Bacaan I: Yes 22:19-23 "Aku akan menaruh kunci rumah Daud di atas bahunya."
Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-2a.2bc-3.6.8bc; Ul: 8bc "Ya Tuhan, kasih setia-Mu kekal abadi. Jangan Kau tinggalkan buatan tangan-Mu."
Bait Pengantar Injil: Rom 11:33-36 "Segala sesuatu berasal dari Allah, ada karena Allah dan menuju Allah."
Bacaan Injil: Yoh 10:27 "Engkau adalah Petrus, dan di atas wadas ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku, dan alam menguasainya."
Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-2a.2bc-3.6.8bc; Ul: 8bc "Ya Tuhan, kasih setia-Mu kekal abadi. Jangan Kau tinggalkan buatan tangan-Mu."
Bait Pengantar Injil: Rom 11:33-36 "Segala sesuatu berasal dari Allah, ada karena Allah dan menuju Allah."
Bacaan Injil: Yoh 10:27 "Engkau adalah Petrus, dan di atas wadas ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku, dan alam menguasainya."
warna liturgi hijau
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab Deuterokanonika atau klik tautan ini
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab Deuterokanonika atau klik tautan ini
“Engkau adalah Mesias, Anak Allah
yang hidup!” Karena menjawab dengan benar, Yesus memberikan ganjaran berupa kunci kepada Petrus. Dan penyerahan kunci dalam Matius bab 16 ini merupakan kunci bagi struktur organisasi Gereja Katolik. Bahkan di zaman modern ini, kita memahami bahwa memiliki kunci sebagai tanda penghargaan atau penanda kedudukan penting—sebuah pengakuan yang membedakan penerima kunci dari mereka yang tidak menerimanya, meskipun status mereka mungkin setara—adalah hal yang sangat berarti dan penting.
Pada masa lalu—saya tidak yakin apakah hal ini masih dilakukan sekarang—saya pernah melihat foto-foto selebritas, politisi, pahlawan perang, dan tokoh lainnya menghadiri acara di mana mereka dianugerahi kunci; misalnya, wali kota menyerahkan kunci kota sebagai tanda penghargaan atau pengakuan atas status mereka. Saat ini, hal itu lebih bersifat simbolis, namun secara historis maupun alkitabiah, penyerahan dan penerimaan kunci memiliki makna yang mendalam, sebagaimana kita baca dalam bacaan pertama maupun bacaan Injil pada hari Minggu Biasa ke-21 ini.
Sedikit menilik sejarah Abad Pertengahan: ketika seorang raja atau kaisar tiba di suatu kota, penduduk setempat akan mengadakan upacara megah dan menyerahkan kunci kota kepadanya. Hal itu merupakan tanda bahwa kota beserta penduduknya mengakui dan menerima otoritas duniawi serta kekuasaan raja tersebut. Namun, ada perbedaan mendasar di sini. Penyerahan kunci oleh Kristus kepada Petrus melampaui sekadar otoritas duniawi atau kekuasaan sementara. Ia berfirman—seperti yang telah kita baca dan dengar dalam misa minggu ini—bahwa apa pun yang diikat oleh Petrus di bumi akan terikat di surga, dan apa pun yang dilepaskan olehnya di bumi akan terlepas di surga. Itu adalah pernyataan yang sangat berani; jika hal itu dikatakan kepada saya, saya pasti akan gemetar ketakutan. Apa yang terjadi di sini adalah Yesus sedang memberikan otoritas rohani—bahkan otoritas ilahi—kepada Petrus. Ia melimpahkan otoritas-Nya sendiri kepada Petrus. Ia menyebutnya sebagai anak Yunus.




