| Home | Indonesian Papist | Renungan Pagi| Doa Umat Misa Harian | Privacy Policy | Support Lumen Christi |



Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

September 30, 2026

Kamis, 01 Oktober 2026 Pesta St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus, Perawan-Pujangga Gereja, Pelindung Karya Misi

 
Author Nheyob
Bacaan I: Yes 66:10-14c "Aku mengalirkan kepadanya keselamatan dari sungai."

Atau 1Kor 12:31-13:13 "Sekarang tinggal iman, harapan, dan kasih, namun yang paling besar diantaranya adalah kasih."
 

Mazmur Tanggapan: Mzm 119:66.71.75.91.125.130 "Sinarilah hamba-Mu, ya Tuhan, dengan wajah-Mu."

Bait Pengantar Injil: Mat 11:25 "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan-Mu Kaunyatakan kepada orang kecil."

Bacaan Injil: Mat 18:1-5 "Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga."

warna liturgi putih

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini


Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus juga dikenal sebagai "Bunga Kecil Yesus".

Santa Theresia ditetapkan sebagai pelindung misi bersama Santo Fransiskus Xaverius pada tahun 1927.

Hal ini sungguh menakjubkan karena ia adalah seorang biarawati dalam komunitas Karmelit yang hidup dalam klausura (hidup tertutup) di Lisieux, Normandia, Prancis.

Berbeda dengan Santo Fransiskus Xaverius yang berkelana jauh untuk mewartakan Injil dan membaptis banyak orang, Santa Theresia menghabiskan seluruh hidup religiusnya di dalam biara yang tertutup.

Meskipun ia memiliki keinginan untuk pergi ke tanah misi, kondisi kesehatannya yang buruk menghalanginya untuk mewujudkan hal tersebut.

Namun demikian, ia senantiasa mendoakan karya misi, dan setiap tindakan kecilnya pun ia persembahkan kepada Allah dalam doa.

Dalam memoarnya, "Kisah Suatu Jiwa" (The Story of a Soul), ia mengatakan bahwa dirinya hanyalah jiwa yang sangat kecil, sehingga ia hanya dapat mempersembahkan hal-hal yang sangat sederhana kepada Allah.

Akan tetapi, ia mempersembahkan hal-hal sederhana tersebut kepada Allah dengan penuh kasih demi keselamatan jiwa-jiwa.

Itulah pula pesan yang terkandung dalam bacaan Injil hari ini: kerendahan hati seperti anak kecil adalah jalan menuju Kerajaan Allah.

Hati yang kecil, rendah hati, dan bersahaja seperti anak kecil—seperti hati Santa Theresia—itulah yang dipandang besar di mata Allah.

September 29, 2026

Rabu, 30 September 2026 Peringatan Wajib St. Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja

 

Bacaan I: Ayb 9:1-12.14-16 "Masakan manusia benar di hadapan Allah?"
 

Mazmur Tanggapan: Mzm 88:10bc-11.12-13.14-15 "Semoga doaku sampai ke hadirat-Mu, ya Tuhan."

Bait Pengantar Injil: Flp 3:8-9 "Segala sesuatu kuanggap sebagai sampah, agar aku memperoleh Kristus dan bersatu dengan-Nya."

Bacaan Injil: Luk 9:57-62 "Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi." 
 
warna liturgi putih

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
Credit: wideonet/istock.com
      Setiap kali kita berbicara tentang Allah di depan umum, kita akan berbicara dengan penuh hormat dan menggunakan bahasa yang santun, terutama dalam doa bersama. Namun, saat kita memeriksa batin, kita mungkin harus mengakui bahwa sikap kita tidak selalu demikian hormatnya. Terutama dalam ruang pribadi, kita cenderung bersikap lebih akrab dengan Allah. Dan ketika hidup dilanda kekacauan serta segala sesuatu terasa hancur berantakan, percakapan kita dengan Allah bisa menjadi tajam dan terus terang. Bisa jadi kita merasa marah kepada Allah, bahkan menuntut penjelasan dari-Nya, atau sampai pada titik menuduh Allah tidak mendengarkan dan tidak mengabulkan doa-doa kita.

Dalam bacaan pertama, saat Ayub berbicara tentang Allah di hadapan teman-temannya, ia sungguh menunjukkan rasa hormat kepada Allah dan mengakui kemahakuasaan-Nya dalam segala aspek. Ayub menyadari posisinya di hadapan Allah; ia tahu bahwa dirinya hanyalah makhluk ciptaan dan tidak memiliki dasar untuk menggugat Allah, meskipun ia mungkin tidak memahami alasan di balik penderitaannya. Demikianlah cara Ayub menggambarkan Allah di hadapan teman-temannya, dan hal itu juga mencerminkan keyakinan imannya akan Allah.

Apa yang dikatakan Ayub tentang Allah dalam bacaan pertama itu sungguh patut menjadi bahan permenungan dan refleksi bagi kita. Meskipun Allah senantiasa mengampuni kita saat kita bersikap kurang hormat atau bahkan berani menentang-Nya, marilah kita memohon kepada Tuhan Allah agar menganugerahi kita hati yang rendah hati dan penuh penyesalan. Dengan demikian, saat kita berbicara tentang Allah kepada orang lain, mereka pun akan mengetahui keyakinan iman kita akan Allah.
 

September 27, 2026

Selasa, 29 September 2026 Pesta St. Mikael, Gabriel dan Rafael, Malaikat Agung

 

 Bacaan I: Dan 7:9-10.13.14 "Pakaian-Nya putih seperti salju."  
atau Why 12:7-12a

Mazmur Tanggapan: Mzm. 138:1-2ab.2cde-3.4.5 "Di hadapan para dewata aku hendak bermazmur bagi-Mu, ya Tuhan."

Bait Pengantar Injil: Mrk 10:45 "Pujilah Tuhan, hai segala tentara-Nya, muliakanlah Dia, hai para hamba yang melakukan kehendak-Nya."

Bacaan Injil: Yoh 1:47-51 "Engkau akan melihat malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak manusia."
     
warna liturgi putih

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
 
 
Public Domain

 
Kitab Suci memuat banyak bagian yang merujuk pada malaikat, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Selain itu, Perjanjian Baru sering menyebutkan malaikat dalam berbagai peristiwa penting.

Ada malaikat yang menyampaikan pesan kepada Maria, Yusuf, dan para gembala; malaikat yang melayani Kristus setelah pencobaan-Nya di padang gurun; malaikat yang mendatangi Kristus saat Ia bergumul hebat dalam penderitaan-Nya; malaikat di makam Kristus yang telah bangkit; serta malaikat yang membebaskan Rasul Petrus dan Paulus dari penjara.

Namun, Kitab Suci hanya menyebutkan istilah "malaikat agung" sebanyak dua kali. Penyebutan itu terdapat dalam Yudas 9, di mana Mikhael disebut sebagai malaikat agung, dan dalam 1 Tesalonika 4:16, yang menyebutkan bahwa "suara malaikat agung" akan terdengar saat kedatangan Kristus kembali.

