Bacaan I: 1Kor 9:16-19.22b-27 "Bagi semua orang aku menjadi segala-galanya, untuk menyelamatkan mereka semua."
Mazmur Tanggapan: Mzm. 84:3.4-5-6.8.12 "Betapa menyenangkan tempat kediaman-Mu, ya Tuhan semesta alam!"
Bait Pengantar Injil: Yoh 17:17b, 17a "Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran. Kuduskanlah kami dalam kebenaran."
Bacaan Injil: Luk 6:39-42 "Mungkinkah seorang buta membimbing orang buta?"
Mazmur Tanggapan: Mzm. 84:3.4-5-6.8.12 "Betapa menyenangkan tempat kediaman-Mu, ya Tuhan semesta alam!"
Bait Pengantar Injil: Yoh 17:17b, 17a "Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran. Kuduskanlah kami dalam kebenaran."
Bacaan Injil: Luk 6:39-42 "Mungkinkah seorang buta membimbing orang buta?"
warna liturgi putih
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
Entah mengapa, kata "gratis" sepertinya selalu menarik perhatian kita. Saat mendengar kata itu disebut, atau melihatnya pada selebaran maupun iklan, kita sering kali tak kuasa menahan rasa penasaran untuk mengetahui apa sebenarnya yang ditawarkan secara cuma-cuma itu. Namun, seperti yang kita ketahui—dan pada akhirnya akan kita sadari—tidak ada yang namanya makan siang gratis. Lagipula, keju gratis biasanya hanya ditemukan di dalam perangkap tikus.
Ketika Rasul Paulus merenungkan misinya mewartakan Injil, ia mengajukan pertanyaan ini: Tahukah kalian apa upahku? Jawaban atas pertanyaannya sendiri adalah: Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.
Menyampaikan Kabar Baik secara cuma-cuma berarti ia tidak mengharapkan keuntungan materi apa pun, melainkan semata-mata ingin memenangkan sebanyak mungkin jiwa. Mewartakan Injil dengan mengharapkan keuntungan—baik berupa materi maupun pengakuan—ibarat orang buta yang menuntun orang buta lainnya.
Ketika Rasul Paulus merenungkan misinya mewartakan Injil, ia mengajukan pertanyaan ini: Tahukah kalian apa upahku? Jawaban atas pertanyaannya sendiri adalah: Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.
Menyampaikan Kabar Baik secara cuma-cuma berarti ia tidak mengharapkan keuntungan materi apa pun, melainkan semata-mata ingin memenangkan sebanyak mungkin jiwa. Mewartakan Injil dengan mengharapkan keuntungan—baik berupa materi maupun pengakuan—ibarat orang buta yang menuntun orang buta lainnya.
Oleh karena itu, dalam melayani Tuhan atau melakukan perbuatan kasih, marilah kita membebaskan diri dari motif dan keinginan yang berpusat pada diri sendiri. Tuhanlah yang akan menjadi upah kita; dan ketika kita memiliki Tuhan di dalam hati, kita akan mampu menuntun sesama menuju keselamatan.




