| Home | Indonesian Papist | Renungan Pagi| Doa Umat Misa Harian | Privacy Policy | Support Lumen Christi |



Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

September 05, 2026

Minggu, 06 September 2026 Hari Minggu Biasa XXIII




Bacaan I: Yeh 33:7-9 "Jika engkau tidak berkata apa-apa kepada orang jahat, Aku akan menuntut pertanggungjawaban atas nyawanya darimu."

Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2.6-7.8-9; Ul: 8 "Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara Tuhan, janganlah bertegar hati."

Bait Pengantar Injil: 2 Kor 5:19 "Dalam Kristus Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya, dan Ia telah mempercayakan berita perdamaian itu kepada kami."

Bacaan Injil: Mat 18:15-20 "Jika seorang berdosa mendengarkan nasihatmumu, engkau telah mendapatnya kembali."

warna liturgi hijau

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 

"Di manakah Engkau, ya Tuhan, di tengah segala kekacauan yang melanda kota, negara, dunia, Gereja, keluarga, bahkan di dalam diri kami sendiri?" Pertanyaan yang kerap kita bisikkan di masa-masa sulit ini bukanlah hal baru, sebab nenek moyang kita dan bangsa Israel pun sering menyerukannya dalam Kitab Mazmur. 

Namun, pagi ini Yesus menjawab seruan itu dengan sebuah janji yang sangat menenteramkan hati: "Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku ada di tengah-tengah mereka." Janji ini terasa begitu hidup ketika kita melihat beragam orang yang berkumpul dalam Misa Minggu ini. 

Kehidupan iman kita sungguh berada di persimpangan yang rawan ketika kerinduan untuk menyambut Perayaan Ekaristi dan mengenang kemenangan Paskah perlahan menguap dari dalam hati.  

Saat kita melangkah dan berkumpul bersama saudara-saudari seiman dalam Misa Minggu, kita tidak sekadar memenuhi kewajiban agama, melainkan sedang menghidupi realitas agung bahwa kita adalah satu tubuh dalam Yesus Kristus. Kesadaran utuh sebagai pengikut Kristus inilah yang sejatinya memanggil kita untuk hadir, dan pada gilirannya, kehadiran bersama komunitas itulah yang akan terus menempa dan memperdalam kesadaran iman kita.

Ketika kita mulai kehilangan citarasa untuk menguduskan Hari Minggu sebagai Hari Tuhan, kita sebenarnya sedang membiarkan gejala pudarnya kebebasan otentik kita sebagai anak-anak Allah. Terkait hal ini, warisan pemikiran Paus Yohanes Paulus II dalam Surat Apostolik Dies Domini tetap menjadi lentera yang sangat relevan. Bapa Suci  Paus Yohanes Paulus II merangkum keindahan perayaan Hari Minggu melalui empat dimensi yang saling melengkapi: sebagai Dies Domini yang mengingatkan kita pada keagungan karya penciptaan Allah; Dies Christi yang menandai momen ciptaan baru ketika Kristus yang bangkit menghembuskan Roh Kudus-Nya; Dies Ecclesiae yang menjadi detak jantung Gereja ketika komunitas umat berhimpun; serta Dies Hominis, sebuah jeda sakral di mana manusia dipanggil untuk beristirahat, merayakan sukacita, dan merawat kembali kasih persaudaraan.

Sebagaimana Allah memanggil bangsa Israel, Tuhan Yesus pun membentuk sebuah umat, yakni Gereja, dengan Diri-Nya sebagai kepala dan batu penjuru. Tuhan tidak menghendaki pendekatan spiritualitas solo atau sekadar sikap "biarkan aku sendiri bersama Allahku," melainkan Ia mengundang kita untuk berkumpul bersama.  

lumenchristi.id 2026 - Situs ini menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan menggunakan situs ini, Anda telah menyetujui penggunaan cookies dari Kami.