Mazmur Tanggapan: Mzm 78:56-57.58-59.61-62 "Janganlah kita melupakan karya-karya Allah."
Bait Pengantar Injil: Mzm 119:135 "Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku."
Bacaan Injil: Mat 18:21 - 19:1 "Aku berkata kepadamu, 'Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali kalian harus mengampuni."
Saudara-saudari terkasih, jika kita menyadari betapa besarnya kasih Allah, hidup kita seharusnya dipenuhi dengan rasa syukur yang mendalam. Hari ini, melalui sabda-Nya, kita diundang untuk merenungkan sebuah pertanyaan mendasar: Sudahkah kita menghargai belas kasih Tuhan?
Allah selalu membuka tangan-Nya, menawarkan pengampunan dan hidup baru yang bebas dari dosa. Namun, menerima pengampunan itu berarti kita juga harus berani menolak godaan duniawi yang menjauhkan kita dari identitas kita sebagai anak-anak Allah yang terkasih.
Dalam bacaan pertama, Nabi Yehezkiel membawa pesan pedih bagi para buangan di Babel tentang nasib Yehuda dan Yerusalem. Kehancuran yang mereka alami bukanlah karena Tuhan kejam, melainkan buah dari pilihan mereka sendiri. Mereka mengandalkan kekuatan dunia, menyembah berhala, dan menulikan telinga dari panggilan Tuhan. Padahal, Allah begitu sabar. Ia senantiasa memelihara mereka, mengutus hamba-hamba-Nya untuk menuntun mereka kembali, namun cinta itu bertepuk sebelah tangan.
Kisah bangsa Israel ini menemukan gaungnya dalam perumpamaan Injil hari ini—tentang seorang hamba yang diampuni utangnya yang luar biasa besar, tetapi ia menolak mengampuni utang kecil temannya. Perumpamaan ini adalah teguran halus namun tajam bagi kita. Tuhan telah membebaskan kita dari utang dosa yang tak mungkin kita bayar sendiri. Ia mengampuni kita berulang kali. Namun, seberapa sering kita justru bertindak seperti hamba yang jahat itu? Kita menyimpan dendam, menghakimi sesama, dan enggan memaafkan kesalahan kecil saudara kita.
Tuhan setia pada janji-Nya, meskipun kita sering kali tidak tahu berterima kasih. Ia menanti kita kembali dengan pertobatan yang tulus. Jangan biarkan belas kasih-Nya berhenti hanya pada diri kita; biarkan pengampunan itu mengalir kepada sesama.
Semoga Allah yang Mahabaik senantiasa menuntun langkah kita. Semoga rahmat-Nya memampukan kita untuk hidup tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi menjadi perpanjangan tangan kasih Tuhan—memuliakan Dia dalam setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan kita, hari ini dan selamanya. Amin.
Marilah kita mohon..
Tuhan, dengarkanlah doa kami.
Tuhan, dengarkanlah doa kami.




