| Home | Indonesian Papist | Renungan Pagi| Doa Umat Misa Harian | Privacy Policy | Support Lumen Christi |



Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Oktober 15, 2026

Jumat, 16 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXVIII

 

Credit: Avalon_Studio/istock.com

Bacaan I: Ef 1:11-14 "Kami sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus dan kalian pun telah dimeteraikan dengan Roh Kudus."​

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3.4-5.6-7.8-9.10-11 "Aku hendak memuji Tuhan setiap waktu."

Bait Pengantar Injil: Mzm 33:22 "Tunjukkanlah kiranya kasih-setia-Mu, ya Tuhan, sebab pada-Mulah kami berharap."

Bacaan Injil: Luk 12:1-7 "Rambut kepalamu terhitung semuanya."
 
warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
      

Mengatakan bahwa kita adalah pengikut Kristus tentu bukanlah sebuah klaim yang sepele. Pada mulanya, Allahlah yang memanggil kita; iman yang kita miliki sejatinya adalah anugerah murni dari-Nya. Sebagaimana janji keselamatan yang kita dengar, di dalam Kristus kita diangkat menjadi anak-anak Allah dan dimeteraikan oleh Roh Kudus untuk melangkah menuju warisan kekal. Namun, iman ini bukanlah sesuatu yang harus kita teriakkan di sudut-sudut jalan untuk menyombongkan diri atau sekadar menghakimi kepercayaan orang lain. Iman adalah anugerah spiritual yang menuntut tanggung jawab untuk dihidupi dalam keseharian.

Dalam pandangan dunia, kehidupan kita sebagai umat Katolik mungkin tampak biasa-biasa saja. Namun, di balik rutinitas yang sederhana itu, ada sebuah karya rohani yang luar biasa sedang berlangsung. Pesan kebenaran dan Injil keselamatan justru mewujud paling nyata melalui cara kita bertindak, mengasihi, dan melayani. Kasih Allah yang berdiam di dalam diri kita semestinya memancar keluar, memperlihatkan wajah Yesus kepada dunia. Sayangnya, pancaran kasih ini sering kali meredup, tertutup oleh kabut dosa dan kemunafikan kita sendiri—terutama ketika kita mempersempit makna "sesama" dan menutup mata terhadap jeritan ciptaan Tuhan yang lain.

Sebagai anak-anak Allah, panggilan untuk mengasihi tidak hanya terbatas pada interaksi antarmanusia, tetapi juga mencakup seluruh alam ciptaan yang menjadi rumah bersama kita. Sangatlah munafik jika kita mengaku mencintai Sang Pencipta, namun pada saat yang sama kita abai, membiarkan, atau bahkan turut andil dalam dosa perusakan lingkungan. Lihatlah bagaimana keserakahan manusia memicu pembakaran hutan yang membabi buta demi keuntungan sesaat. Api yang melahap pepohonan itu bukanlah sekadar bencana ekologis biasa; itu adalah dosa besar yang secara langsung menghancurkan karya agung Allah. Asap pekat yang membubung dari hutan yang terbakar sejatinya adalah perwujudan fisik dari keegoisan kita yang mencekik kehidupan, merampas hak napas sesama, meminggirkan masyarakat adat, dan membunuh makhluk-makhluk tak bersalah. Setiap hamparan alam yang dihanguskan karena ketamakan adalah tragedi iman, sebuah bukti nyata bahwa kita telah gagal menjalankan mandat ilahi untuk menjadi penjaga dan pemelihara bumi.

lumenchristi.id 2026 - Situs ini menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan menggunakan situs ini, Anda telah menyetujui penggunaan cookies dari Kami.