Bacaan I: Ayb 9:1-12.14-16 "Masakan manusia benar di hadapan Allah?"
Mazmur Tanggapan: Mzm 88:10bc-11.12-13.14-15 "Semoga doaku sampai ke hadirat-Mu, ya Tuhan."
Bait Pengantar Injil: Flp 3:8-9 "Segala sesuatu kuanggap sebagai sampah, agar aku memperoleh Kristus dan bersatu dengan-Nya."
Bacaan Injil: Luk 9:57-62 "Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi."
Mazmur Tanggapan: Mzm 88:10bc-11.12-13.14-15 "Semoga doaku sampai ke hadirat-Mu, ya Tuhan."
Bait Pengantar Injil: Flp 3:8-9 "Segala sesuatu kuanggap sebagai sampah, agar aku memperoleh Kristus dan bersatu dengan-Nya."
Bacaan Injil: Luk 9:57-62 "Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi."
warna liturgi putih
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
![]() |
| Credit: wideonet/istock.com |
Setiap kali kita berbicara tentang Allah di depan umum, kita akan berbicara dengan penuh hormat dan menggunakan bahasa yang santun, terutama dalam doa bersama. Namun, saat kita memeriksa batin, kita mungkin harus mengakui bahwa sikap kita tidak selalu demikian hormatnya. Terutama dalam ruang pribadi, kita cenderung bersikap lebih akrab dengan Allah. Dan ketika hidup dilanda kekacauan serta segala sesuatu terasa hancur berantakan, percakapan kita dengan Allah bisa menjadi tajam dan terus terang. Bisa jadi kita merasa marah kepada Allah, bahkan menuntut penjelasan dari-Nya, atau sampai pada titik menuduh Allah tidak mendengarkan dan tidak mengabulkan doa-doa kita.
Dalam bacaan pertama, saat Ayub berbicara tentang Allah di hadapan teman-temannya, ia sungguh menunjukkan rasa hormat kepada Allah dan mengakui kemahakuasaan-Nya dalam segala aspek. Ayub menyadari posisinya di hadapan Allah; ia tahu bahwa dirinya hanyalah makhluk ciptaan dan tidak memiliki dasar untuk menggugat Allah, meskipun ia mungkin tidak memahami alasan di balik penderitaannya. Demikianlah cara Ayub menggambarkan Allah di hadapan teman-temannya, dan hal itu juga mencerminkan keyakinan imannya akan Allah.
Apa yang dikatakan Ayub tentang Allah dalam bacaan pertama itu sungguh patut menjadi bahan permenungan dan refleksi bagi kita. Meskipun Allah senantiasa mengampuni kita saat kita bersikap kurang hormat atau bahkan berani menentang-Nya, marilah kita memohon kepada Tuhan Allah agar menganugerahi kita hati yang rendah hati dan penuh penyesalan. Dengan demikian, saat kita berbicara tentang Allah kepada orang lain, mereka pun akan mengetahui keyakinan iman kita akan Allah.
Dalam bacaan pertama, saat Ayub berbicara tentang Allah di hadapan teman-temannya, ia sungguh menunjukkan rasa hormat kepada Allah dan mengakui kemahakuasaan-Nya dalam segala aspek. Ayub menyadari posisinya di hadapan Allah; ia tahu bahwa dirinya hanyalah makhluk ciptaan dan tidak memiliki dasar untuk menggugat Allah, meskipun ia mungkin tidak memahami alasan di balik penderitaannya. Demikianlah cara Ayub menggambarkan Allah di hadapan teman-temannya, dan hal itu juga mencerminkan keyakinan imannya akan Allah.
Apa yang dikatakan Ayub tentang Allah dalam bacaan pertama itu sungguh patut menjadi bahan permenungan dan refleksi bagi kita. Meskipun Allah senantiasa mengampuni kita saat kita bersikap kurang hormat atau bahkan berani menentang-Nya, marilah kita memohon kepada Tuhan Allah agar menganugerahi kita hati yang rendah hati dan penuh penyesalan. Dengan demikian, saat kita berbicara tentang Allah kepada orang lain, mereka pun akan mengetahui keyakinan iman kita akan Allah.




