Bacaan I: Yeh 33:7-9 "Jika engkau tidak berkata apa-apa kepada orang jahat, Aku akan menuntut pertanggungjawaban atas nyawanya darimu."
Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2.6-7.8-9; Ul: 8 "Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara Tuhan, janganlah bertegar hati."
Bait Pengantar Injil: 2 Kor 5:19 "Dalam Kristus Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya, dan Ia telah mempercayakan berita perdamaian itu kepada kami."
Bacaan Injil: Mat 18:15-20 "Jika seorang berdosa mendengarkan nasihatmumu, engkau telah mendapatnya kembali."
warna liturgi hijau
"Di manakah Engkau, ya Tuhan, di tengah segala kekacauan yang melanda kota, negara, dunia, Gereja, keluarga, bahkan di dalam diri kami sendiri?" Pertanyaan yang kerap kita bisikkan di masa-masa sulit ini bukanlah hal baru, sebab nenek moyang kita dan bangsa Israel pun sering menyerukannya dalam Kitab Mazmur.
Namun, pagi ini Yesus menjawab seruan itu dengan sebuah janji yang sangat menenteramkan hati: "Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku ada di tengah-tengah mereka." Janji ini terasa begitu hidup ketika kita melihat beragam orang yang berkumpul dalam Misa Minggu ini.
Kehidupan iman kita sungguh berada di persimpangan yang rawan ketika kerinduan untuk menyambut Perayaan Ekaristi dan mengenang kemenangan Paskah perlahan menguap dari dalam hati.
Saat kita melangkah dan berkumpul bersama saudara-saudari seiman dalam Misa Minggu, kita tidak sekadar memenuhi kewajiban agama, melainkan sedang menghidupi realitas agung bahwa kita adalah satu tubuh dalam Yesus Kristus. Kesadaran utuh sebagai pengikut Kristus inilah yang sejatinya memanggil kita untuk hadir, dan pada gilirannya, kehadiran bersama komunitas itulah yang akan terus menempa dan memperdalam kesadaran iman kita.
Ketika kita mulai kehilangan citarasa untuk menguduskan Hari Minggu sebagai Hari Tuhan, kita sebenarnya sedang membiarkan gejala pudarnya kebebasan otentik kita sebagai anak-anak Allah. Terkait hal ini, warisan pemikiran Paus Yohanes Paulus II dalam Surat Apostolik Dies Domini tetap menjadi lentera yang sangat relevan. Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II merangkum keindahan perayaan Hari Minggu melalui empat dimensi yang saling melengkapi: sebagai Dies Domini yang mengingatkan kita pada keagungan karya penciptaan Allah; Dies Christi yang menandai momen ciptaan baru ketika Kristus yang bangkit menghembuskan Roh Kudus-Nya; Dies Ecclesiae yang menjadi detak jantung Gereja ketika komunitas umat berhimpun; serta Dies Hominis, sebuah jeda sakral di mana manusia dipanggil untuk beristirahat, merayakan sukacita, dan merawat kembali kasih persaudaraan.
Sebagaimana Allah memanggil bangsa Israel, Tuhan Yesus pun membentuk sebuah umat, yakni Gereja, dengan Diri-Nya sebagai kepala dan batu penjuru. Tuhan tidak menghendaki pendekatan spiritualitas solo atau sekadar sikap "biarkan aku sendiri bersama Allahku," melainkan Ia mengundang kita untuk berkumpul bersama.
Kita bisa menengok kembali pada peristiwa 40 hari setelah Paskah, ketika Yesus naik ke surga dan meninggalkan murid-murid-Nya secara fisik. Sangat masuk akal jika saat itu para rasul yang dirundung duka berpikir untuk berpamitan, kembali menjala ikan atau memungut cukai, dan sekadar berjanji untuk berkumpul di hari-hari raya saja. Namun, mereka tidak berjuang sendiri-sendiri; mereka memilih untuk tetap bersatu. Gereja pun bermula karena mereka memegang teguh janji kehadiran-Nya.
Sayangnya, statistik saat ini menunjukkan kenyataan menyedihkan di mana semakin banyak orang yang mengaku percaya pada Tuhan namun enggan bergereja. Banyak yang lebih memilih "spiritualitas" pribadi yang nyaman, seperti sekadar berjalan-jalan santai bersama anjing peliharaan ke car free day atau jogging pada Minggu pagi sambil memikirkan Tuhan. Meskipun terdengar damai, cara tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan panggilan kebersamaan yang telah Tuhan nyatakan. Bagi kita semua yang rutin mengikuti misa Minggu, rasanya tidak membutuhkan bukti apa-apa lagi untuk meyakini kebenaran janji Yesus: di mana kita berkumpul dalam nama-Nya, Dia sungguh hadir di tengah-tengah kita.
Maka, di saat rentetan kekacauan di dunia ini terus berganti wajah—ketika napas kita terasa sesak oleh asap pekat dari kebakaran hutan yang menghanguskan bumi Kalimantan dan Sumatera, ketika saudara-saudara kita di Flores dirundung duka dan ketakutan akibat guncangan gempa yang meluluhlantakkan rumah serta harapan, bahkan ketika kita harus menanggung beban penderitaan panjang dari bencana sistemik yang lahir akibat kebijakan para pemimpin negeri yang menutup telinga terhadap jerit suara rakyatnya sendiri—pertanyaan "Di manakah Engkau, Tuhan?" akan kembali menggema.
Namun, justru di titik-titik krisis inilah panggilan untuk bersatu menjadi semakin krusial. Kita tidak dipanggil untuk meratapi ketidakadilan dan keputusasaan ini sendirian di sudut-sudut sepi, atau sekadar memupuk kesalehan pribadi yang terasing dari luka sesama. Ketika para pemimpin duniawi mengabaikan jeritan warganya dan alam tampak begitu rapuh, Allah justru memanggil kita untuk saling merengkuh, menyatukan doa, dan melakukan aksi nyata sebagai satu tubuh.
Di tengah pekatnya asap, di atas puing-puing gempa, dan di balik bayang-bayang ketidakadilan penguasa, kehadiran komunitas yang saling menguatkan adalah jawaban hidup dari Tuhan sendiri. Sebab, di atas segala penderitaan itu, janji-Nya tetap kekal: di mana kita berkumpul dalam nama-Nya, untuk saling membalut luka dan merawat harapan, di situlah Dia hadir, hidup, dan bekerja memulihkan keadaan di tengah-tengah kita. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.
Doa Umat
Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
Allah Bapa yang mahabijaksana, sabda-Mu memanggil kami untuk tidak acuh tak acuh, melainkan menjadi penjaga bagi keselamatan saudara-saudari kami. Karuniailah kami keberanian dari Roh Kudus-Mu, agar kami tidak diam atau gentar di hadapan dosa dan ketidakadilan. Mampukanlah kami untuk selalu menyuarakan kebenaran-Mu dengan penuh kasih, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan menuntun mereka yang tersesat kembali ke jalan-Mu. Dengarkanlah doa-doa yang kami sampaikan ke hadirat-Mu ini. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.
Amin.