Gereja Katolik Roma menghormati tiga malaikat agung: Mikhael, Gabriel, dan Rafael.


Dalam bahasa Ibrani, nama Mikhael berarti "Siapakah yang seperti Allah?" atau "Siapakah yang setara dengan Allah?" Sejak masa awal Kekristenan, Santo Mikhael digambarkan sebagai seorang panglima yang memegang tombak di tangan kanannya untuk menyerang Iblis, dan memegang pelepah palem hijau di tangan kirinya sebagai lambang kemenangan atas kejahatan.

Gabriel berarti "Utusan Allah" atau "Kekuatan Allah." Ia adalah pewarta misteri-misteri Allah, khususnya misteri Inkarnasi Allah dan segala misteri lain yang berkaitan dengannya. Ia digambarkan sedang memegang lentera yang menyala, melambangkan bahwa hanya Allah yang dapat menerangi misteri-misteri tersebut.

Senin, 28 September 2026 Hari Biasa Pekan XXVI

 

Bacaan I: Ayb 1:6-22 “Kesalehan Ayub dicoba.”

Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,2-3,6-7 "Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku."


Bait Pengantar Injil: Mrk 10:45 "Anak Manusia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi semua orang."

Bacaan Injil:  Luk 9:46-50 "Yang terkecil di antara kalian, dialah yang terbesar."
 
warna liturgi hijau 
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini   
     
Karya: PaulCalbar/istock.com
Jika kita memiliki foto-foto diri kita saat masih bayi atau balita, kita harus menyimpan dan menghargai foto-foto tersebut. Lebih dari sekadar kenangan atau alasan sentimental, foto-foto itu juga menjadi sarana bagi kita untuk merenung. Saat masih bayi atau anak-anak, kita bisa melihat betapa sederhananya hidup kita kala itu. Kita tidak memiliki apa pun milik kita sendiri dan bergantung sepenuhnya pada orang tua untuk segala hal. Namun, seiring kita beranjak dewasa, kita mulai belajar untuk bersaing. Kita ingin membuktikan diri dan mendapatkan pengakuan di dunia kita. Kita ingin meraih prestasi serta memiliki harta benda dan kekayaan. Dan seperti halnya apa yang diperdebatkan oleh para murid Yesus, kita pun ingin menjadi sosok yang hebat serta dipandang tinggi dan membuat orang lain iri kepada kita.

Namun, bacaan pertama mengajarkan kita bahwa hidup ini tidak dapat diprediksi dan nasib bisa berubah sewaktu-waktu. Saat Ayub menghadapi satu demi satu kemalangan hebat, ia menyadari bahwa hanya ada satu hal yang tersisa baginya. Ia masih memiliki hidupnya, dan ia tahu bahwa hidupnya berada di tangan Tuhan. Kata-kata bijaknya patut kita renungkan: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang pula aku akan kembali. Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambil kembali. Terpujilah nama Tuhan." Semoga hal ini juga menyadarkan kita akan perlunya bersikap seperti anak kecil dan menaruh kepercayaan kepada Tuhan, bahwa Dia akan senantiasa mencukupi segala kebutuhan hidup kita.
. 
 
 
 
Doa Umat   
 
Saudara-saudari sekalian, dengan penuh kepercayaan akan kasih dan kerahiman-Nya, marilah kita menghadap Bapa seraya menyampaikan segala kebutuhan dan permohonan kita. 
 
Marilah kita berdoa bagi para pemimpin Gereja: Semoga Roh Kudus menguatkan mereka dalam tugas pewartaan Injil. Marilah kita berdoa.
Tuhan, dengarkanlah doa kami.
 
Bagi penghormatan yang lebih besar terhadap kehidupan di seluruh dunia, mulai dari saat pembuahan hingga akhir hayat secara alami. Marilah kita berdoa.
Tuhan, dengarkanlah doa kami. 
 
Bagi para orang tua yang berupaya membina iman anak-anak mereka: Semoga Roh Kudus melimpahi mereka dengan rahmat dan kebijaksanaan. Marilah kita berdoa.
Tuhan, dengarkanlah doa kami. 
 
Bagi kita semua yang berkumpul di tempat kudus ini: Semoga Roh Allah menganugerahkan kepada kita karunia kesalehan dan keteguhan hati. Marilah kita berdoa.
Tuhan, dengarkanlah doa kami. 
 
Bagi mereka yang telah meninggal dalam damai Kristus: Semoga Allah menganugerahkan istirahat kekal di surga bagi mereka. Marilah kita berdoa.
Tuhan, dengarkanlah doa kami. 
 
llah sumber segala kebaikan, terimalah doa-doa yang dipanjatkan oleh anak-anak-Mu pada hari ini, dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin..

September 26, 2026

Minggu, 27 September 2026 Hari Minggu Biasa XXVI

 

Bacaan I: Yeh 18:25-28 "Kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya, ia akan menyelamatkan nyawanya."
         

Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5.6-7.8-9; Ul: lh.6a "Ingatlah segala rahmat dan kasih setia-Mu, ya Tuhan."

Bacaan II: Flp 2:1-11 "Dalam hidupmu bersama hendaknya kamu bersikap seperti Kristus Yesus."

Bait Pengantar Injil: Yoh 10:17 "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, sabda Tuhan, Aku mengenal mereka, dan mereka mengenal Aku."

Bacaan Injil: Mat 21:28-32 "Yohanes Pembaptis datang dan orang-orang berdosa percaya kepadanya."
     
warna liturgi hijau

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
Siouxfall Diocese
 
Dalam kehidupan sosial, kita sangat menyadari betapa pentingnya kesan pertama. Kesan ini sering kali melekat kuat dan bertahan lama dalam benak orang lain, sehingga wajar jika kita selalu berusaha tampil memukau saat pertama kali berinteraksi. Kita membalut diri dengan kefasihan berbicara, tata krama yang anggun, serta menderetkan pencapaian pendidikan maupun profesi agar dipandang sebagai sosok yang dapat diandalkan, jujur, dan tepercaya. Memang tidak bisa dimungkiri, di mata dunia, citra yang memikat adalah salah satu kunci utama untuk membuka pintu kesuksesan, baik dalam urusan bisnis maupun relasi sehari-hari.

Namun, di balik segala upaya keras tersebut, terselip pertanyaan mendalam yang patut kita renungkan bersama: mengapa kita begitu gigih berusaha memukau orang lain, dan siapakah diri kita yang sebenarnya di balik citra yang kita bangun? Yesus pernah memberikan gambaran yang sangat relevan mengenai dilema ini melalui perumpamaan tentang dua orang anak laki-laki yang diminta ayahnya untuk bekerja di kebun anggur. Anak pertama awalnya menolak namun pada akhirnya pergi bekerja, sedangkan anak kedua menjawab "ya" dengan penuh semangat namun nyatanya tidak pernah melangkah ke kebun tersebut. Kisah sederhana ini ibarat cermin yang memantulkan teguran halus tentang bagaimana kita sering kali menampilkan diri dan merespons dunia di sekitar kita.

