Bacaan I: Kel 22:21-27 "Jika kamu menindas seorang janda atau anak yatim, maka murka-Ku akan bangkit, dan Aku akan membunuh kamu."
Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-3a.3bc.47.51ab; Ul: 2 "Aku mengasihi Engkau, ya Allah, kekuatanku."
Bacaan II: 1Tes 1:5c-10 "Kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk mengabdi kepada Allah dan menantikan kedatangan Anak-Nya."
Bait Pengantar Injil: Yoh 14:23 "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan mentaati sabda-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya."
Bacaan Injil: Mat 22:34-40 "Kasihilah Tuhan Allahmu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-3a.3bc.47.51ab; Ul: 2 "Aku mengasihi Engkau, ya Allah, kekuatanku."
Bacaan II: 1Tes 1:5c-10 "Kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk mengabdi kepada Allah dan menantikan kedatangan Anak-Nya."
Bait Pengantar Injil: Yoh 14:23 "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan mentaati sabda-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya."
Bacaan Injil: Mat 22:34-40 "Kasihilah Tuhan Allahmu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
Banyak hal di dunia ini hanya dapat berfungsi jika memiliki unsur esensial di dalamnya. Layaknya sebuah mobil yang membutuhkan bensin atau perangkat elektronik yang bergantung pada aliran listrik, kondisi prima dari komponen lainnya menjadi tidak berarti tanpa kehadiran penggerak utamanya. Sebaliknya, meski ada bagian yang aus atau sedikit rusak, suatu hal tetap bisa beroperasi selama unsur mendasarnya masih utuh. Oleh karena itu, mengenali apa yang benar-benar penting dan esensial dalam hidup menjadi sebuah langkah yang krusial, baik melalui hal-hal yang tampak jelas di depan mata maupun yang membutuhkan perenungan lebih dalam.
Pencarian akan hal yang esensial ini tercermin dengan sangat indah dalam Injil, tepatnya ketika seorang Farisi bertanya kepada Yesus tentang hukum yang terutama dalam Taurat. Pertanyaan ini mungkin terasa janggal, mengingat jawabannya sudah sangat jelas bagi mereka yang mempelajari hukum, sehingga niat di baliknya cenderung sekadar untuk mengusik atau menjebak. Kelompok Farisi sebenarnya bisa belajar dari peristiwa sebelumnya, di mana Yesus membungkam kelompok Saduki yang mencoba menjebak-Nya dengan isu pajak melalui jawaban yang sangat menggugah pikiran. Namun, justru dari pertanyaan yang didasari niat kurang bijak ini, kita dianugerahi hikmat untuk memahami fondasi paling mendasar dari kehidupan rohani kita.
Pencarian akan hal yang esensial ini tercermin dengan sangat indah dalam Injil, tepatnya ketika seorang Farisi bertanya kepada Yesus tentang hukum yang terutama dalam Taurat. Pertanyaan ini mungkin terasa janggal, mengingat jawabannya sudah sangat jelas bagi mereka yang mempelajari hukum, sehingga niat di baliknya cenderung sekadar untuk mengusik atau menjebak. Kelompok Farisi sebenarnya bisa belajar dari peristiwa sebelumnya, di mana Yesus membungkam kelompok Saduki yang mencoba menjebak-Nya dengan isu pajak melalui jawaban yang sangat menggugah pikiran. Namun, justru dari pertanyaan yang didasari niat kurang bijak ini, kita dianugerahi hikmat untuk memahami fondasi paling mendasar dari kehidupan rohani kita.




