Bacaan I: Gal 4:31b-5:6 "Sunat tidak berarti sama sekali; yang berarti hanyalah iman yang bekerja melalui cinta kasih."
Mazmur Tanggapan: Mzm 119:41.43-45.47.48 "Semoga kasih setia-Mu mendatangi aku, ya Tuhan."
Bait Pengantar Injil: Ibr 4:12 "Sabda Allah itu hidup dan penuh daya, menguji segala pikiran dan maksud hati."
Bacaan Injil: Luk 11:37-41 "Berikanlah sedekah dan semuanya menjadi bersih."
Mazmur Tanggapan: Mzm 119:41.43-45.47.48 "Semoga kasih setia-Mu mendatangi aku, ya Tuhan."
Bait Pengantar Injil: Ibr 4:12 "Sabda Allah itu hidup dan penuh daya, menguji segala pikiran dan maksud hati."
Bacaan Injil: Luk 11:37-41 "Berikanlah sedekah dan semuanya menjadi bersih."
Seringkali kita merasa aman dan nyaman saat hidup berjalan sesuai dengan aturan dan petunjuk yang ada, sebab ketaatan semacam itu seakan menjanjikan kebebasan dari kesalahan maupun masalah. Kenyamanan ini bahkan kerap membuat kita terbuai hingga mudah merasa gelisah, kesal, atau bersikap defensif ketika melihat ada orang lain yang mengabaikan atau mempertanyakan aturan tersebut. Kecenderungan manusiawi yang terpaku pada aturan luar inilah yang tergambar jelas ketika seorang Farisi merasa terheran-heran melihat Yesus tidak mencuci tangan sebelum makan. Dalam hal ini, Yesus sama sekali tidak bermaksud meremehkan kebiasaan baik tersebut, melainkan Ia ingin mengajak kita menyelami makna yang lebih esensial. Ia mengingatkan bahwa rutinitas menjaga kebersihan lahiriah seharusnya menjadi cermin yang memantulkan kerinduan kita akan kebersihan batin dan kemurnian rohani.
Kesadaran akan pentingnya batin yang murni ini beresonansi dengan sangat indah melalui pesan Rasul Paulus, yang menegaskan bahwa inti dari segalanya adalah iman yang bekerja melalui kasih. Apabila hati kita sungguh-sungguh bersih, iman kita tidak akan sekadar berhenti pada ketaatan yang kaku, melainkan akan memancar keluar secara alami melalui tindakan-tindakan nyata yang penuh kasih. Pada akhirnya, kasih itulah yang akan memurnikan niat kita dalam mengikuti petunjuk kehidupan dengan tulus, sekaligus memampukan kita untuk membimbing sesama dengan penuh kelembutan, bukan dengan penghakiman.