September 25, 2026

Sabtu, 26 September 2026 Hari Biasa Pekan XXV


Bacaan I: Pkh 11:9-12:8 "Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum debu kembali menjadi tanah seperti semula, dan roh kembali kepada Allah."
      

Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-4.5-6.12-13.14.17; R:1 "Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun."

Bait Pengantar Injil: 2Tim 1:10b "Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil."

Bacaan Injil: Luk 9:43b-45 "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya."
       
warna liturgi hijau  

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
St. Michael & St. Mary Stillwater, MN Catholic Church     
    
    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, dalam Mazmur 90:10 mengatakan bahwa masa hidup kita adalah tujuh puluh tahun, dan delapan puluh tahun bagi mereka yang kuat. Berkat layanan kesehatan modern dan suplemen, rata-rata usia harapan hidup bahkan bisa melampaui delapan puluh tahun. Namun, panjangnya usia tidak selalu berarti kualitas hidup yang baik atau kebahagiaan hidup. Masa muda mungkin dipenuhi dengan semangat dan petualangan, yang kemudian diikuti oleh masa-masa penuh pencapaian dan kepuasan. Akan tetapi, keceriaan dan rasa percaya diri itu tidak bertahan seumur hidup.
 
Bacaan pertama memberikan pengingat yang serius: Masa muda—masa saat rambut masih hitam—adalah kesia-siaan. Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum datangnya masa-masa sulit dan tahun-tahun di mana engkau berkata, "Aku tidak lagi menikmatinya." Ini adalah pengingat yang nyata tentang kenyataan hidup: sebagaimana matahari terbit di pagi hari dan segalanya tampak cerah serta segar, matahari pun akan terbenam dan kegelapan malam akan tiba. 
 
Dan dalam Injil, ketika semua orang kagum akan segala perbuatan-Nya, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya tentang penderitaan yang menanti-Nya. Sebagaimana kehidupan di dunia ini memiliki permulaan, kehidupan pun akan memiliki akhir. Yang terpenting bukanlah berapa lama kita hidup, melainkan seberapa bermakna hidup yang kita jalani dalam tahun-tahun tersebut. Bersama Yesus, kita tahu bahwa kita akan memperoleh kehidupan—baik di dunia ini maupun di kehidupan yang akan datang.

September 24, 2026

Jumat, 25 September 2026 Hari Biasa Pekan XXV


Bacaan I: Pkh 3:1-11 "Untuk segala sesuatu di bawah langit ada waktunya."
    

Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-2.3-4 "Terpujilah Tuhan gunung batuku."

Bait Pengantar Injil: Mrk 10:45 "Anak Manusia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang."

Bacaan Injil: Luk 9:18-22 "Engkaulah Kristus dari Allah. Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan."
 
warna liturgi hijau
   
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
Siouxfall Diocese
 


  Pada awal Ibadat Malam Paskah, lilin Paskah ditandai dengan tanda Salib. Setelah itu, huruf Yunani Alfa dan Omega juga ditorehkan di bagian atas dan bawah Salib tersebut. Kemudian, empat angka tahun yang sedang berjalan dicantumkan di antara lengan-lengan Salib itu. Saat hal-hal tersebut dilakukan, imam mengucapkan: Kristus dahulu dan sekarang, Awal dan Akhir, Alfa dan Omega; milik-Nyalah segala masa dan segala abad. Bagi-Nyalah kemuliaan dan kuasa sepanjang segala abad dan untuk selama-lamanya. Amin.

Setiap kali kita memikirkan tentang waktu, kita melihat jam dan berkata "tidak punya waktu", atau merasa waktu berlalu begitu cepat maupun begitu lambat. Namun, tanda-tanda pada lilin Paskah itu mengingatkan kita bahwa Yesus adalah Tuhan atas segala waktu. Segala sesuatu terjadi menurut waktu-Nya. 
 
Sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama: Segala yang dilakukan-Nya tepat pada waktunya. Segala sesuatu terjadi menurut waktu Allah, dan Dia menyatakan rencana serta kehendak-Nya bagi kita dalam perjalanan hidup kita. Kiranya kita menanggapi dorongan Allah ketika tiba saatnya bagi kita untuk melakukan apa yang Dia kehendaki dari kita.

September 23, 2026

Kamis, 24 September 2026 Hari Biasa Pekan XXV

Bacaan I: Pkh 1:2-11 "Tiada sesuatu yang baru di bawah matahari."

Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-4.5-6.12-13.14.17; R:1 "Ya Tuhan, Engkaulah tempat kami berlindung turun-temurun."

Bait Pengantar Injil: Yoh 14:6 "Akulah jalan, kebenaran dan hidup, sabda Tuhan. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Bacaan Injil: Luk 9:7-9 "Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal besar itu?"
 
warna liturgi hijau 
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini

Kehadiran Sang Sabda Kekal, Yesus Kristus, membawa pembaruan yang sejati ke dalam dunia. Melalui inkarnasi-Nya—penyatuan diri-Nya dengan kodrat manusiawi—sejarah dunia diubah sepenuhnya, hingga kita membagi waktu menjadi sebelum dan sesudah Kristus. Namun, sebelum pembaruan ini nyata, umat manusia sering kali bergumul dengan kefanaan, seperti yang disuarakan oleh penulis Kitab Pengkhotbah (Kohelet). Ia memandang dunia sebagai siklus yang terus berulang, di mana segala jerih payah di bawah matahari terasa seperti sebuah kesia-siaan. Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan untuk kesia-siaan ini adalah hevel, yang bermakna uap atau kabut. Masalah utamanya bukanlah bahwa hidup ini tanpa makna, melainkan berlalu begitu cepat dan tidak bisa digenggam. Seperti yang diungkapkan dalam Mazmur, hari-hari manusia bagaikan bayang-bayang yang melintas; sebuah kabut yang tak bisa kita rangkul dengan kedua tangan.

Di sinilah letak keindahan kasih Tuhan: Allah Sang Anak melangkah keluar dari kekekalan dan menjadi manusia agar Dia yang tak terlihat kini dapat kita lihat, sentuh, dan peluk. Kitab Pengkhotbah mengingatkan bahwa karena hidup kita hanyalah sehelai napas, kita harus menyadari kehadiran Allah selagi masih hidup, menjaga hati, dan mengingat bahwa hidup ini berujung pada-Nya. Kesadaran akan kefanaan inilah yang memaksa kita untuk mencari sesuatu yang lebih abadi.

September 22, 2026

Rabu, 23 September 2026 Peringatan Wajib St. Pius dari Pietrelcina (Padre Pio), Imam

 

Bacaan I: Ams 30:5-9 "Janganlah aku Kauberi kemiskinan atau kekayaan, melainkan hanyalah kebutuhan hidupku secukupnya."
 
