| Home | Indonesian Papist | Renungan Pagi| Doa Umat Misa Harian | Privacy Policy | Support Lumen Christi |



Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

September 26, 2026

Minggu, 27 September 2026 Hari Minggu Biasa XXVI

 

Bacaan I: Yeh 18:25-28 "Kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya, ia akan menyelamatkan nyawanya."
         

Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5.6-7.8-9; Ul: lh.6a "Ingatlah segala rahmat dan kasih setia-Mu, ya Tuhan."

Bacaan II: Flp 2:1-11 "Dalam hidupmu bersama hendaknya kamu bersikap seperti Kristus Yesus."

Bait Pengantar Injil: Yoh 10:17 "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, sabda Tuhan, Aku mengenal mereka, dan mereka mengenal Aku."

Bacaan Injil: Mat 21:28-32 "Yohanes Pembaptis datang dan orang-orang berdosa percaya kepadanya."
     
warna liturgi hijau

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
Siouxfall Diocese
 
Dalam kehidupan sosial, kita sangat menyadari betapa pentingnya kesan pertama. Kesan ini sering kali melekat kuat dan bertahan lama dalam benak orang lain, sehingga wajar jika kita selalu berusaha tampil memukau saat pertama kali berinteraksi. Kita membalut diri dengan kefasihan berbicara, tata krama yang anggun, serta menderetkan pencapaian pendidikan maupun profesi agar dipandang sebagai sosok yang dapat diandalkan, jujur, dan tepercaya. Memang tidak bisa dimungkiri, di mata dunia, citra yang memikat adalah salah satu kunci utama untuk membuka pintu kesuksesan, baik dalam urusan bisnis maupun relasi sehari-hari.

Namun, di balik segala upaya keras tersebut, terselip pertanyaan mendalam yang patut kita renungkan bersama: mengapa kita begitu gigih berusaha memukau orang lain, dan siapakah diri kita yang sebenarnya di balik citra yang kita bangun? Yesus pernah memberikan gambaran yang sangat relevan mengenai dilema ini melalui perumpamaan tentang dua orang anak laki-laki yang diminta ayahnya untuk bekerja di kebun anggur. Anak pertama awalnya menolak namun pada akhirnya pergi bekerja, sedangkan anak kedua menjawab "ya" dengan penuh semangat namun nyatanya tidak pernah melangkah ke kebun tersebut. Kisah sederhana ini ibarat cermin yang memantulkan teguran halus tentang bagaimana kita sering kali menampilkan diri dan merespons dunia di sekitar kita.

Sering kali, tanpa sadar kita menyimpan sisi-sisi dari kedua anak tersebut di dalam diri kita. Ada kalanya kita bersikap seperti anak pertama, dengan mudah menolak permintaan orang-orang yang kita anggap tidak terlalu berarti atau tidak memberikan keuntungan bagi kita, tanpa peduli apakah penolakan itu menyinggung perasaan mereka. Di lain waktu, kita justru menjelma menjadi anak kedua; mengobral kata "ya" dengan antusiasme yang semu dan motif tersembunyi, semata-mata demi memoles kesan yang baik di mata orang lain. Padahal, jika kita terus-menerus berlindung di balik kata "ya" yang palsu, seiring berjalannya waktu orang-orang akan menyadari betapa rapuhnya karakter dan integritas kita. Sebaliknya, jika kita terus-menerus menolak dan menutup diri dengan kata "tidak", kita hanya akan menggiring diri sendiri menuju jurang kesepian dan keterasingan.

Menyadari bahwa kita tentu tidak ingin hidup dalam keterasingan maupun kepalsuan, arah perenungan kita harus bergeser dari sekadar memikirkan validasi dunia menuju pencarian akan sosok seperti apa yang sejatinya Tuhan kehendaki dari kita. Tuhan telah merajut keberadaan kita dengan kasih dan di dalam kasih, agar kita pun tumbuh menjadi pribadi yang mewujudnyatakan kasih itu sendiri. Seperti yang sering digambarkan dalam berbagai sabda-Nya, sosok yang penuh kasih bukanlah mereka yang sibuk memoles citra diri agar dipuji; melainkan ia yang rendah hati, menanggalkan kesombongan, dan tulus mendahulukan kepentingan sesamanya.

