| Home | Indonesian Papist | Renungan Pagi| Doa Umat Misa Harian | Privacy Policy | Support Lumen Christi |



Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

September 18, 2026

Sabtu, 19 September 2026 Hari Biasa Pekan XXIV


Bacaan I: 1Kor 15:35-37.42-49 "Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan."

Mazmur Tanggapan: Mzm 56:10.11-12.13-14 "Aku berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan."

Bait Pengantar Injil: Luk 8:15 "Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah dalam hati yang baik dan tulus ikhlas dan menghasilkan buah dalam ketekunan."

Bacaan Injil: Luk 8:4-15 "Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang mendengar sabda itu dan menyimpannya dalam hati, dan menghasilkan buah dalam ketekunan."
 
warna liturgi hijau 
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
 
Gambaran tentang benih yang ditaburkan ke dalam tanah lalu berkecambah menjadi tanaman sungguh menakjubkan dan mengagumkan. Menyadari bahwa tanaman itu hampir tidak memiliki kemiripan dengan benih asalnya juga sangat menarik. Mungkin satu-satunya kaitan yang terlihat hanyalah pada benih-benih yang dihasilkannya. 
 
Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa alam menyimpan petunjuk tentang misteri kehidupan, baik di dunia ini maupun di kehidupan yang akan datang. Itulah sebabnya dalam bacaan pertama, Rausl Paulus menggunakan gambaran benih dan wujud tumbuhnya kelak sebagai sarana untuk menjelaskan misteri kehidupan setelah kematian dan kebangkitan. 
 
Dalam Injil, Yesus juga menggunakan gambaran benih, dengan kisah penabur yang menebarkan benih di berbagai jenis tanah. Namun, Yesus juga bersabda: "Dengarlah, siapa pun yang mempunyai telinga untuk mendengar!" Apa yang kita dengar dalam Misa—doa-doa, homili, dan lagu-lagu—semuanya itu ibarat benih misteri Allah yang ditaburkan ke dalam hati kita. Bagaimanapun keadaan hati kita, benih-benih itu akan tetap ada di sana dan tidak akan kembali kepada Allah tanpa mencapai tujuan pengutusannya. Namun, marilah kita juga melakukan apa yang diperlukan agar benih-benih itu menghasilkan buah. Sama seperti benih harus mati agar dapat menghasilkan panen, kita pun harus mati terhadap diri sendiri agar Sabda Allah dapat hidup di dalam diri kita. Akan tetapi, kita harus terlebih dahulu mendengarkan Sabda Allah, dan kemudian hati kita akan mulai menghasilkan buah yang kekal.
 

lumenchristi.id 2026 - Situs ini menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan menggunakan situs ini, Anda telah menyetujui penggunaan cookies dari Kami.