Mazmur Tanggapan: Mzm 119:29.72.89.101.104.163 "Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah pelita bagi langkahku."

Bait Pengantar Injil:  Mrk 1:15 "Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil."

Bacaan Injil: Luk 9:1-6 "Ia mengutus para murid mewartakan kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit."
     
warna liturgi putih

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 


 
 
Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita adalah apa yang kita makan. Terlepas dari bagaimana pernyataan itu dipahami, hal yang paling penting adalah bahwa apa yang kita makan masuk ke dalam tubuh kita. Tentu saja, hal itu seharusnya membuat kita berhati-hati terhadap apa yang kita masukkan ke dalam mulut kita. Tidak kalah pentingnya adalah apa yang kita baca dan apa yang kita dengar. Sebab, apa yang kita baca dan dengar akan membentuk pikiran dan gagasan kita. Apa yang kita baca dan dengar juga akan membentuk karakter serta arah hidup kita.

Bacaan pertama mengingatkan kita bahwa setiap Sabda Allah itu murni, dan menjadi perisai bagi mereka yang berlindung kepada Allah. Bacaan pertama juga menyampaikan dua hal yang patut kita mohonkan kepada Allah: Pertama, agar Allah menjauhkan segala kepalsuan dan dusta dari kita. Kedua, agar kita dikaruniai kecukupan untuk menopang hidup kita.

Ketika Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang sakit, Ia juga memberikan kuasa dan wewenang atas segala setan serta untuk menyembuhkan penyakit. Segala kebutuhan lainnya akan disediakan oleh Allah, sehingga mereka tidak perlu membawa apa-apa. Saat kita membaca dan merenungkan Sabda Tuhan dalam kedua bacaan ini, semoga kita juga menaruh kepercayaan kita kepada Allah. Marilah kita memohon kepada Tuhan agar menjauhkan kita dari kepalsuan dan dusta, serta memberikan kita rezeki harian. Hal itu sudah cukup bagi kita untuk terus melangkah dan menghayati Kabar Baik tentang Kerajaan Allah.

September 21, 2026

Selasa, 22 September 2026 Hari Biasa Pekan XXV

 

Bacaan I: Ams 21:1-6.10-13 "Bermacam-macam pepatah." 
   
Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1.27.30.34.35.44 "Bimbinglah hidupku, ya Tuhan, menurut petunjuk perintah-Mu."

Bait Pengantar Injil: Luk 11:28 "Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan melakukannya."

Bacaan Injil: Luk 8:19-21 "Ibu dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya."
 
warna liturgi hijau

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 

 

 Pepatah sering kali kita kenal sebagai ungkapan singkat yang sarat akan kebijaksanaan logis maupun nasihat praktis, seperti peringatan untuk berpikir sebelum bertindak atau prinsip bahwa perbuatan jauh lebih bermakna daripada sekadar kata-kata.  

Namun, melampaui kebijaksanaan manusiawi tersebut, Kitab Suci melalui Kitab Amsal mengajak kita menyelami dimensi rohani yang secara gamblang menunjukkan bagaimana Allah turut campur tangan mengarahkan kehidupan manusia. Dalam tuntunan ilahi ini, hati seorang penguasa ibarat aliran air di tangan Tuhan yang mudah dibelokkan sesuai kehendak-Nya, sementara peringatan tegas senantiasa diberikan kepada orang-orang fasik agar mereka tidak terjerumus menuju kehancuran. 

Puncak dari kebijaksanaan ini pada akhirnya disingkapkan secara luar biasa oleh Yesus yang memberikan makna baru, jauh melampaui sekadar ikatan darah. Ia menegaskan bahwa keluarga sejati-Nya adalah mereka yang sungguh-sungguh mendengarkan Firman Allah dan tekun melaksanakannya, sebuah pesan yang sekaligus menjadi panggilan nyata bagi kita saat ini untuk terus belajar dari hikmat ilahi dan mewujudkan kehendak Tuhan dalam setiap langkah kehidupan.

September 20, 2026

Senin, 21 September 2026 Pesta Santo Matius, Rasul, Penginjil

 

Bacaan I: Ef 4:1-7.11-13 "Ada macam-macam tugas pelayanan demi pembangunan umat."

Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-3.4-5; R:5a "Di seluruh bumi bergemalah suara mereka."

Bait Pengantar Injil: Mat 5:16 "Allah, Tuhan kami, Engkau kami puji dan kami muliakan. Kepada-Mu paduan para rasul bersyukur."

Bacaan Injil: Mat 9:9-13 "Berdirilah Matius, lalu mengikuti Yesus."

warna liturgi merah 
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
Public Domain

Kita tahu bahwa Tuhan merencanakan penciptaan dan segala sesuatu berjalan sesuai hukum alam dan segala sesuatu terjadi karena suatu alasan. Meskipun demikian, kita juga dapat melihat bahwa segala sesuatu dianugerahkan oleh Tuhan untuk memenuhi kehendak-Nya.

Terlebih lagi bagi orang-orang; seperti yang dikatakan dalam bacaan pertama: "...akhirnya kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus."

Dalam Injil, kita membaca panggilan St. Matius ketika dia sedang duduk di dekat rumah cukai. Namun, itu terdengar agak mendadak dan tiba-tiba. Di sana ada Yesus, lewat dan Dia melihat Matius duduk di dekat rumah cukai dan Dia menyuruhnya untuk mengikutinya dan dia bangkit dan mengikuti Yesus!

Tampaknya tidak ada dialog, tidak ada penegasan, tidak ada pertanyaan yang diajukan, tidak ada yang menunjukkan mengapa Yesus memilih untuk memanggil Matius dan mengapa Matius segera bangkit dan mengikuti-Nya.

Namun sebagaimana ada keteraturan dan rencana dalam penciptaan, dan segala sesuatu terjadi karena suatu alasan, pasti ada banyak hal yang terjadi dalam diri St. Matius sebelum Yesus memanggilnya.

Sebagai seorang pemungut pajak yang sudah mengkategorikannya sebagai orang berdosa dan dibenci sebagai orang buangan dan pengkhianat, anugerah Tuhan dalam dirinya barangkali sedang membuatnya memandang dirinya sendiri dan bertanya-tanya tentang kehidupannya.

Jadi ketika Yesus melihat ke arahnya, kasih karunia Allah mendorong dia untuk bangkit dan mengikuti Yesus.

Dan St Matius melanjutkan dengan menulis Injil yang menceritakan tentang pemenuhan kasih karunia Allah dalam pribadi Yesus.

Ya, masing-masing dari kita telah diberi bagian rahmatnya, diberikan sebagaimana Kristus telah memberikannya. Apa misi kita akan diungkapkan kepada kami sepanjang perjalanan.

Apa yang perlu kita lakukan sekarang adalah membiarkan kasih karunia Tuhan bekerja di dalam kita dan bangkit dan mengikut Yesus, yang datang bukan untuk memanggil orang-orang baik tetapi orang-orang berdosa.

