Bacaan I: Ef 4:7-16 "Kristuslah kepada tubuh, dan daripadanya seluruh tubuh menerima pertumbuhannya."
Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-2.3-4a.4b-5 "Aku bersukacita, ketika orang berkata kepadaku, "Mari kita pergi ke rumah Tuhan."
Bait Pengantar Injil: Yeh 33:11 "Tuhan telah berfirman, "Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan kepada pertobatannya supaya ia hidup."
Bacaan Injil: Luk 13:1-9 "Jikalau kalian semua tidak bertobat, kalian pun akan binasa dengan cara demikian."
Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-2.3-4a.4b-5 "Aku bersukacita, ketika orang berkata kepadaku, "Mari kita pergi ke rumah Tuhan."
Bait Pengantar Injil: Yeh 33:11 "Tuhan telah berfirman, "Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan kepada pertobatannya supaya ia hidup."
Bacaan Injil: Luk 13:1-9 "Jikalau kalian semua tidak bertobat, kalian pun akan binasa dengan cara demikian."
warna liturgi hijau
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
Karya: 279photo/istock.com
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, sering kali kita menyadari bahwa kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mendengar pesan yang belum siap mereka terima. Namun pada saat yang sama, kita tidak boleh meremehkan kuasa dari menanam benih. Benih tersebut adalah Kabar Baik, Injil, sebuah pesan keselamatan yang luar biasa dan realitas penuh kuasa yang mewujud dalam diri Yesus Kristus, Sang Juruselamat. Ia datang ke dunia untuk mewartakan kasih Allah yang menyelamatkan, menyentuh kehidupan manusia secara utuh, baik melalui perkataan maupun perbuatan-Nya.
Karya keselamatan ini diawali oleh Tuhan Yesus dengan sebuah panggilan yang mendasar, yakni seruan akan perlunya pertobatan sebagai jalan pembuka agar hati seseorang dimampukan untuk menerima Kabar Baik. Di lembaran-lembaran Injil, seruan pertobatan ini terus ditekankan dan diulang kembali, meskipun kita tahu bahwa ajakan ini bukanlah pesan yang mudah atau nyaman untuk didengar. Pertobatan menuntut kerendahan hati kita untuk menanggalkan kesombongan diri dan mengakui realitas bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang sangat bergantung pada belas kasih Allah. Dalam pewartaannya, tentu ada hati yang akan menanggapi seruan tersebut, sementara yang lain mungkin belum tersentuh, namun apa pun tanggapannya, benih kebenaran itu telah tertanam.
Pada akhirnya, menjadi sebuah doa dan harapan agar seruan untuk bertobat ini tidak berhenti di telinga, melainkan sungguh-sungguh menghasilkan buah pertobatan yang sejati di dalam diri kita. Melalui buah pertobatan itulah kita pada akhirnya dimampukan untuk melangkah keluar sebagai saksi-saksi-Nya yang hidup, meneruskan seruan pertobatan sekaligus membawa Kabar Baik keselamatan bagi sesama, memancarkan kasih-Nya melalui setiap perkataan dan perbuatan kita sehari-hari.
Karya keselamatan ini diawali oleh Tuhan Yesus dengan sebuah panggilan yang mendasar, yakni seruan akan perlunya pertobatan sebagai jalan pembuka agar hati seseorang dimampukan untuk menerima Kabar Baik. Di lembaran-lembaran Injil, seruan pertobatan ini terus ditekankan dan diulang kembali, meskipun kita tahu bahwa ajakan ini bukanlah pesan yang mudah atau nyaman untuk didengar. Pertobatan menuntut kerendahan hati kita untuk menanggalkan kesombongan diri dan mengakui realitas bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang sangat bergantung pada belas kasih Allah. Dalam pewartaannya, tentu ada hati yang akan menanggapi seruan tersebut, sementara yang lain mungkin belum tersentuh, namun apa pun tanggapannya, benih kebenaran itu telah tertanam.
Pada akhirnya, menjadi sebuah doa dan harapan agar seruan untuk bertobat ini tidak berhenti di telinga, melainkan sungguh-sungguh menghasilkan buah pertobatan yang sejati di dalam diri kita. Melalui buah pertobatan itulah kita pada akhirnya dimampukan untuk melangkah keluar sebagai saksi-saksi-Nya yang hidup, meneruskan seruan pertobatan sekaligus membawa Kabar Baik keselamatan bagi sesama, memancarkan kasih-Nya melalui setiap perkataan dan perbuatan kita sehari-hari.




