Saudara-saudari terkasih, sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa panggilan utama dan tujuan hidup kita sebagai umat Kristiani adalah untuk mengasihi secara tulus dan tanpa pamrih. Melalui suratnya kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus menegaskan bahwa tanpa kasih, segala karunia, bakat, dan kehebatan kita menjadi sia-sia belaka. Kasih sejati tidak memegahkan diri atau bersikap egois, melainkan berwujud dalam kepedulian yang nyata kepada sesama—baik kepada orang-orang terdekat, mereka yang sedang menderita, maupun orang asing yang kita jumpai setiap hari.
Tanpa kasih dan kerendahan hati, kita sangat rentan jatuh ke dalam kesombongan rohani. Inilah yang terjadi pada kaum Farisi dan ahli Taurat; keangkuhan dan ego membuat mereka buta sehingga menolak kehadiran Tuhan Yesus dan Yohanes Pembaptis. Mereka merasa diri paling benar dan justru menghakimi Tuhan karena Ia berinteraksi serta merangkul orang-orang berdosa. Kesombongan semacam ini menghalangi kita untuk melihat karya keselamatan Allah dan dapat mengubah kita menjadi pribadi yang munafik, yang pada akhirnya lebih mencintai ego sendiri daripada mencintai Tuhan dan sesama yang dipercayakan kepada kita.