September 19, 2026

Minggu, 20 September 2026 Hari Minggu Biasa XXV

 

Bacaan I: Yes 55:6-9 "Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu."
      

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3.8-9.17-18 "Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya."

Bacaan II: Flp 1:20c-24.27a "Bagiku hidup adalah Kristus."

Bait Pengantar Injil: Kis 16:14b "Tuhan bukalah hati kami, sehingga kami memperhatikan Sabda Putra-Mu."

Bacaan Injil: Mat 20:1-16a "Iri hatikah engkau karena Aku murah hati?"
 
warna liturgi hijau

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini  
 


Kita kerap bertanya-tanya tentang apa yang diajarkan oleh konsep pekerjaan, upah, kesejahteraan, dan pengangguran mengenai Kerajaan Allah. Melalui perumpamaan para pekerja di kebun anggur, kita diajak menyelami kemurahan hati dan belas kasihan Tuhan yang luar biasa (Matius 20:1-16). Pada zaman Yesus, ketiadaan pekerjaan bukan sekadar hilangnya status, melainkan ancaman nyata akan kelaparan bagi keluarga. Sang majikan mempekerjakan buruh hingga sore hari semata-mata agar mereka tidak pulang dengan tangan kosong dan perut lapar. Meski pekerja yang datang lebih awal mengeluh karena upah yang disamakan, perumpamaan ini sejatinya menegaskan bahwa Tuhan bermurah hati membuka pintu Kerajaan-Nya bagi siapa saja, baik yang telah mengabdi seumur hidup maupun yang baru datang di saat-saat terakhir. Namun, di balik imbalan yang sama, motif di dalam hatilah yang menjadi pembeda. Ada yang bekerja sekadar menghitung imbalan, namun ada pula yang melayani dengan penuh cinta, sukacita, dan semangat kemurahan hati.

September 18, 2026

Sabtu, 19 September 2026 Hari Biasa Pekan XXIV


Bacaan I: 1Kor 15:35-37.42-49 "Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan."

Mazmur Tanggapan: Mzm 56:10.11-12.13-14 "Aku berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan."

Bait Pengantar Injil: Luk 8:15 "Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah dalam hati yang baik dan tulus ikhlas dan menghasilkan buah dalam ketekunan."

Bacaan Injil: Luk 8:4-15 "Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang mendengar sabda itu dan menyimpannya dalam hati, dan menghasilkan buah dalam ketekunan."
 
warna liturgi hijau 
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
 
Gambaran tentang benih yang ditaburkan ke dalam tanah lalu berkecambah menjadi tanaman sungguh menakjubkan dan mengagumkan. Menyadari bahwa tanaman itu hampir tidak memiliki kemiripan dengan benih asalnya juga sangat menarik. Mungkin satu-satunya kaitan yang terlihat hanyalah pada benih-benih yang dihasilkannya. 
 
Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa alam menyimpan petunjuk tentang misteri kehidupan, baik di dunia ini maupun di kehidupan yang akan datang. Itulah sebabnya dalam bacaan pertama, Rausl Paulus menggunakan gambaran benih dan wujud tumbuhnya kelak sebagai sarana untuk menjelaskan misteri kehidupan setelah kematian dan kebangkitan. 
 
Dalam Injil, Yesus juga menggunakan gambaran benih, dengan kisah penabur yang menebarkan benih di berbagai jenis tanah. Namun, Yesus juga bersabda: "Dengarlah, siapa pun yang mempunyai telinga untuk mendengar!" Apa yang kita dengar dalam Misa—doa-doa, homili, dan lagu-lagu—semuanya itu ibarat benih misteri Allah yang ditaburkan ke dalam hati kita. Bagaimanapun keadaan hati kita, benih-benih itu akan tetap ada di sana dan tidak akan kembali kepada Allah tanpa mencapai tujuan pengutusannya. Namun, marilah kita juga melakukan apa yang diperlukan agar benih-benih itu menghasilkan buah. Sama seperti benih harus mati agar dapat menghasilkan panen, kita pun harus mati terhadap diri sendiri agar Sabda Allah dapat hidup di dalam diri kita. Akan tetapi, kita harus terlebih dahulu mendengarkan Sabda Allah, dan kemudian hati kita akan mulai menghasilkan buah yang kekal.
 

September 17, 2026

Jumat, 18 September 2026 Hari Biasa Pekan XXIV

    

Bacaan I: 1Kor 15:12-20 "Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaanmu."

Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1.6-7.8b.15 "Pada waktu bangun aku menikmati hadirat-Mu, ya Tuhan."

Bait Pengantar Injil: Mt 11:25 "Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada orang kecil."

Bacaan Injil: Lk 8:1-3 "Beberapa wanita menyertai Yesus dan melayani Dia dengan harta bendanya."
     
warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
 

 
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dapat dikatakan luar biasa. Dan dengan munculnya AI (Kecerdasan Buatan) serta integrasinya ke dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, masa depan tampak menjanjikan dan menarik. Apa yang dulunya hanya berupa imajinasi dan khayalan dalam film-film fiksi ilmiah kini menjadi kenyataan, bahkan telah tersedia di pasar konsumen. Namun, terkait perkembangan spiritual pribadi manusia dan umat manusia secara umum, tampaknya hal ini kurang mendapat sorotan. Mungkin dunia sekuler ingin menghindari keterlibatan agama dalam urusan duniawi. Akan tetapi, manusia juga merupakan makhluk spiritual, dan umat manusia memiliki dimensi spiritual dalam dirinya.

Dalam bacaan pertama, saat Rasul Paulus berbicara tentang Kebangkitan Kristus, ia juga mengatakan bahwa jika pengharapan kita kepada Kristus hanya terbatas pada kehidupan saat ini saja, maka kitalah orang yang paling malang. Sebab sebagai umat Kristiani, kita telah diangkat ke dalam kehidupan spiritual yang lebih tinggi, dan misi kita adalah membantu sesama mengembangkan dimensi spiritual dalam hidup mereka. Jadi, berkat ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia mampu menjangkau luar angkasa. Namun, hanya bersama Yesus-lah kita dapat menjangkau kedalaman hati kita, serta menaruh pengharapan kepada Allah—baik di dunia ini maupun di kehidupan yang akan datang.

September 16, 2026

Kamis, 17 September 2026 Hari Biasa Pekan XXIV


Bacaan I: 1Kor 15:1-11 "Begitulah kami mengajar dan begitu pulalah kamu mengimani." 

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1-2.16ab-17.28 "Bersyukurlah kepada Tuhan, karna baiklah Dia!"
 
Bait Pengantar Injil: Mat 11:28 "Datanglah kepada-Ku, kalian semua yang letih dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu."
 