Pada akhirnya, menjadi pribadi yang penuh kasih sama sekali bukan tentang upaya mengesankan manusia, melainkan tentang menghidupi rancangan sejati Tuhan atas diri kita. Langkah awal untuk mewujudkannya menuntut sebuah pergeseran sikap di dalam batin kita. Marilah kita mulai berani berkata "Ya" kepada Tuhan, dan dengan tegas berkata "Tidak" pada ego kita sendiri. 
 

Doa Umat 
  
I. Allah Bapa kita sungguh maha pengampun dan senantiasa menantikan kepulangan kita. Ia berjanji bahwa siapa pun yang berbalik dari kefasikan akan menyelamatkan nyawanya. Maka, dengan niat hati yang tulus untuk bertobat dan kerinduan untuk meneladan sikap Kristus Yesus dalam hidup bersama, marilah kita dengan rendah hati memanjatkan doa-doa permohonan kita ke hadirat-Nya
 
P. Bagi semangat pertobatan dan bagi para pemimpin: Semoga Bapa mencurahkan semangat pertobatan ke dalam diri seluruh umat-Mu. Berikanlah juga keberanian dan kebijaksanaan bagi para pemimpin kami, agar mereka mau berbicara dan bertindak nyata dalam membela kaum yang lemah dan tidak memiliki suara. Marilah kita mohon...
U. Tuhan, dengarkanlah doa kami. 
  
P. Bagi mereka yang tersesat dalam kejahatan: Sentuhlah hati saudara-saudari kami yang saat ini terjerat dalam kehidupan kriminal dan perbuatan jahat. Tuntunlah mereka pada jalan pertobatan yang sejati, agar mereka menyadari kesalahannya dan kembali hidup dalam terang kasih-Mu. Marilah kita mohon: 
U. Tuhan, dengarkanlah doa kami. 
 
P. Bagi pelestarian alam ciptaan: Tumbuhkanlah sikap hormat dan kepedulian yang mendalam dalam diri kami terhadap seluruh alam semesta. Jadikanlah kami penjaga ciptaan yang bijaksana, agar bumi ini tetap lestari bagi generasi yang akan datang. Marilah kita mohon...
U. Tuhan, dengarkanlah doa kami. 
 
P. Bagi panggilan suci di paroki kami: Berkatilah para pemuda yang sedang dalam masa diskresi dan pencarian panggilan untuk menjadi imam maupun diakon, serta para pemudi di paroki kami yang sedang menimbang panggilan untuk hidup membiara. Terangilah hati dan budi mereka, agar berani menanggapi panggilan-Mu dengan sepenuh hati.
Marilah kita mohon...
U. Tuhan, dengarkanlah doa kami. 
 
P. Bagi saudara-saudari kita yang sakit dan berhalangan hadir: Sertailah semua orang yang tidak dapat meninggalkan rumah karena usia lanjut atau sakit, khususnya mereka yang mengikuti perayaan Ekaristi ini melalui siaran televisi maupun internet. Anugerahkanlah kekuatan, penghiburan, dan damai sejahtera bagi mereka. Marilah kita mohon...
U. Tuhan, dengarkanlah doa kami. 
 
I. Allah Bapa yang mahabaik, dengarkanlah seruan doa umat-Mu yang berhimpun di sini. Curahkanlah rahmat pertobatan ke dalam diri kami, agar kami berani meninggalkan segala dosa dan kefasikan kami. Bentuklah hati kami agar semakin menyerupai hati Putra-Mu, sehingga di mana pun kami berada, kami mampu memancarkan kasih dan kerendahan hati Kristus dalam hidup bersama. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami. 
U. Amin.  
 

lumenchristi.id 2026 - Situs ini menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan menggunakan situs ini, Anda telah menyetujui penggunaan cookies dari Kami.