| Home | Indonesian Papist | Renungan Pagi| Doa Umat Misa Harian | Privacy Policy | Support Lumen Christi |



Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

November 03, 2026

Rabu, 04 November 2026 Peringatan Wajib St. Karolus Borromeus, Uskup

Bacaan I: Flp 2:12-18 "Kerjakanlah keselamatanmu, Allahlah yang mengerjakan dalam dirimu, baik kemauan maupun pelaksanaan."
       
Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1.4.13-14 "Tuhan adalah terang dan keselamatanku."

Bait Pengantar Injil: 1 Ptr 4:14  "Berbahagialah kalian, bila dinista karena nama Kristus, sebab Roh Allah ada padamu."
 
Bacaan Injil: Luk 14:25-33 "Yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi milik-Ku."
 
warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
 
Karya: thanasus/istock.com
 

Bayangkan seorang maestro lukis yang sangat terkenal. Setiap kali ia mengadakan pameran, ribuan orang berbondong-bondong datang untuk mengagumi karyanya. Mereka memuji, mengambil foto, dan dengan bangga menyebut diri mereka sebagai penggemar berat sang maestro. Namun, di antara ribuan penggemar itu, hanya ada satu atau dua orang yang rela datang ke studionya setiap hari sejak subuh, tangannya kotor oleh cat, dan bersedia menerima didikan yang keras demi belajar melukis langsung dari sang guru. Para penggemar hanya ingin menikmati hasil karyanya dan berada di dekat kepopulerannya, tetapi seorang murid magang menyerahkan hidup dan waktunya untuk dibentuk oleh sang maestro. Perbedaan kontras antara penggemar dan murid ini membawa kita pada sebuah perenungan yang sama tentang panggilan Yesus: Apa perbedaan antara sekadar menjadi pengikut dan menjadi seorang murid?

Pada masa pelayanan-Nya, banyak orang mengikuti Yesus karena terpukau oleh mukjizat atau sekadar mencari berkat dan kesembuhan. Namun, Yesus tidak pernah terbuai oleh seberapa besar kerumunan yang mengikuti-Nya. Ia jauh lebih tertarik pada siapa yang sungguh-sungguh bersedia memikul salib dan menjadi murid-Nya. Menjadi murid Yesus berarti melangkah lebih jauh dari sekadar berada di dalam keramaian; itu berarti bersedia belajar dari-Nya, menyerahkan segala kenyamanan, dan menjadikan-Nya sebagai pusat sekaligus satu-satunya Tuhan atas hidup kita.

Tuntutan penyerahan diri ini begitu serius sehingga Yesus menggunakan bahasa yang sangat tegas, bahkan mensyaratkan seseorang untuk "membenci" keluarganya jika ingin mengikut Dia. Kata "membenci" di sini tentu tidak boleh ditafsirkan secara emosional atau relasional sebagai dorongan untuk bermusuhan. Sebaliknya, Tuhan Yesus sedang berbicara murni dalam konteks prioritas dan kesetiaan mutlak. Dalam gaya bahasa budaya saat itu, "membenci" dipahami sebagai mengasihi dengan kadar yang jauh lebih rendah. Tuhan Yesus sama sekali tidak bermaksud agar kita memusuhi orang tua atau anggota keluarga kita, melainkan menegaskan bahwa kasih dan ketaatan kita kepada-Nya harus berada di tempat yang paling tinggi, melampaui ikatan apa pun di dunia ini.

Pada akhirnya, ketika kita menempatkan Tuhan Yesus sebagai prioritas yang tertinggi, hal itu justru akan menyempurnakan cara kita berhubungan dengan orang lain. Kasih kita yang utuh kepada Tuhan akan tercermin dalam kasih kita kepada sesama—sebuah kasih yang murni, yang tidak melukai, tidak mencelakai, dan tidak menyimpan kebencian. Itulah kasih yang penuh pengorbanan, yang menjadi tanda pengenal utama dari seorang murid Yesus yang sejati. Oleh karena itu, harga untuk mengikut Dia harus dipertimbangkan dengan saksama. Panggilan ini menuntut segalanya dari kita, sebab untuk menjadi seorang murid, pilihannya tidak bisa setengah-setengah.

lumenchristi.id 2026 - Situs ini menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan menggunakan situs ini, Anda telah menyetujui penggunaan cookies dari Kami.