehendak-Nya Secara Konkret
Lalu, bagaimana kita bisa mengenali kehendak Tuhan dari waktu ke waktu dalam keseharian? Tuhan sebenarnya menyediakan banyak rambu untuk menuntun kita:
Melalui Panduan Rohani: Tuhan berbicara melalui Sabda-Nya, ajaran Gereja, serta bimbingan dari sesama, terutama mereka yang menjadi pembimbing rohani kita.
Melalui Tugas Saat Ini: Sebagian besar waktu, kehendak Tuhan itu sangat gamblang. Jika Anda berada di kantor, kehendak-Nya adalah Anda bekerja dengan dedikasi dan jujur. Jika Anda sedang menyetir, kehendak-Nya adalah Anda mengemudi dengan hati-hati dan sabar terhadap pengguna jalan lain.
Melalui Doa dalam Ketidakpastian: Ada kalanya jalan di depan tampak kabur dan tidak jelas. Di saat-saat kebingungan inilah kita dipanggil untuk berhenti sejenak, berdoa lebih dalam, dan mencari bimbingan-Nya untuk melangkah maju.
Sebagai pegangan, kita dapat meyakini satu hal: semakin kita setia dan berusaha melakukan kehendak Tuhan dalam hal-hal terkecil di kehidupan sehari-hari, semakin tajam pula hati kita untuk membedakan apa yang Dia inginkan dari kita di masa depan.
Tuhan, dengarkanlah doa kami.
Tuhan, dengarkanlah doa kami.
Tuhan, dengarkanlah doa kami.
Tuhan, dengarkanlah doa kami.
Tuhan, dengarkanlah doa kami.
Amin.




