Bacaan I: Sir 27:30-28:9 "Ampunilah kesalahan sesama, niscaya dosa-dosamu akan dihapus juga, jika engkau berdoa."
Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2.3-4.9-10.11-12; Ul: 8 "Tuhan adalah pengasih dan penyayang panjang sabar dan berlimpah kasih setia."
Bacaan II: Rom 14:7-9 "Entah hidup entah mati, kita tetap milik Tuhan."
Bait Pengantar Injil: Yoh 13:34 "Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu."
Bacaan Injil: Mat 18:21-35 "Ampunilah saudaramu, bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali."
Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2.3-4.9-10.11-12; Ul: 8 "Tuhan adalah pengasih dan penyayang panjang sabar dan berlimpah kasih setia."
Bacaan II: Rom 14:7-9 "Entah hidup entah mati, kita tetap milik Tuhan."
Bait Pengantar Injil: Yoh 13:34 "Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu."
Bacaan Injil: Mat 18:21-35 "Ampunilah saudaramu, bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali."
Saya tumbuh dalam keluarga yang selalu pergi ke gereja setiap hari Minggu. Saat mengikuti Misa hari Minggu, saya selalu menantikan saat-saat setelah Misa ketika kami bisa menyapa umat paroki lain yang sudah lama menjadi sahabat keluarga. Kami mengetahui kisah hidup mereka, dan mereka pun mengetahui kisah kami.
Setiap kali keluarga kami bepergian—terutama saat mengunjungi kerabat, entah itu mengunjungi ibu atau ayah, ataupun berbagai sepupu dan sahabat yang tersebar di seluruh negeri—kami selalu memastikan bahwa perjalanan kami mencakup kegiatan pergi ke gereja pada hari Minggu bersama keluarga besar paroki atau saudara-saudari seiman. Dalam perjalanan iman, kita pun sampai pada pemahaman bahwa kehidupan Kristen, dalam arti luas, adalah kehidupan yang dijalani bersama komunitas, bukan sendirian. Kita tidak bisa menjalaninya seorang diri. Kita membutuhkan komunitas. Sungguh indah bahwa kita semua berkumpul di gereja pada Minggu ini sebagai satu komunitas. Ketika kita meyakini dan memahami hal tersebut, kita menyadari bahwa kehidupan Kristen yang sehat mencakup momen-momen pendamaian dengan Allah sekaligus dengan sesama.
Rasul Paulus menjelaskan mengapa kita perlu berdamai dengan sesama jika kita ingin memiliki harapan untuk berdamai dengan Allah. Ingatlah, kita telah mendengar bahwa kita adalah milik Tuhan. Kita milik Kristus dan kita harus menyelaraskan diri dengan Dia. Tidak ada seorang pun dari kita yang hidup untuk dirinya sendiri, sebagaimana telah kita dengar, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Kita adalah komunitas orang-orang beriman. Kita semua adalah orang berdosa, dan kita perlu saling memberi serta menerima apa yang kita butuhkan dari Tuhan, yaitu belas kasih.
Kita dipanggil untuk memperlakukan sesama sebagaimana Allah telah memperlakukan kita di dalam Yesus Kristus, yakni dengan membagikan kasih Yesus Kristus yang memberi kehidupan dan pengampunan. Mungkin kita bertanya, seperti apa sebenarnya wujud hal itu? Inilah inti dari pertanyaan Petrus dalam bacaan Injil hari ini. Seperti apakah pengampunan itu, ya Tuhan? Apakah mengampuni saudara sebanyak tujuh kali? Angka itu tampaknya masuk akal, bukan? Terutama jika itu untuk kesalahan yang sama. Namun, Yesus berkata tujuh puluh tujuh kali. Itulah jawaban-Nya. Agar kita tidak terpaku pada angka-angka persisnya dan melupakan inti persoalannya, Yesus kemudian menyampaikan perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni; hamba ini terlilit utang yang sangat besar hingga mustahil untuk melunasinya, sehingga ia harus sepenuhnya mengandalkan belas kasih tuannya. Utangnya dihapuskan secara ajaib. Namun, alih-alih memperbaiki hidupnya, mengubah hatinya, atau membagikan belas kasih yang baru saja diterimanya kepada orang lain, hamba itu justru memenjarakan seseorang yang berutang jauh lebih sedikit kepadanya. Akibatnya, sebagaimana kita baca dalam perumpamaan itu, sang tuan menyerahkannya untuk dihukum sampai ia melunasi seluruh utangnya.
