| Home | Indonesian Papist | Renungan Pagi| Doa Umat Misa Harian | Privacy Policy | Support Lumen Christi |



Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

September 19, 2026

Minggu, 20 September 2026 Hari Minggu Biasa XXV

 

Bacaan I: Yes 55:6-9 "Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu."
      

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3.8-9.17-18 "Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya."

Bacaan II: Flp 1:20c-24.27a "Bagiku hidup adalah Kristus."

Bait Pengantar Injil: Kis 16:14b "Tuhan bukalah hati kami, sehingga kami memperhatikan Sabda Putra-Mu."

Bacaan Injil: Mat 20:1-16a "Iri hatikah engkau karena Aku murah hati?"
 
warna liturgi hijau

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini  
 


Kita kerap bertanya-tanya tentang apa yang diajarkan oleh konsep pekerjaan, upah, kesejahteraan, dan pengangguran mengenai Kerajaan Allah. Melalui perumpamaan para pekerja di kebun anggur, kita diajak menyelami kemurahan hati dan belas kasihan Tuhan yang luar biasa (Matius 20:1-16). Pada zaman Yesus, ketiadaan pekerjaan bukan sekadar hilangnya status, melainkan ancaman nyata akan kelaparan bagi keluarga. Sang majikan mempekerjakan buruh hingga sore hari semata-mata agar mereka tidak pulang dengan tangan kosong dan perut lapar. Meski pekerja yang datang lebih awal mengeluh karena upah yang disamakan, perumpamaan ini sejatinya menegaskan bahwa Tuhan bermurah hati membuka pintu Kerajaan-Nya bagi siapa saja, baik yang telah mengabdi seumur hidup maupun yang baru datang di saat-saat terakhir. Namun, di balik imbalan yang sama, motif di dalam hatilah yang menjadi pembeda. Ada yang bekerja sekadar menghitung imbalan, namun ada pula yang melayani dengan penuh cinta, sukacita, dan semangat kemurahan hati.

Semangat keterbukaan dan kemurahan hati Tuhan inilah yang turut menjadi denyut nadi Gereja. Sebagaimana pernah disampaikan oleh mendiang Paus Fransiskus ketika berdialog dengan para uskup, setiap orang selalu disambut dengan tangan terbuka di dalam Gereja Katolik. Namun, ada satu penekanan penting: segala ideologi dan agenda pribadi harus ditinggalkan di ambang pintu. Kita datang bukan untuk membawa kepentingan sendiri, melainkan untuk menghayati murni panggilan pembaptisan kita. Pesan ini adalah undangan yang indah untuk merangkul sesama dengan semangat misioner, sekaligus mendampingi mereka yang mungkin sedang bergumul dengan ajaran Gereja atau tantangan hidup, agar mereka bisa merasakan rahmat penyembuhan dari Allah.

Menyambut panggilan tersebut berarti kita ditantang untuk berani mati terhadap kehendak diri sendiri. Apa pun bentuk keinginan pribadi, prinsip filosofis, pandangan politik, atau kemelekatan duniawi—seperti kekuasaan, harta benda, dan hiburan yang sering kali mengecoh—semuanya harus ditundukkan di bawah ajaran kasih Kristus. Inilah rencana sempurna Allah: membebaskan kita dari belenggu ego agar kita bisa merengkuh panggilan sebagai murid yang menaati perintah-Nya. Untuk memampukan kita, Tuhan Yesus mencurahkan kuasa Roh Kudus agar hidup kita menghasilkan buah-buah Kerajaan Allah—damai sejahtera, sukacita, kebenaran, dan kasih—yang tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga dibagikan kepada sesama demi kesejahteraan mereka.

Memang, melepaskan kehendak diri bukanlah hal yang mudah. Seperti yang tertulis dalam Kitab Yesaya, "Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalan-Mu bukanlah jalan-Ku," demikianlah firman Tuhan. Sebagai manusia, kita sering kali terjebak pada keinginan egosentris, memikirkan apa yang kita hasratkan secara duniawi. Namun, Allah memanggil kita untuk keluar dari keakuan itu agar semakin serupa dengan Kristus, mengutamakan rencana Allah di atas segalanya. Bahkan tokoh-tokoh besar seperti Rasul Petrus dan Rasul Paulus pun pernah berpikir secara manusiawi dan tidak sejalan dengan pemikiran Allah. Dalam momen-momen tersebut, Kristus meluruskan mereka dengan teguran yang penuh kasih; sebuah bentuk kepedulian yang luar biasa agar mereka, dan juga kita, diselamatkan dari jalan yang kita anggap benar namun bertentangan dengan kehendak Ilahi.

Pada akhirnya, sebagaimana pesan dalam surat Rasul Paulus, kita semua dipanggil untuk hidup secara pantas bagi Injil Kristus. Marilah kita memohon rahmat dari Tuhan agar memampukan kita mencari-Nya dengan hati yang tulus di setiap kesempatan. Kita dapat membawa segala pergumulan hidup kita ke hadapan Tuhan di dalam Gereja, sembari memohon kekuatan untuk benar-benar melepaskan segala urusan duniawi, politik, dan agenda pribadi di ambang pintu. Dengan merelakan itu semua, pikiran kita akan semakin diserupakan dengan pikiran Kristus, memampukan kita untuk mengasihi sesama, menyangkal diri, dan hidup sepenuhnya demi keselamatan jiwa-jiwa serta kemuliaan Allah. (DD/LUMENCHRISTI)

lumenchristi.id 2026 - Situs ini menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan menggunakan situs ini, Anda telah menyetujui penggunaan cookies dari Kami.