Bacaan Injil: Luk 7:36-50 "Dosanya yang banyak telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih."
     
warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
 

  
 Piramida Mesir merupakan pemandangan yang terkenal, dan Piramida Agung Giza adalah salah satu keajaiban dunia kuno. Struktur piramida-piramida tersebut serupa: bagian atasnya meruncing, sedangkan bagian dasarnya lebar. Piramida mencerminkan struktur masyarakat, di mana pemerintah dan para pemimpin berada di puncak, sementara rakyat jelata berada di bagian dasar. Dalam arti tertentu, terdapat harmoni yang tenang antara puncak dan dasar, selaras dengan bagaimana sebuah piramida berdiri kokoh melintasi zaman. Bagian dasar yang terdiri dari rakyat jelata tidak boleh dan tidak bisa diabaikan; sebab jika dasar tersebut tergerus dan terabaikan, seluruh struktur akan terancam runtuh.

Santo Paulus adalah seorang misionaris besar bagi bangsa-bangsa non-Yahudi, namun dalam bacaan pertama, ia mengakui dirinya sebagai yang paling hina di antara para rasul karena pernah menganiaya Gereja. Namun, terjadi pengalaman pertobatan, dan kasih karunia Allah bekerja dengan penuh kuasa dalam diri Santo Paulus.

Dalam Injil, seorang perempuan yang memiliki reputasi buruk di kota itu diampuni dosanya oleh Yesus berkat kasih yang begitu besar yang ia tunjukkan kepada-Nya. Bacaan hari ini menyadarkan kita bahwa di lapisan dasar masyarakat, terdapat orang-orang berdosa dan mereka yang melakukan perbuatan jahat. Kita harus mendoakan pertobatan mereka agar mereka dapat mengalami pengampunan Allah. Dan seperti Santo Paulus serta perempuan dalam Injil tersebut, mereka akan menjadi dasar yang kokoh dan kuat dalam masyarakat.

September 15, 2026

Rabu, 16 September 2026 Peringatan Wajib St. Kornelius, Paus-Martir dan Siprianus, Uskup-Martir

 

Bacaan I: 1Kor 12:31-13:13 "Sekarang tinggal iman, harapan, dan kasih, namun yang paling besar diantaranya adalah kasih."
 
Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3.4-5.12.22 "Berbahagialah bangsa yang dipilih Tuhan menjadi milik-Nya."
 
Bait Pengantar Injil:  Lih. Yoh 6:63c, 68c "Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan. Pada-Mulah sabda kehidupan kekal."
 
Bacaan Injil: Luk 7:31-35 "Hikmat Allah dibenarkan oleh orang yang menerimanya."
     
warna liturgi merah
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 


     

Saudara-saudari terkasih, sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa panggilan utama dan tujuan hidup kita sebagai umat Kristiani adalah untuk mengasihi secara tulus dan tanpa pamrih. Melalui suratnya kepada jemaat di Korintus,  Rasul Paulus menegaskan bahwa tanpa kasih, segala karunia, bakat, dan kehebatan kita menjadi sia-sia belaka. Kasih sejati tidak memegahkan diri atau bersikap egois, melainkan berwujud dalam kepedulian yang nyata kepada sesama—baik kepada orang-orang terdekat, mereka yang sedang menderita, maupun orang asing yang kita jumpai setiap hari.

Tanpa kasih dan kerendahan hati, kita sangat rentan jatuh ke dalam kesombongan rohani. Inilah yang terjadi pada kaum Farisi dan ahli Taurat; keangkuhan dan ego membuat mereka buta sehingga menolak kehadiran Tuhan Yesus dan Yohanes Pembaptis. Mereka merasa diri paling benar dan justru menghakimi Tuhan karena Ia berinteraksi serta merangkul orang-orang berdosa. Kesombongan semacam ini menghalangi kita untuk melihat karya keselamatan Allah dan dapat mengubah kita menjadi pribadi yang munafik, yang pada akhirnya lebih mencintai ego sendiri daripada mencintai Tuhan dan sesama yang dipercayakan kepada kita.

September 14, 2026

Selasa, 15 September 2026 Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita


Author Zarateman (CC)
  
Bacaan I: Ibr 5:7-9 "Ia menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya."

Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2-3a.3bc-4.5-6.15-16.20 "Selamatkanlah aku, ya Tuhan, oleh kasih setia-Mu."

Bait Pengantar Injil: Berbahagialah Engkau, Sang Perawan Maria, sebab di bawah salib Tuhan engkau menjadi martir tanpa menumpahkan darahmu

Bacaan Injil:  Yoh 19:25-27 “Ibu, inilah anakmu!”
 
warna liturgi putih
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 

 

 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Kita mungkin bertanya-tanya mengapa Gereja memilih saat-saat penuh dukacita, kesedihan, dan penderitaan itu lalu mengubahnya menjadi sebuah perayaan. Kemarin kita merayakan Pesta Pemuliaan Salib Suci. Hari ini kita kembali mengarahkan hati ke kaki Salib dan turut merasakan dukacita serta kesedihan Bunda Maria. Mungkin ada hal-hal tertentu dalam hidup yang dapat dipelajari melalui kesedihan dan penderitaan. Salib, yang tadinya merupakan sarana penderitaan dan kematian, diubah oleh Kristus menjadi lambang kehidupan dan kemuliaan.

Saat Bunda Maria berdiri di dekat salib dalam dukacita dan kepedihan, ia pun mengalami perubahan dan transformasi. Di saat dukacita yang paling mendalam itu, Kristus menetapkan Perawan Maria sebagai Bunda Gereja. Melalui wafat-Nya di kayu salib, Kristus menganugerahkan kehidupan bagi kita dan memberikan Maria sebagai Bunda kita. Maka, ketika kesedihan dan penderitaan diserahkan ke dalam tangan Allah, sesuatu yang indah dan mulia pun terjadi. Saat kita menghadapi kesulitan, kesesakan, ataupun kesedihan dan penderitaan, marilah kita datang kepada Bunda Maria dan berdiri bersamanya di kaki salib. Bahkan ketika kita tenggelam dalam dalamnya kesedihan dan penderitaan, Allah meyakinkan kita akan hal ini: saat yang indah akan segera tiba, saat yang mulia akan segera dimulai. Marilah kita senantiasa dekat dengan Bunda Maria, maka kita pun akan turut ambil bagian dalam kemuliaan salib.

September 13, 2026

Bacaan Liturgi: 14 - 20 September 2026

 
Senin, 14 September: Pesta Pemuliaan Salib Suci (M). 
Bil. 21:4-9; Mzm. 78:1-2.34-35,36-37,38; Flp. 2:6-11; Yoh. 3:13-17. 
 
Selasa, 15 September: Peringatan Wajib SP Maria Berdukacita (P). 
Ibr. 5:7-9; Mzm. 31:2-3a,3b-4,5-6,15-16,20; Yoh. 19:25-27 atau Luk. 2:33-35. 
 