Yesus menunjukkan bahwa Dia tidak berutang apa pun kepada kita, namun Dia telah memberikan segalanya bagi kita. Dia telah mengampuni perbuatan terburuk yang pernah kita lakukan, dan Dia pun bersedia mengampuni hal-hal terburuk yang bisa kita bayangkan. Namun, meski belas kasih itu tersedia berlimpah dan dapat kita peroleh secara cuma-cuma, Dia mendapati kita masih menyimpan dendam atas kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan orang lain terhadap kita. Bapa Suci Paus Fransiskus pada tahun 2023 merenungkan bacaan Injil hari ini, menyampaikan hal berikut kepada kita. Beliau mengatakan bahwa tanpa pengampunan, tidak ada harapan. Tanpa pengampunan, tidak ada kedamaian. Beliau juga mengatakan bahwa pengampunan adalah oksigen yang memurnikan udara dari kebencian. Pengampunan adalah penawar bagi racun rasa sakit hati. Ia adalah jalan untuk meredakan amarah dan menyembuhkan berbagai penyakit hati.
Kita semua sebenarnya pantas berada di penjara bagi orang berutang milik Yesus, namun Dia datang untuk membebaskan para tawanan. Memang benar, kita tidak layak menerima belas kasih yang Allah tunjukkan kepada kita di dalam Kristus. Kita tidak bisa mendapatkannya dengan usaha sendiri ataupun membalasnya, namun kita tentu bisa menghidupinya. Kita bisa mengampuni dan kita bisa memohon pengampunan. Dan sebagaimana angka 77 melambangkan sifat belas kasih Allah yang tak terbatas terhadap kita, kita pun dapat menjadikannya lambang belas kasih kita satu sama lain. Dengan latihan, kita semua bisa belajar mengampuni kesalahan-kesalahan kecil setiap harinya. Akan tetapi, memang lebih sulit untuk mengampuni kesalahan-kesalahan besar.
Cepat atau lambat, kita masing-masing harus mengampuni pelanggaran berat—mungkin bahkan luka yang menghancurkan hidup akibat perbuatan orang yang sangat kita kasihi—atau kita mungkin menghadapi situasi di mana kita sendiri telah melakukan dosa yang begitu berat hingga rasanya kita tidak mampu mengampuni diri sendiri, meskipun kita tahu Allah telah mengampuni kita. Dalam situasi-situasi seperti ini, jauh lebih sulit untuk menjalankan perintah Kristus tentang belas kasih tanpa batas, namun hal itu bukan mustahil. Untuk bersiap menghadapi situasi semacam itu, kita perlu mengisi pikiran kita dengan berbagai teladan pengampunan dan belas kasih, serta kisah nyata saudara-saudari seiman yang telah mendahului kita dan belajar mengikuti Kristus dengan setia serta penuh sukacita. Saudara-saudari ini adalah para orang kudus. Kita semua harus ingat bahwa para orang kudus tidak terlahir dalam keadaan kudus. Para orang kudus bergulat menghadapi godaan dan pencobaan yang sama seperti yang kita alami, namun mereka berhasil melaluinya dengan kemenangan; itulah sebabnya Gereja mengakui mereka dan menghadirkan mereka di hadapan kita sebagai teladan hidup. Para orang kudus belajar bagaimana menerima dan mengalami belas kasih Allah, serta bagaimana bersikap penuh belas kasih terhadap satu sama lain, meskipun hal itu tidak selalu mudah.
Kita masing-masing di sini memiliki orang kudus favorit. Mengapa tidak meluangkan waktu minggu ini untuk mengenal lebih jauh para orang kudus dalam Gereja, serta membaca lebih dari sekadar ringkasan satu kalimat mengenai kehidupan mereka? Mari kita beri mereka kesempatan untuk menginspirasi kita, agar pada gilirannya kita dapat menjadi inspirasi sejati bagi orang lain—teladan sejati akan Yesus Kristus, serta teladan sejati akan kasih dan belas kasih yang mencerminkan Kristus.




