Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-4.5-6.12-13.14.17; R:1 "Ya Tuhan, Engkaulah tempat kami berlindung turun-temurun."
Bait Pengantar Injil: Yoh 14:6 "Akulah jalan, kebenaran dan hidup, sabda Tuhan. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."
Bacaan Injil: Luk 9:7-9 "Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal besar itu?"
Kehadiran Sang Sabda Kekal, Yesus Kristus, membawa pembaruan yang sejati ke dalam dunia. Melalui inkarnasi-Nya—penyatuan diri-Nya dengan kodrat manusiawi—sejarah dunia diubah sepenuhnya, hingga kita membagi waktu menjadi sebelum dan sesudah Kristus. Namun, sebelum pembaruan ini nyata, umat manusia sering kali bergumul dengan kefanaan, seperti yang disuarakan oleh penulis Kitab Pengkhotbah (Kohelet). Ia memandang dunia sebagai siklus yang terus berulang, di mana segala jerih payah di bawah matahari terasa seperti sebuah kesia-siaan. Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan untuk kesia-siaan ini adalah hevel, yang bermakna uap atau kabut. Masalah utamanya bukanlah bahwa hidup ini tanpa makna, melainkan berlalu begitu cepat dan tidak bisa digenggam. Seperti yang diungkapkan dalam Mazmur, hari-hari manusia bagaikan bayang-bayang yang melintas; sebuah kabut yang tak bisa kita rangkul dengan kedua tangan.
Di sinilah letak keindahan kasih Tuhan: Allah Sang Anak melangkah keluar dari kekekalan dan menjadi manusia agar Dia yang tak terlihat kini dapat kita lihat, sentuh, dan peluk. Kitab Pengkhotbah mengingatkan bahwa karena hidup kita hanyalah sehelai napas, kita harus menyadari kehadiran Allah selagi masih hidup, menjaga hati, dan mengingat bahwa hidup ini berujung pada-Nya. Kesadaran akan kefanaan inilah yang memaksa kita untuk mencari sesuatu yang lebih abadi.