Rabu, 16 September: Peringatan Wajib St. Kornelius dan St. Siprianus (M). 
1Kor 12:31-13:13; Mzm 33:2-3.4-5.12.22; Luk 7:31-35
 
Kamis, 17 September: Hari Biasa Pekan XXIV (H).   
Pfak St. Robertus Bellarminus dan St. Hildegardis dari Bingen 
1Kor 15:1-11; Mzm 118:1-2.16ab-17.28; Luk 7:36-50. 
 
Jumat, 18 September: Hari Biasa Pekan XXIV (H). 
1Kor 15:12-20; Mzm 17:1.6-7.8b.15; Luk 8:1-3. 
 
Sabtu, 19 September: Hari Biasa Pekan XXIV (H). 
Pfak St. Yanuarius
1Kor 15:35-37.42-49; Mzm 56:10.11-12.13-14; Luk 8:4-15. 
 
Minggu, 20 September: Hari Minggu Biasa XXV (H). 
Yes. 55:6-9; Mzm. 145:2-3,8-9,17-18; Flp. 1:20c-24,27a; Mat. 20:1-16a. 
 
  
 

Russ Allison Loar (CC BY-NC-ND 2.0)

Senin, 14 September 2026 Pesta Pemuliaan Salib Suci

 
Bacaan I: Bil 21:4-9 "Semua orang yang terpagut ular akan tetap hidup, bila memandang ular perunggu."
   
Mazmur Tanggapan: Mzm 78:1-2.34-35.36-37.38 "Jangan melupakan perbuatan-perbuatan Allah."

Bacaan II: Flp 2:6-11 "Yesus merendahkan diri, maka Allah sangat meninggikan Dia."
     

Bait Pengantar Injil: Ya Kristus, kami menyembah dan memuji Dikau, sebab dengan salib-Mu, Engkau telah menebus dunia.

Bacaan Injil: Yoh 3:13-17 "Anak manusia harus ditinggikan."
 
warna liturgi merah 
 

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini

 

Credit: JMLPYT/istock.com
 

  

 Kita patut bermegah dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus; di dalam Dia ada keselamatan, kehidupan, dan kebangkitan kita; dan melalui Dia kita diselamatkan serta dibebaskan. 

Saudara-saudari sekalian, kata-kata ini diambil dari antifon pembuka perayaan hari ini, yaitu Pesta Pemuliaan Salib Suci. Kata-kata ini mengungkapkan penekanan kuat Santo Paulus mengenai keutamaan mutlak Kristus dan salib-Nya sebagai jalan Allah menuju kekudusan dan keselamatan kita—sebuah pesan yang tidak hanya ditujukan kepada jemaat Galatia yang menerima pewartaan ini, tetapi juga kepada seluruh murid Kristus, sebagaimana tercermin dalam berbagai tulisannya.

"Ave crux, spes unica"—salam bagi salib, satu-satunya harapan kita. Ungkapan ini mungkin terdengar tidak masuk akal bagi mereka yang tidak memiliki iman. Mereka tidak dapat memahami mengapa ada orang yang dengan sukarela memuliakan sebuah sarana penyiksaan dan kematian. Sebagai umat yang telah diubahkan oleh kematian dan kebangkitan Kristus, kita tahu bahwa pesan yang dibawa Yesus bagi kita dan dunia tidak berakhir pada kematian. Kebangkitan Yesus memampukan kita memandang salib lebih dari sekadar apa yang dilihat dunia. Alih-alih kematian, Anda dan saya melihat kehidupan. Alih-alih penolakan dan kekalahan, Anda dan saya melihat kemenangan dan pemuliaan. Sikap Yesus yang dengan rendah hati taat sampai mati—bahkan mati di kayu salib—merupakan penyerahan diri Allah secara utuh bagi Anda, bagi saya, dan bagi semua orang. Melalui peristiwa ini, Anda, saya, dan seluruh dunia belajar tentang apa yang telah Allah lakukan bagi Kristus.

September 12, 2026

Minggu, 13 September 2026 Hari Minggu Biasa XXIV

Bacaan I: Sir 27:30-28:9 "Ampunilah kesalahan sesama, niscaya dosa-dosamu akan dihapus juga, jika engkau berdoa."

Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2.3-4.9-10.11-12; Ul: 8 "Tuhan adalah pengasih dan penyayang panjang sabar dan berlimpah kasih setia."

Bacaan II: Rom 14:7-9 "Entah hidup entah mati, kita tetap milik Tuhan."

Bait Pengantar Injil: Yoh 13:34 "Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu."

Bacaan Injil: Mat 18:21-35 "Ampunilah saudaramu, bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali."
 
 
warna liturgi hijau
 
 Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini  
 

 
  

 Saya tumbuh dalam keluarga yang selalu pergi ke gereja setiap hari Minggu. Saat mengikuti Misa hari Minggu, saya selalu menantikan saat-saat setelah Misa ketika kami bisa menyapa umat paroki lain yang sudah lama menjadi sahabat keluarga. Kami mengetahui kisah hidup mereka, dan mereka pun mengetahui kisah kami.
 
Setiap kali keluarga kami bepergian—terutama saat mengunjungi kerabat, entah itu mengunjungi ibu atau ayah, ataupun berbagai sepupu dan sahabat yang tersebar di seluruh negeri—kami selalu memastikan bahwa perjalanan kami mencakup kegiatan pergi ke gereja pada hari Minggu bersama keluarga besar paroki atau saudara-saudari seiman. Dalam perjalanan iman, kita pun sampai pada pemahaman bahwa kehidupan Kristen, dalam arti luas, adalah kehidupan yang dijalani bersama komunitas, bukan sendirian. Kita tidak bisa menjalaninya seorang diri. Kita membutuhkan komunitas. Sungguh indah bahwa kita semua berkumpul di gereja pada Minggu ini sebagai satu komunitas. Ketika kita meyakini dan memahami hal tersebut, kita menyadari bahwa kehidupan Kristen yang sehat mencakup momen-momen pendamaian dengan Allah sekaligus dengan sesama.

September 10, 2026

Sabtu, 12 September 2026 Hari Biasa Pekan XXIII

 

Bacaan I: 1Kor 10:14-22a "Kita  ini sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu."

Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13.17-18 "Aku mempersembahkan kurban syukur kepada-Mu, ya Tuhan."

Bait Pengantar Injil: Yoh 14:23 "Orang yang mengasihi Aku akan menaati sabda-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya."

Bacaan Injil: Luk 6:43-49 "Mengapa kalian berseru kepada-Ku, 'Tuhan, Tuhan!' padahal kalian tidak melakukan apa yang Kukatakan?"
 
warna liturgi hijau 

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 

 
  Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, hari ini kita diingatkan kembali akan indahnya persekutuan umat beriman yang dipersatukan oleh Tuhan melalui anugerah Ekaristi Kudus, di mana kita semua dilebur menjadi satu Tubuh dan satu Gereja yang senantiasa dijiwai oleh Roh Kudus menuju kehidupan kekal. Kesucian persekutuan ini adalah sesuatu yang harus kita rawat dan pertahankan dengan sungguh-sungguh, sebagaimana yang ditekankan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus ketika ia memperingatkan mereka untuk tidak menduakan Tuhan dengan mengambil bagian dalam persembahan berhala maupun upacara pagan yang marak pada masa itu. 
  
Tindakan menyekutukan Tuhan—sekalipun mungkin dilakukan karena tekanan lingkungan—tidak hanya melanggar Perintah Pertama Allah, tetapi juga menodai kesatuan komunitas beriman serta menjadi batu sandungan bagi sesama. Peringatan Rasul Paulus ini sejalan dengan sabda Tuhan dalam Injil hari ini, yang mengibaratkan kehidupan iman kita seperti pohon yang dinilai dari buahnya, serta rumah yang kekuatannya bergantung mutlak pada fondasinya. Tuhan Yesus menegaskan bahwa iman yang sejati tidak cukup hanya sebatas ucapan di bibir atau sekadar menjadi pendengar firman.
  
 Bagi kita di zaman sekarang, berhala yang mengancam fondasi iman tersebut mungkin bukan lagi patung-patung dewa kuno, melainkan wujud lain yang tak kalah menjeratnya, yakni kesombongan, egoisme, keserakahan, pemuasan hawa nafsu, dan segala ambisi duniawi yang perlahan-lahan menjauhkan kita dari kasih karunia Allah. Jika kita membiarkan diri dikuasai oleh berhala-berhala modern ini, kita akan terseret ke dalam jalan kemunafikan, menjadi umat yang bersikap mendua dan suam-suam kuku dalam menghayati kebenaran. Oleh karena itu, di tengah panggilan kita sebagai warga dunia, kita dituntut untuk selalu menempatkan Tuhan dan ketetapan-Nya di atas segalanya dengan menolak segala godaan yang dapat meruntuhkan fondasi rohani kita. Marilah kita memperbarui komitmen iman kita dengan membaktikan seluruh waktu, tenaga, dan hati murni kita untuk memuliakan nama-Nya, sehingga hidup kita dapat menghasilkan buah yang baik dan menjadi terang yang menginspirasi sesama untuk turut melangkah di jalan keselamatan. Semoga Allah senantiasa memberkati dan menyertai setiap usaha dan karya kita, kini dan sepanjang masa. Amin.

Jumat, 11 September 2026 Hari Biasa Pekan XXIII

 

Bacaan I: 1Kor 9:16-19.22b-27 "Bagi semua orang aku menjadi segala-galanya, untuk menyelamatkan mereka semua."

Mazmur Tanggapan: Mzm. 84:3.4-5-6.8.12 "Betapa menyenangkan tempat kediaman-Mu, ya Tuhan semesta alam!"

Bait Pengantar Injil: Yoh 17:17b, 17a  "Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran. Kuduskanlah kami dalam kebenaran."

Bacaan Injil: Luk 6:39-42 "Mungkinkah seorang buta membimbing orang buta?"
 
warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
  
wine-warm-glass-cup-contemplation-love-546649-pxhere.com (CC0/public domain)
 
Entah mengapa, kata "gratis" sepertinya selalu menarik perhatian kita. Saat mendengar kata itu disebut, atau melihatnya pada selebaran maupun iklan, kita sering kali tak kuasa menahan rasa penasaran untuk mengetahui apa sebenarnya yang ditawarkan secara cuma-cuma itu. Namun, seperti yang kita ketahui—dan pada akhirnya akan kita sadari—tidak ada yang namanya makan siang gratis. Lagipula, keju gratis biasanya hanya ditemukan di dalam perangkap tikus.

Ketika Rasul Paulus merenungkan misinya mewartakan Injil, ia mengajukan pertanyaan ini: Tahukah kalian apa upahku? Jawaban atas pertanyaannya sendiri adalah: Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.

Menyampaikan Kabar Baik secara cuma-cuma berarti ia tidak mengharapkan keuntungan materi apa pun, melainkan semata-mata ingin memenangkan sebanyak mungkin jiwa. Mewartakan Injil dengan mengharapkan keuntungan—baik berupa materi maupun pengakuan—ibarat orang buta yang menuntun orang buta lainnya. 
 
Oleh karena itu, dalam melayani Tuhan atau melakukan perbuatan kasih, marilah kita membebaskan diri dari motif dan keinginan yang berpusat pada diri sendiri. Tuhanlah yang akan menjadi upah kita; dan ketika kita memiliki Tuhan di dalam hati, kita akan mampu menuntun sesama menuju keselamatan.

September 08, 2026

Kamis, 10 September 2026 Hari Biasa Pekan XXIII


Bacaan I: 1Kor 8:1b-7.11-13 "Bila engkau melukai hati mereka yang lemah, engkau berdosa terhadap Kristus." 
 
Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3.13-14ab.23-24 "Tuntunlah aku di jalan yang kekal."

Bait Pengantar Injil: 1Yoh 4:12 "Jika kita saling menaruh cinta kasih, Allah tinggal dalam kita; dan cinta kasih Allah dalam kita menjadi sempurna."
 
Bacaan Injil: Luk 6:27-38 "Hendaklah kalian murah hati sebagaimana Bapamu murah hati adanya."
 
       warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
Siouxfall Diocese
 

Seringkali, kita menganggap remeh banyak hal dan biasanya hal-hal baik dalam hiduplah yang kita anggap remeh. Kita menganggap air bersih, udara segar, makanan enak, dan tempat tidur yang nyaman sebagai hal-hal yang akan selalu ada. Kita baru akan merindukannya saat hal-hal itu diambil dari kita atau saat hal-hal itu tidak ada lagi. Kita tidak hanya menganggap remeh hal-hal baik, kita juga sering menganggap remeh orang-orang yang mencintai dan peduli pada kita. Menganggap remeh mereka mungkin berarti kita tidak mencintai dan peduli pada mereka sebanyak mereka mencintai dan peduli pada kita.

Dalam Injil, Yesus berkata untuk mengasihi musuh kita, berbuat baik kepada mereka yang membenci kita, memberkati mereka yang mengutuk kita, dan berdoa bagi mereka yang memperlakukan kita dengan buruk. Itu kedengarannya cukup sulit, tetapi itulah panggilan yang lebih tinggi bagi seorang Kristen yang ingin mengikuti Yesus. Namun, jika kasih dimulai dari rumah, maka mari kita perhatikan orang-orang yang mencintai dan peduli pada kita dan bertanya pada diri sendiri apakah kita lebih mencintai mereka daripada mereka mencintai kita. Jika kita dapat mengasihi orang-orang yang mengasihi kita, maka kita akan siap untuk bergerak maju dan mengasihi orang-orang yang Yesus panggil untuk kita kasihi. Semoga Tuhan kita Yesus menganugerahkan kasih-Nya kepada kita untuk memenuhi misi kasih kita.

lumenchristi.id 2026 - Situs ini menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan menggunakan situs ini, Anda telah menyetujui penggunaan cookies dari Kami.